Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Tokoh Wayang: Pandai Bersosialisasi, Sanghyang Kanwakaputra Menjadi Penasihat Para Dewa

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 1 Agustus 2024 | 23:35 WIB
Gambar Illustrasi Batara Narada/Sanghyang Kanwakaputra (Sumber: Karya Suwadi Krijo Taruno)
Gambar Illustrasi Batara Narada/Sanghyang Kanwakaputra (Sumber: Karya Suwadi Krijo Taruno)

RADAR PURWOREJO – Sanghyang Kanwakaputra atau mafhum dikenal sebagai Batara Narada adalah keturunan dari Sanghyang Caturkanaka dengan Dewi Laksmi. Dikisahkan bahwa Narada mendapat warisan pusaka Cupu Linggamanik ketika hari kelahirannya. Namun ia tidak serta merta menjadi tamak, sombong atau tidak tahu diri, ia tetap merendah dengan mengasah diri meningkatkan ilmu setiap waktu.

Batara Narada adalah salah satu tokoh penting dalam mitologi dan pewayangan Jawa. Ia dikenal sebagai dewa kebijaksanaan dan penasehat bagi para dewa dan manusia. Ia merupakan salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) bersama Batara Wisnu dan Batara Guru.

Dalam pewayangan Jawa, Batara Narada sering digambarkan sebagai penasihat para dewa, terutama Batara Guru. Hingga di beberapa tulisan disebutkan bahwa batara narada merupakan orang kepercayaan Batara Guru yang sudah dianggap sebagai tangan kanannya. Bukan hanya sekedar penasihat, namun sebagai ketua dewan penasihat (penasihat utama) di Khayangan Jonggring Saloka.

Sebagai penasihat para dewa, Batara Narada sering bertindak sebagai mediator dan penyampai pesan antara dunia para dewa dan dunia manusia. Tempat tinggal Batara Narada sendiri ada di kahyangan Sidik Pangudal-udal.

Ia dikenal sebagai pembawa wahyu dan pengajaran spiritual yang penting, membantu menjaga keseimbangan dan harmoni alam semesta. Dalam setiap cerita pewayangan beliau selalu membela kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu.

Awalnya Batara Narada digambarkan sebagai pribadi yang berwajah tampan dan gagah namun suatu ketika terlibat sesuatu dengan Batara Guru, sehingga Beliau berubah wujud menjadi Narada menjadi pendek bulat dan berparas jelek dengan wajah lucu yang selalu mendongak ke atas.

Meskipun memiliki wujud yang jelek, Batara Narada sangat disegani oleh siapa saja yang bergaul dengannya. Bahkan Batara Guru sang Dewa dari segala dewa sangat menghormatinya dengan memberikan panggilan "Kakang Panji Narada".

Selain itu Batara Narada juga dikenal sebagai sosok yang sangat alim, pandai dalam segala ilmu pengetahuan, periang, jujur, hatinya bening, pikirannya cerdas, senang bersenda-gurau, seorang prajurit dan pandita, sehingga ia mendapat julukan Resi.

Seperti kisah saat Dewasrani berencana membunuh Pandawa dengan meminjam senjata pusaka yang bernama Cis Jaladara yang dimiliki oleh ayahnya, Batara Guru. Namun, Batara Kresna menyadari bahwa Dewasrani menggunakan pusaka milik Batara Guru dan ia merasa tidak mampu melawannya.

Oleh karena itu, ia mencari bantuan dari seorang "pertapa tua" yang sedang bertapa di tempat terpencil. Ketika pertempuran dimulai, ternyata Cis Jaladara yang digunakan Dewasrani tidak berpengaruh apa-apa pada pertapa tua itu. Yang terjadi kemudian adalah pertapa tua tersebut berubah menjadi Batara Narada.

Dewasrani sontak terkejut melihat kehadiran Batara Narada di medan perang. Tanpa berpikir panjang, ia segera melarikan diri dari pertempuran, khawatir bahwa rahasia ayahnya, Batara Guru, yang meminjamkan Cis Jaladara untuk kejahatan, akan terbongkar oleh Batara Narada.Sehingga ancaman besar yang menimpa Pandawa pun berakhir.

Meskipun Narada bukan dikenal sebagai pejuang, ia memiliki senjata berupa tongkat atau alat musik bernama vina yang juga memiliki kekuatan spiritual dan sakti (dalam mitologi hindu) dan mempunyai Cupu Linggamanik yang berisi air Tirta Mayahadi, berkemampuan mengeluarkan sinar teja. Pusaka ini diserahkan kepada Batara Guru sebagai pelengkap pusaka Kahyangan Jonggring Saloka.

Kekuatan utama Narada terletak pada kebijaksanaannya. Ia memiliki pengetahuan mendalam tentang hukum kosmis dan dharma. Narada juga memiliki kemampuan untuk mengubah wujud dan melakukan perjalanan antar dimensi, memungkinkan dia untuk menyampaikan pesan dari kahyangan ke bumi dengan cepat. Suara musik dari vina yang dimainkannya memiliki kekuatan untuk menenangkan atau membangkitkan semangat, serta menyampaikan pesan-pesan ilahi. Ia mengajarkan pentingnya kebijaksanaan, ketenangan batin, dan pemahaman tentang dharma. Sebagai penyambung komunikasi antara dunia dewa dan manusia, Narada mengajarkan bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan harus dibagikan untuk kesejahteraan semua makhluk.

Dalam kisah Ramayana, Narada berperan sebagai penasihat bagi Rama dan membantu memberikan petunjuk tentang bagaimana menghadapi Rahwana. Narada juga membantu menyampaikan pesan-pesan penting dari para dewa kepada Rama, termasuk strategi untuk menyelamatkan Sinta.

Dalam Mahabharata, Batara Narada sering muncul sebagai penasihat para Pandawa, memberikan nasihat bijaksana dalam menghadapi berbagai tantangan dan konflik dengan Kurawa.

Salah satu momen penting adalah ketika Batara Narada mengunjungi Yudhistira di Indraprastha dan memberikan petunjuk tentang tugas seorang raja yang adil dan bijaksana.

Batara Narada adalah simbol kebijaksanaan, penasehat, dan penyampai pesan ilahi dalam mitologi dan pewayangan Jawa. Ia selalu mengajurkan untuk mengakui kekurangan diri sendiri, menghormati kelebihan orang lain, tidak perlu merasa kesal bahkan marah karena kelebihan seseorang. Jangan juga berbuat licik dan selalu berprasangka positif terhadap orang lain. Dengan kemampuan dan perannya yang unik, Narada memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan alam semesta dan membimbing para dewa serta manusia menuju jalan kebenaran dan dharma. Melalui cerita-cerita yang melibatkan Narada, kita dapat belajar tentang pentingnya kebijaksanaan, pengajaran spiritual, dan peran penting komunikasi dalam mencapai harmoni dan kesejahteraan bersama.

Rumyanah Irvadia)
Sumber:
-Channel Youtube Ari Poncowolo
-Berbagai sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
#dewa #Tokoh wayang #narada