Meskipun serupa dengan pertunjukan yang ditemukan di Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri pada Jathilan sesuai dengan budaya dan karakter sosial setempat.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jathilan memiliki berbagai bentuk dan gaya yang berbeda antara kabupaten dan kota.
Secara umum, Jathilan melibatkan kuda yang terbuat dari anyaman bambu, dengan penari yang memerankan peran kuda dan diiringi musik yang menambah kemeriahan pertunjukan.
Salah satu elemen khas dari Jathilan adalah adegan trance atau kesurupan, di mana para penari tampak seperti dirasuki roh halus.
Hal ini menambah sisi eksotis dari pertunjukan yang sudah kaya akan atraksi tarian, musik, dan gerakan kuda.
Jathilan tidak sekadar hiburan, tetapi juga memiliki akar ritual yang dalam.
Sebelum pengaruh agama Hindu memasuki Pulau Jawa, masyarakat setempat telah melakukan berbagai ritual yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap kekuatan roh dan binatang totem.
Dalam Jathilan, kuda yang terbuat dari anyaman bambu dipercaya sebagai totem yang dikenal dengan nama Sang Hyang Jaran.
Kuda ini diyakini memiliki kekuatan magis untuk mengusir roh jahat atau melindungi desa dari bencana.
Seiring berjalanny waktu, Jathilan telah mengalami transformasi dari bentuk ritual ke bentuk hiburan.
Masyarakat kini lebih melihat kehadiran roh dalam Jathilan sebagai bagian dari atraksi pertunjukan, sementara aspek ritualnya semakin berkurang.
Dengan demikian, Jathilan telah berkembang menjadi seni rakyat yang tidak hanya memikat dengan keindahannya tetapi juga dengan kemampuannya untuk beradaptasi dengan selera penonton modern.
Di Yogyakarta memiliki berbagai variasi Jathilan yang unik di setiap kabupaten dan kotanya:
- Di Kota Yogyakarta Jathilan sering dikemas dengan sentuhan modern untuk mengikuti perkembangan zaman.
Pertunjukan di sini mungkin lebih terintegrasi dengan elemen kontemporer dan estetika urban.
- Di Bantul Jathilan terkenal dengan penghayatan dan pelestarian pakem-pakem tradisionalnya.
Di sini, pertunjukan masih mempertahankan fungsi ritual yang mendalam dengan tampilan yang sederhana namun penuh makna.
- Di Gunung Kidul Jathilan menonjol dengan penari putrinya yang menghadirkan gerakan tarian yang luwes dan kreatif. Bentuk pertunjukan di sini tidak terikat pada pakem tertentu dan lebih menekankan pada permainan dan keceriaan.
- Di Kulon Progo Jathilan dikenal dengan sebutan "Incling" yang disertai iringan musik khas berupa krumpyung, alat musik bambu yang memberikan warna baru pada pertunjukan Jathilan di daerah ini.
Selain perbedaan di berbagai tempat di Yogyakarta, Pada saat ini Jathilan juga dibagi dalam empat kategori utama:
1. Jathilan Pakem yaitu Menjaga bentuk dan gaya penyajian tradisional sesuai dengan aturan asli.
2. Jathilan Kreasi Baru yaitu Jathilan yang telah mengalami perubahan dan pengembangan untuk mengikuti selera modern dan lebih mengutamakan hiburan.
3. Jathilan Festival yaitu Jathilan yang dipersiapkan khusus untuk festival dengan kriteria tertentu.
4. Jathilan Entertainment yaitu Jathilan yang disesuaikan dengan pesanan tertentu untuk kepentingan hiburan.
Dengan berbagai bentuk dan kategori ini, Jathilan terus menunjukkan potensi besar untuk bertahan dan berkembang sebagai warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Keberagaman dan kekayaan bentuk Jathilan makin memperkaya seni budaya Indonesia dan menjadikannya sebagai salah satu kebanggaan Yogyakarta yang tak ternilai harganya.
Penulis: Akmal Haidar Alfath