RADAR PURWOREJO – Pada cerita pewayangan jawa tentu tidak asing dengan satu kerajaan ini, yaitu kerajaan Alengka. Kerajaan Alengka atau Alengkapura pada mulanya merupakan khayangan atau tempat tinggal dewa, pemilik khayangan tersebut adalah Sanghyang Darmojoko, khayangan tersebut bernama Selakandi yang memiliki taman megah, taman Argosoko. Namun berhubung Sanghyang Darmojoko membangun khayangan baru bernama khayangan Imamaya dan memutuskan berpindah kesana maka khayangan Selokandi pun menjadi tak berpenghuni, yang akhirnya akan ditempati oleh raksasa bernama Hiranyakasipu, Ia nantinya akan menjadi Raja pertama, memutuskan menamakan kerajaannya menjadi Alengka dan membangun kerajaan tersebut. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Dinasti yang merajai Alengka, berikut merupakan daftar para raja yang pernah memimpin kerajaan Alengka:
1. Prabu Hiranyakasipu
Prabu Hiranyakasipu memutuskan untuk menempati wilayah kosong dan berdedikasi untuk mendirikan kerajaannya sendiri, Prabu Hiranyakasipu berwujud rakasasa dengan badan besar dan berwajah seram, namun memiliki wibawa yang membuat para raksasa tunduk padanya. Pada saat masa kepemimpinannya Ia menaklukan banyak tempat, ia juga disebut sebagai perwujudan angkara murka. Prabu Hiranyakasiku memiliki anugrah tidak akan mati baik pada waktu siang maupun malam. Tidak bisa dibunuh oleh segala binatang, manusia, maupun para dewa-dewi. Tidak pula bisa mati di dalam dan di luar ruangan. Namun akhirnya mati ditangan Batara Wisnu dengan wujud Awatara Narasinga, yaitu makhluk yang berwujud manusia, berkepala singa, yang memiliki banyak tangan yang memegang senjata seperti Dewa. Ia dibunuh di atas pangkuannya dengan merobek-robek perutnya menggunakan kuku yang tajam, pada saat senja hari..
2. Prabu Banjaranjali
Raja kedua dari Alengka adalah Putra dari Hiranyakasipu yang bernama Banjaranjali. Berbeda dengan Ayahnya Hiranyakasipu yang berapi-api dan sangat berambisi, Banjaranjali justru merupakan raksasa yang tenang dan berbudi luhur, walau awalnya ia menyimpan dendam pada batara Wisnu yang telah membunuh ayahnya, namun alih-alih membalaskan dendam tersebut ia malah menerima takdir dan menjadi bagian dari tatanan yang lebih besar. Prabu Banjaranjali lebih memilih memaafkan dan menerima kenyataan demi mencapai kedamaian di Alengka.
3. Prabu Jati Murti
Prabu Jati Murti adalah penerus takhta ayahnya yaitu Prabu Banjaranjali, disebutkan bahwa Prabu jati murti mewarisi perangai ayahnya yang berbudi luhur dan bijaksana, yang memimpin Alengka dengan kedamaian dan keadilan, sehingga pada kepemimpinan Prabu Jati Murti Alengka diselimuti kedamaian yang menenangkan.
4. Prabu Getahbanjaran
Raja Alengka ke-empat bernama Prabu Getahbanjaran, seperti halnya kerajaan pada umumnya yang menurunkan tongkat kepemimpinan pada keturunan raja sebelumnya, begitupula yang dialami Prabu Getahbanjaran yang dipilih untuk melanjutkan kepemimpinan ayahnya Prabu Jati Murti. Getahbanjaran menikah dengan Raksesi Bhaya yaitu raksasa perempuan keponakan Batara Kala.
5. Prabu Brahmanatama
Dari Pernikahan antara Prabu Getahbanjaran dan Reksesi Bhaya, lahirlah raksasa laki-laki bernama Widyutkesa yang nantinya akan melanjutkan takhta ayahnya. Widyutkesa menjadi Raja Alengka dan mendapat gelar Prabu Brahmanatama. Prabu Bramanatama menikah dengan Raksesi Sandyaduhita memiliki putra bernama Sukesa.
6. Prabu Puksara
Raja Alengka Selanjutnya adalah Sukesa, Anak dari Prabu Bramanatama dengan Raksesi Sandyaduhita. Sukesa bergelar Prabu Puksara, Ia nantinya akan memiliki 3 keturunan, anak pertama bernama Sumali, anak kedua bernama Malyaman, dan anak terakhir bernama Mali. Tidak banyak yang terjadi pada saat kepemimpinan Puksara, karena ia memutuskan untuk memimpin alengka tanpa mencari musuh demi keamanan kerajaannya.
7. Prabu Sumali
Sebagai Anak pertama Prabu Puksara, Sumali membuktikan ia berhak melanjutkan mahkota ayahnya, Prabu Sumali dikenal sebagai raksasa atau buta yang berperangai luhur. Ia memiliki keturunan bernama Rara Sukesi dan Prahasta. Namun pada masa jabatannya sebagai raja terjadi sengketa dengan Khayangan Suralaya, Hal ini membuatnya harus mengungsi ke Rasatala. Anak Prabu Sumali yaitu Rara Sukesi dilamar oleh Prabu Danaraja, namun ia memutuskan hanya akan menikah dengan pemenang sayembara yang dilakukannya yaitu mengupas makna kitab sakti “Santra Jendra Hayuningkrat Pangruwating Diyu”. Sayembara itu dimenangkan oleh Resi Wisrawa yang padahal merupakan ayah dari Prabu Danaraja, karena hal tersebut lah Danaraja hendak menyerang ayahnya karena tak terima, ia minta dinikahkan dengan Rara Sukesi malah dipinang sendiri oleh ayahnya, namun pertikaian tersebut berhasil dilerai oleh para dewa. Melalui pernikahan yang tidak seharusnya ini melahirkan Rahwana, Kumbakarna, dan Sarpakaneka.
8. Prabu Rahwana/Dasamuka
Setelah masa kepemimpinan Prabu Sumali berakhir, Kepemimpinan Alengka diambil alih oleh cucunya karena Ia hanya dikaruniani anak perempuan. Tetapi melalui anak perempuannya Rara Sukesi, Rara melahirkan Rahwana sang Raja Alengka selanjutnya. Melalui Kepemimpinan Rahwana Alengka meraih masa keemasan karena Rahwana rajin memperluas wilayah kekuasaannya, Ia juga merupakan raja Alengka yang paling terkenal dengan kesaktian luar biasa. Sang villain dalam pewayangan jawa, yang dipahami sebagai tokoh kejam, bengis, dan tak kenal ampun, memiliki tampang mengerikan. Rahwana nantinya akan mati dibunuh Ramawijaya
9. Prabu Gunawan Wibisana
Setelah Rahwana sang Prabu Dasamuka gugur dalam perang melawan Raden Ramawijaya, Singgasana kerajaan diisi oleh adiknya, yaitu Gunawan Wibisana. Wibisana ini merupakan anak yang lahir dari tapa brata yang dilakukan Resi Wisrawa karena kecewa dengan anaknya yang menjadi sumber angkara murka, sehingga Gunawan Wibisana memiliki watak yang berbanding terbalik dengan Rahwana sang kakak, Ia juga dikaruniai tubuh seperti ayahnya sang resi Wisrawa bukan tubuh raksasa seperti ibunya, Wibisana juga berwajah tampan seperti dewata. Namun ia hanya merupakan raja pengganti, yang tidak menjabat lama. Pada masa kepemimpinannya yang cukup singkat itu ia menjadi penyelamat Alengka Diraja saat dijarah pasukan Arjuna Sasrabahu dari Mahespati. Prabu Gunawan Wibisana dikaruniaii putri bernama Rara Trijata dan putra bernama Dentawilukrama.
10. Prabu Bisawarna/Dentawilukrama
Pada akhirnya yang menjadi Raja terakhir Alengka adalah Dentawilukrama anak dari Wibisana yang nantinya akan bergelar Prabu Bisawarna. Pantang hukumnya melanjutkan kerajaan yang sudah kalah dalam peperangan, karena hal tersebut mempengaruhi perspektif atas keagungan kerajaan, maka Alengka yang sudah hancur berantakan, dibangun kembali dengan diubah namanya menjadi kerajaan Singgela atau Singgelapura. Keagungan dan nama besar Kerajaan Alengka telah berakhir, digantikan dengan kerajaan Singgela yang dipimpin oleh Prabu Bisawarna.
(Rumyanah Irvadia)
Sumber:
- The Great Story of Wayang
Referensi tag: Alengka, Kerajaan, Wayang
Editor : Iwa Ikhwanudin