RADAR PURWOREJO - Wayang memang terkenal dengan alur cerita yang kompleks dan penuh dengan simbolisme, sehingga memerlukan perhatian khusus bagi siapa pun yang ingin memahaminya secara mendalam.
Salah satu kisah menarik yang mengandung unsur reinkarnasi adalah kisah antara Bisma dan Srikandi.
Kedua tokoh ini, dalam cerita pewayangan, ternyata sudah memiliki kehidupan sebelumnya yang penuh dengan drama dan tragedi, menjadikan mereka pusat perhatian dalam epos Mahabharata.
Dalam dunia pewayangan, Dewi Srikandi sebenarnya telah ditakdirkan untuk menjadi penyebab kematian Bisma, seorang pangeran dari Dinasti Kuru.
Menariknya, takdir ini sudah tertulis jauh sebelum Srikandi lahir ke dunia.
Srikandi adalah reinkarnasi dari Dewi Amba, seorang putri yang pada kehidupan sebelumnya menutup mata dengan hati yang dipenuhi dendam terhadap Bisma.
Kisah ini bermula dari Amba, putri sulung Prabu Darmahumbara, raja negara Giyantipura, dan Dewi Swargandini.
Amba, yang merupakan tokoh sentral dalam cerita ini, menghadapi nasib tragis ketika ia terlibat dalam sayembara yang diadakan di Kerajaan Kasi.
Bisma, pangeran dari Hastinapura, berhasil memenangkan Amba dalam sayembara tersebut dan membawanya pulang ke Hastinapura dengan niat menjodohkannya dengan adik tirinya, Wicitrawirya.
Namun, setibanya di Hastinapura, Amba mengungkapkan bahwa ia telah memilih Raja Salwa sebagai calon suaminya.
Tidak ingin memaksakan kehendak, Bisma memulangkan Amba agar ia dapat menikah dengan Raja Salwa.
Namun, Raja Salwa yang merasa harga dirinya diinjak oleh Bisma, menolak untuk menikahi Amba.
Dalam keputusasaan, Amba kembali ke Hastinapura dengan harapan Bisma akan menikahinya.
Namun, Bisma tetap teguh pada sumpahnya untuk hidup selibat dan menolak Amba.
Penolakan ini semakin membuat hati Amba hancur dan ia merasa sangat terhina.
Dalam usahanya untuk membalas dendam, Amba meminta bantuan para kesatria di Bharatawarsha untuk menundukkan Bisma, tetapi tak satu pun dari mereka yang berani melawan sang pangeran.
Amba kemudian memohon bantuan Parasurama, guru Bisma, tetapi bahkan Parasurama tidak mampu memaksa Bisma untuk menikahinya, meskipun dengan kekerasan.
Putus asa, Amba berdoa kepada para dewa agar diberikan cara untuk mengalahkan Bisma.
Dewa Subramanya mendengar doa Amba dan memberikan puspamala (karangan bunga sakti), dengan janji bahwa siapa pun yang bersedia memakainya akan berhasil membunuh Bisma.
Namun, meskipun ada jaminan dari sang dewa, tak ada kesatria yang berani menerima puspamala tersebut.
Dengan hati yang semakin hancur, Amba akhirnya tiba di istana Raja Drupada, tetapi lagi-lagi ia menghadapi penolakan.
Dalam keputusasaan yang mendalam, Amba melemparkan puspamala itu ke gerbang istana dan meninggalkannya.
Ia kemudian melanjutkan perjalanannya dan memohon kepada Dewa Siwa untuk memberinya kekuatan membunuh Bisma.
Dewa Siwa mengabulkan permohonannya, tetapi dengan satu syarat yaitu pembunuhan Bisma tidak akan terjadi dalam kehidupan Amba saat itu, melainkan di kehidupan selanjutnya.
Amba pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dengan keyakinan penuh bahwa ia akan terlahir kembali sebagai pembunuh Bisma.
Benar saja, Amba kemudian bereinkarnasi sebagai Srikandi, putri Raja Drupada, yang kelak akan menjadi penyebab kematian Bisma dalam pertempuran besar Bharatayudha.
Kisah reinkarnasi antara Amba yang terlahir kembali sebagai Srikandi dan dendamnya yang berlanjut hingga kematian Bisma ini, menunjukkan betapa takdir dan karma memainkan peran penting dalam cerita pewayangan.
Dalam setiap perputaran roda kehidupan, ada harga yang harus dibayar, dan bagi Srikandi, takdirnya telah ditentukan sejak kehidupan sebelumnya.
Editor : Winda Atika Ira Puspita