Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Dewa Lautan: Menelusuri Keterkaitan antara Sanghyang Baruna dengan Poseidon

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 28 Juli 2024 | 03:10 WIB
Illustrasi Sanghyang Baruna (Sumber: Pitoyo Wayang.com)
Illustrasi Sanghyang Baruna (Sumber: Pitoyo Wayang.com)

RADAR PURWOREJO – Dear Reader Radar, pada kesempatan kali ini kita akan kembali membahas mengenai tokoh yang ada dalam pewayangan jawa, tokoh ini dikenal dengan kekuatannya yang luar biasa, konon apapun yang ada di lautan akan tunduk pada tokoh ini, beliau adalah Sanghyang Baruna, atau beberapa teks menyebutnya Batara Baruna.

Sanghyang Baruna dalam serat Paramayoga adalah putera Dewi Gangga, cucu sanghyang Heramaya. Namun menurut Mahabharata, Batara Baruna adalah putra dari Maharesi Kasyapa yang lahir dari Dewi Aditi, putri Sanghyang Daksa, cucu Batara Brahma. Disebutkan pula bahwa Sanghyang Baruna merupakan garis keturunan Sanghyang Wenang.

Sanghyang Baruna juga diyakini sebagai dewa laut dalam kepercayaan Hindu-Buddha yang berkembang di Nusantara, terutama di Jawa dan Bali. Nama "Baruna" berasal dari dewa Varuna dalam mitologi Hindu India, yang juga merupakan dewa laut dan perairan. 

Sanghyang Baruna berkedudukan di Kahyangan yang ada di dasar samudra. Istrinya yang paling terkenal adalah Dewi Diwi dan Dewi Mitra. Sanghyang Baruna hanya memiliki satu keturunan yaitu Maharsi Agastya.

Sanghyang Baruna berperan sebagai penguasa lautan, sungai, dan segala sumber air. Dia dianggap sebagai pelindung para nelayan dan pelaut, serta penjamin kesejahteraan dan keselamatan mereka di laut. Selain itu, Sanghyang Baruna juga memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem air dan mendatangkan hujan, yang sangat penting untuk pertanian.

Dalam berbagai representasi seni tradisional, Sanghyang Baruna digambarkan sebagai sosok pria gagah berwibawa, dengan wajah tenang dan penuh kebijaksanaan. Ia seringkali ditampilkan duduk di atas ikan raksasa atau makhluk laut lainnya. Sanghyang Baruna juga digambarkan dengan atribut seperti trisula (trident), yang melambangkan kekuasaannya atas laut dan kekuatan yang dia miliki. Namun di beberapa lukisan Sanghyang Baruna dapat berubah wujud menjadi berwajah ikan serta memilki tubuh yang diselimuti dengan sisik.

Sanghyang Baruna memiliki kekuatan untuk mengendalikan air, termasuk laut, sungai, dan hujan. Ia dapat menenangkan badai, menimbulkan gelombang besar, dan memanggil hujan untuk mendukung pertanian. Kekuatan lain yang dimiliki Sanghyang Baruna adalah kemampuan untuk melindungi para pelaut dan nelayan dari bahaya laut serta memastikan hasil tangkapan yang melimpah.

Sanghyang Baruna terkenal dengan pusaka berupa cupu yang berisi banyu panguripan, yang artinya air tersebut dipercaya memiliki kemampuan untuk membangkitkan orang yang sudah mati. Dalam salah satu kisah pewayangan Sanghyang Baruna pernah memberikan pusaka cupu ini kepada Prabu Arjuna Sastrabahu, yang nantinya akan digunakan Prabu Arjuna Sastrabahu untuk menghidupkan kembali Dewi Citra Wati.

Filosofi Sanghyang Baruna berkaitan dengan keseimbangan dan keharmonisan alam. Sebagai dewa laut, dia mengajarkan pentingnya menjaga dan menghormati air sebagai sumber kehidupan. Filosofi ini mencakup penghormatan terhadap alam dan upaya untuk hidup selaras dengan lingkungan, serta kesadaran akan peran penting air dalam keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Salah satu cerita terkenal yang melibatkan Sanghyang Baruna adalah kisah "Naga Basuki dan Baruna". Dalam cerita ini, Naga Basuki, seekor naga yang juga dianggap sebagai penjaga air, meminta bantuan Sanghyang Baruna untuk menyelamatkan desa dari kekeringan. Dengan bantuan Baruna, Naga Basuki berhasil mengalirkan air ke desa tersebut, membawa kesejahteraan dan kehidupan kembali ke tanah yang kering.

Dalam serat Uttarakanda menyebutkan, Batara Baruna adalah dewa yang termasuk “Catur Lokapala”. (Lokapala 4 : Indra, Yama, baruna, Kuwer).

Sedangkan keterkaitannya dengan Dewa Poseidon, yakni dalam mitologi Yunani, adalah dewa laut yang memiliki peran dan atribut yang mirip dengan Sanghyang Baruna. Keduanya adalah penguasa laut dan air, serta memiliki kekuatan untuk mengendalikan badai dan gelombang. Mereka juga sama-sama dihormati oleh para pelaut dan nelayan.

Secara filosofi, baik Sanghyang Baruna maupun Poseidon mengajarkan pentingnya keseimbangan dan penghormatan terhadap laut sebagai sumber kehidupan. Keduanya juga digambarkan dengan atribut trisula, simbol kekuatan dan kekuasaan atas lautan.

Namun, meskipun ada kemiripan dalam peran dan atribut, Sanghyang Baruna dan Poseidon berkembang dalam konteks budaya dan mitologi yang sangat berbeda. Sanghyang Baruna adalah bagian dari kepercayaan Hindu-Buddha yang berasimilasi dengan budaya Nusantara, sementara Poseidon berasal dari mitologi Yunani yang berkembang di kawasan Mediterania. Kedua dewa ini menunjukkan bagaimana tema-tema universal tentang kekuatan alam dan kebutuhan manusia untuk menghormati dan memahami lautan muncul dalam berbagai budaya di seluruh dunia.

(Rumyanah Irvadia)

Sumber : 

https://www.pitoyo.com/duniawayang/galery/categories.

Chanel Youtube : Hindu Channel

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Poseidon #serat Uttarakanda #Sanghyang Baruna #Tokoh wayang #mitologi Yunani