RADAR PURWOREJO - Wayang kulit merupakan wayang yang disebarkan dan diciptakan oleh Indonesia.
Wayang awalnya diciptakan sebagai bentuk dari salah satu ritual pemujaan.
Wayang kulit sendiri telah diresmikan oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia pada 7 November 2003.
Namun hal wayang ini diklaim negara lain.
Bahkan tidak jarang perusahaan besar seperti Adidas pun menuliskan bahwa inspirasinya adalah wayang dari Malaysia.
Malaysia dianggap sebagai negara tetangga yang sering kali mengklaim kebudayaan Indonesia seperti Rendang, Batik bahkan Wayang.
Kita tentu tidak asing dengan kartun Malaysia yang sering kali ditonton oleh anak-anak yaitu film Upin dan Ipin, film ini menceritakan tentang 2 anak kembar bernama Upin dan Ipin yang tinggal bersama neneknya yang dipanggil opah dan kakak perempuannya yang Bernama kak ros yang tinggal disebuah desa.
Film ini disediakan dengan sederhana dan menarik sehingga mudah untuk diterima oleh anak-anak dan menarik untuk ditonton.
Disalah satu episode yang ditayangkan pada tahun 2021, Upin-Ipin mengenalkan seorang legenda pewayangan bernama Tok Mat , mengajarkan Upin-Ipin dan teman temannya untuk dapat membuat wayang, menampilkan sedikit pertunjukan wayang serta memberikan pengetahuan pentingnya melestarikan kebudayaan ini.
Moral yang terkandung didalam cerita ini sangat baik untuk ditanamkan untuk anak-anak dan menumbuhkan kecintaan kepada wayang kulit agar tidak punah.
Namun cukup disayangkan tampilan ini di sajikan oleh negara tetangga yaitu malaysia bukan dari tanah air.
Baca Juga: Cerita di Balik Batik Kawung, Batik yang Menyerupai Buah Kawung atau Buah Aren
Wayang sebenarnya juga ada di Malaysia namun bila diulik kembali, wayang berasal dari Jawa.
Wayang dikenal di Malaysia, dikarenakan dahulu para pekerja Indonesia yang tinggal di Jawa menyebarkan budaya tersebut hingga ke Malaysia bahkan ke negara lain seperti Vietnam.
Hal ini juga dapat menjadi koreksi bagi bangsa kita sendiri dimana budaya kita seperti wayang kulit ini justru lebih disukai dan dijaga ke eksisannya di luar negeri dan film ini memberikan inspirasi baru dalam menyebarkan budaya kepada anak-anak sejak dini. (Aina Puspita Ningrum)
Editor : Meitika Candra Lantiva