Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Memelihara Warisan Berharga, Wayang Sodo dari Gunungkidul DIY: Wayang Kearifan Lokal dan Sosok Mbah Marsono yang Melegenda

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 26 Juli 2024 | 22:01 WIB
DARI KIRI: Ayu salah satu murid Mbah Marsono, anak muda pelestari wayang sodo.
DARI KIRI: Ayu salah satu murid Mbah Marsono, anak muda pelestari wayang sodo.

RADAR PURWOREJO - Wayang merupakan warisan budaya Indonesia berwujud benda dan nilai kearifan lokal.

Secara visual, wayang berkembang dengan berbagai teknis pembuatan.

Misalnya saya wayang satu ini yang dibuat dari sodo atau lidi.

Wayang ini dikenal dengan julukan wayang sodo.

 

Wayang sodo pertama kali dipopulerkan oleh mbah Marsono, 77, warga Gunungkidul, DIY.

Wayang sodo tercipta dari kisah mbah Marsono saat masih kecil.

Sejak masih kecil mbah Marsono sudah tertarik dengan dalang dan pertunjukan wayang.

Namun karena keterbatasan ekonomi menyebabkan beliau tidak mampu untuk membeli wayang kulit yang harganya dapat dikatakan mahal bagi mbah Marsono kecil.

Namun keterbatasan tersebut tidak membuat semangat menjadi dalang mbak Marsono tidak padam.

Dia melakukan inovasi dari beberapa mainan wayang yang telah ada dengan membuat wayang sodo atau wayang sodo Bejiharjo, Karangmojo yang terbuat dari lidi yang dianyam dengan sedemikian rupa menjadi tokoh wayang.

Wayang sodo sendiri digunakan untuk pertunjukan wayang, hiasan dinding atau beberapa hanya digunakan sebagai pajangan saja.

Wayang sodo masih dipertunjukan di daerah Gunungkidul namun masih sedikit yang memainkan wayang tersebut.

Sehingga keberadaan wayang khas Yogyakarta ini terancam punah.

Mbah Marsono tentu saja bertambah tua dan membutuhkan penerus untuk dapat membuat karya seni ini, anak- anak mbah Marsono enggan untuk dapat melanjutkan pelestarian karya seni ini.

Sehingga membuat mbah Marsono mengadakan beberapa workshop untuk menggait para penerus dari pertunjukan wayang ini.

Pada tahun 2017 mbah Marsono berserta salah satu komunitas di Gunung kidul mengadakan pelatihan kesenian.

Mbah Marsono dikenal dengan Maestro Wayang Sodo dari Bumi Handayani.

Dalam kegiatan itu diikuti peserta, salah satunya dihadiri oleh Rofitasari Rahayu atau Ayu yang merupakan seorang difabel dengan penyandang tuna rungu dan tuna wicara.

Ayu tertarik dan menekuni kerajinan wayang lidi.

Hingga kini dia dikenal sebagai satu-satunya pewaris wayang sodo.


Menurut keterangan Mbah Marsono, Ayu merupakan anak yang tercepat belajar dalam pelatihan tersebut sehingga saat ini menjadikannya satu-satunya penerus dari wayang sodo ini.

Saat ini pesanan wayang Sodo Ayu mulai dikenal oleh banyak masyarakat dengan harga yang bervariatif dan dapat menyentuh jutaan rupiah tergantung jumlah dan tokoh yang di buat.

Perjalanan Ayu tentu saja tidak dapat dikatakan mulus, selain terlahir sebagai anak difable kondisi keluarganya juga tidak dapat dikatakan baik-baik saja. 

Apalagi semenjak terjadi musibah yang membuat usaha kedua orang tuanya gulung tikar, hal ini juga berdampak pada pendidikan Ayu yang terpaksa berhenti di jenjang kelas 3 SD.

Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, kini Ayu menjadi penyuplay mensuplay toko souvernir menjajakan hasil kreativitasnya untuk membantu ekonomi keluarga.

Serta memberikan pelatihan-pelatihan kepada anak muda dalam membuat wayang sodo, sehingga selain bermanfaat untuk dirinya ilmu membuat wayang sodo dari mbah Marsono juga bermanfaat untuk orang lain. (Aina Puspita Ningrum)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#pertunjukan wayang #Maestro Wayang Sodo #Ekonomi #kerajinan #kearifan lokal #Yogyakarta #Gunungkidul #Mbah Marsono #Melegenda #dianyam #Bumi Handayani #warisan #Budaya #Wayang #Rofitasari Rahayu #Tokoh wayang #Sosok #Wayang Sodo #lidi #Memelihara #berharga #Bejiharjo #Diy #Karangmojo