RADAR PURWOREJO - Wayang suluh yakni wayang kulit dengan tokoh yang menggambarkan kehidupan sehari-hari.
Wayang suluh, secara visualnya dibuat layaknya manusia sungguhan. Tidak ada deformasi tertentu, artinya real berwujud manusia.
Tokoh dalam wayang inipun merupakan tokoh yang sering kita jumpai seperti kepala sekolah, ibu guru, anak sekolah dan lain sebagainya.
Cerita yang diangkat juga merupakan cerita permasalahan sehari-hari seperti cerita keluarga, sekolah, masyarakat hingga masyarakat pedesaan, cerita-cerita tersebut dikemas dengan sederhana sesuai keadaan masyarakat saat itu.
Dalam sejarahnya wayang ini diciptakan sebagai salah satu media penyebaran informasi pada zaman revolusi.
Wayang ini juga dipercaya sebagai media pemerintah dalam menanamkan sifat cinta tanah air, persatuan dan kesatuan sebagai akibat dari peristiwa agresi militer yang dilakukan oleh Belanda.
Wayang suluh pertamakali dikenalkan pada 10 Maret 1974 oleh Bapak Sukemi, seorang karyawan Departemen Penerangan Madiun dan dipertunjukan di Gedung Balai Rakyat madiun.
Durasi dari setiap pertunjukan yang ditampilkan relatif beragam ada yang hanya 2-3 jam, 3-4 jam bahkan ada yang berlangsung selama 6 jam dan biasanya dilaksanakan di saat sore hingga malam hari.
Awalnya aktor dan cerita dari wayang suluh berisikan poin-poin tentang pahlawan kemerdekaan seperti Moh Hatta dan Ir Soekarno serta menceritakan kisah kisah perjuangan kemerdekaan, namun seiring berjalannya waktu fungsi dari wayang ini memiliki perkembangan yaitu menjadi perantara pemerintah dan rakyatnya.
Wayang ini kemudian menjadi sarana sosialisasi atas program-program pemerintah dan tokoh-tokohnya berganti menjadi Pejabat, Polisi, dan lain sebagainya.
Seperti namanya wayang suluh digunakan sebagai media untuk penyuluhan.
Baca Juga: Peran Anoman dalam Misi Penyelamatan Dewi Sinta, Anoman Lebih dari Sekadar Utusan
Wayang yang berarti secercah cahaya ini cukup berhasil dalam membantu masyrakat Indonesia untuk dapat berkembang lebih baik lagi.
Oleh karena itu meskipun masyarakat Indonesia sudah mengalami perkembangan dan dapat menerima informasi dari berbagai media namun beberapa kali wayang ini tetap digunakan.
Terlepas dari segala pembaruan yang terjadi wayang ini harus tetap dilestarikan. (Aina Puspita Ningrum)
Editor : Meitika Candra Lantiva