RADAR PURWOREJO – Batara Dewasrani atau kadang disebut juga sebagai Prabu Dewasrani merupakan putra dari Batari Durga dan Sanghyang Manikmaya (Batara Guru) Ia Merupakan salah satu tokoh yang beberapa kali disebutkan dalam pewayangan jawa.
Batara Dewasrani lahir di istana siluman, yaitu istana Sentra Gandamayit. Batara Dewasrani mempunyai lima orang saudara satu ibu beda ayah, masing-masing bernama; Batara Siwahjaya, Dewi Kalayuwati, Batara Kalayuwana, Batara Kalagotama dan Batara Kartinea.
Untuk penampilan fisik sendiri, Batara Dewasrani ini digambarkan berperawakan dan berwajah mirip dengan raden Arjuna yang tinggi, gagah, tampan, serta memiliki suara seperti raden sadewa yang berwibawa. Perwujudan ini merupakan manifestasi dari Batari Durga yang menginginkan anak yang tampan rupawan, dan hal tersebut dikabulkan oleh dewata.
Disebutkan bahwa, selain sakti karena keturunan dari Sanghyang Manikmaya, ia juga diberkahi Aji Kawrastawan, yaitu kemampuan “dapat beralih rupa” kemampuan ini dapat merubah Batara Dewasrani menjadi apa saja sesuai kehendaknya.
Menurut beberapa tulisan Batara Dewasrani sedari kecil kerap kali dimanjakan oleh Batari Durga, hal ini menyebabkan ia tumbuh menjadi pribadi yang akan berbuat apapun untuk menuntaskan keinginannya, ia juga cenderung serakah, meskipun menentang dewa. Ia seringkali berbuat onar dan mengacaukan Khayangan. Dengan status dan kesaktiannya itu, Dewasrani bersikap adigang, adigung, adiguna, memongahkan diri akan kekuatan, kedudukan, dan kepintarannya. Wataknya pun “kemlinthi” (sombong).
Batara Dewasrani juga gemar memanfaatkan kekuasaan ayahnya selaku penguasa Jonggring Saloka dan ibunya Batarui Durga sebagai petinggi di Sentra Gandamayit, tempatnya para dedemit dan siluman.
Beberapa hal yang menyebabkan Dewasrani dikenal dengan badboy adalah kelakuannya yang sewenang-wenang dan semaunya sendiri. Kadang ia juga mendapatkan predikat antagonis di beberapa cerita wayang.
Dewasrani pernah mengejar-ngejar Batari Srisekar, istri dari Bathara Wisnu sampai keluar Kahyangan Untarasegara. Atas perbuatannya itu ia dikutuk Bathara Wisnu menjadi babi hutan, dan dapat kembali kewujud aslinya setelah diruwat ibunya, Batari Durga.
Karena suka berbuat usil dan mau benarnya sendiri. Berkali-kali ia membuat keributan di Jonggring Saloka dengan membuat berbagai tuntutan yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.
Dalam suatu waktu dia pernah memohon-mohon kepada orang tuanya untuk dipersatukan dengan Batari Dresanala yang saat itu sudah menjadi istri Arjuna. Dengan mulut manis dan pintar menyusun kata-kata persuasif untuk membujuk orangtuanya, Batara Guru dibuat blunder dengan apa yang telah menjadi keputusannya sendiri.
Peribahasa Jawa “Anak polah, Bapak kepradah” adalah peribahasa yang sangat cocok dengan dewasrani, arti peribahasa tersebut adalah ketika anak berulah, maka ayah atau orangtua yang menanggung semua konsekuensi dari perbuatan anak tersebut dan hal itu cenderung merepotkan.
Karna Memiliki Aji Kawrastawan Batara Dewasrani berkali-kali menitis atau menjelma menjadi raja raksasa untuk membuat kekacauaan di Arcapada. Tetapi syukurnya semua tindakannya itu selalu dapat digagalkan Bathara Wisnu sebelum menghancurkan banyak wilayah Arcapada.
Batara Dewasrani pernah menuntut untuk dijadikan raja di Kahyangan Kaideran dan dijodohkan dengan Dewi Supraba karena terpesona dengannya. Namun ketika keingginannya ditolak Sanghyang Manikamaya, ia mengamuk, namun akhirnya amukannya berhasil dikalahkan Batara Indra.
Padahal sebenarnya, Batara Dewasrani telah dibangunkan wilayah kekuasaan atau kerajaannya sendiri yang terbilang indah, yaitu Kerajaan Tunggul Mayala. Namun, ia tidak puas dan terus membuat kerusuhan karena meladeni nafsu dan hasratnya. Seperti halnya kebaikan, kejahatan pun bekerja dengan caranya sendiri. Ada aturan yang dilanggar, ada hukum yang didobrak. Semua dilakukan hanya untuk memuluskan apa yang diinginkan dan diidamkan.
(Rumyanah Irvadia)
Sumber:
-Channel Youtube Ari Poncowolo
-Galeri Pitoyo
-Berbagai sumber