RADAR PURWOREJO - Wayang beber salah satu wayang khas dari Jawa lebih tepatnya Jawa Timur.
Wayang ini merupakan salah satu wayang tertua di Indonesia.
Dalam pertunjukannya, wayang beber ditampilkan dengan cara dibeber atau digelar.
Awal ditemukan wayang beber ini mengadopsi cerita relief-relief candi yang dikenal dengan wayang watu.
Kisah yang ada di Relief candi kemudian diangkat menjadi kisah dari wayang beber.
Selain kisah yang ada di relief wayang beber juga mengangkat kisah-kisah seperti Ramayana, Mahabarata dan lain sebagainya.
Bahkan dahulu wayang ini digunakan untuk menyebarkan agama.
Wayang ini juga merupakan inovasi paling baru dari wayang watu.
Wayang beber pertama kali menggunakan media kertas dari zaman Prabu Surya amilur dari Kerajaan Jenggala.
Media kertas yang digunakan terbuat dari kulit Kayu Dluwang.
Pada zaman majapahit, wayang ini berkembang dengan tambahan tongkat panjang guna menggulung dan menampilkan cerita tiap Scene dalam pertunjukan.
Sejak saat itu wayang dimainkan dengan cara dibentangkan.
Wayang Beber Tertua
Wayang beber tertua yaitu wayang yang terletak di desa Gedompol, Pacitan yang merupakan wayang beber pertama yang diciptakan.
Wayang beber saat ini memiliki museum khusus yaitu museum mayang beber yang terletak di Sekartaji tepatnya di Gang Pancasila, Kanutan, Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY.
Museum ini didirikan pada 2017, dilatar belakangi besarnya kecintaan terhadap budaya Indonesia.
Meskipun namanya Museum Wayang Beber namun di sana juga terdapat berbagai macam wayang lain.
Dinamakan wayang beber karena keistimewaan wayang tersebut yang mengangkat cerita asli kearifan lokal.
Wayang beber dipacitan adalah milik Mbah Mardi, dari keterangan yang didapatkan wayang tersebut adalah hadiah yang diberikan oleh raja Brawijaya yang kemudian diwariskan secara turun temurun hingga kepada beliau.
Ada beberapa versi dari masing-masing daerah yang menjelaskan tentang pewarisan wayang ini.
Wayang beber berkembang mengikuti zaman.
Beberapa seniman membuatnya dengan berbagai versi cerita dan media, termasuk media kanvas.
Meski ada juga yang konsisten menggunakan Dluwang.
Salah satu wayang beber yang sudah divariasi adalah karya seniman ternama Subandi Giyanto, pada salah satu karyanya yang berjudul Pawukon Wayang Beber.
Pada karyanya itu beliau menggunakan cat acrylic di atas kanvas di karyanya tersebut beliau menggabungkan antara pewayangan wayang beber dan pawukon yang merupakan penanggalan Jawa. (Aina Puspita Ningrum)
Editor : Meitika Candra Lantiva