Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Batara Yamadipati, Sosok Penjaga Alam Baka dan Hakim Jiwa yang Dihormati sekaligus Ditakuti dalam Pewayangan Jawa

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 7 Agustus 2024 | 08:34 WIB
Illustrasi Gambar Batara Yamadipati (Sumber Gambar: Museum Wayang Indonesia)
Illustrasi Gambar Batara Yamadipati (Sumber Gambar: Museum Wayang Indonesia)

RADAR PURWOREJO - Batara Yamadipati adalah salah satu dewa dalam pewayangan Jawa yang memiliki peran penting sebagai penguasa kematian dan pengadil jiwa.

Batara Yamadipati, juga dikenal sebagai Yamadipati, adalah versi Jawa dari Dewa Yama dalam mitologi Hindu. Dalam pewayangan Jawa, Batara Yamadipati merupakan putera dari Batara Ismaya, atau biasa dikenal sebagai Semar dengan Dewi Kanastri. Batara Yamadipati merupakan anak ke-empat dari sepuluh bersaudara. Ia juga disebut Batara Petraraja atau Yamakingkarapati. Petra artinya adalah neraka atau raja neraka dan Kingkara berarti makhluk penjaga neraka.

Batara Yamadipati sering digambarkan dengan wajah yang menyeramkan dan tampilan yang menakutkan, mencerminkan perannya sebagai dewa kematian. 

Batara Yamadipati memiliki kekuatan untuk mengendalikan dan mengadili roh-roh, serta kemampuan untuk melihat seluruh perbuatan manusia selama hidup mereka. Dia juga memiliki kemampuan untuk menghukum atau memberi hadiah sesuai dengan karmanya.

Sebagai dewa kematian, Batara Yamadipati juga bertanggung jawab atas penjemputan roh orang yang meninggal dan mengadilinya berdasarkan perbuatan selama hidup. Dia memutuskan nasib roh tersebut, apakah akan masuk surga atau neraka.

Batara Yamadipati memiliki peran yang mirip dengan hakim di akhirat, di mana dia menentukan nasib jiwa berdasarkan amal baik dan buruk yang dilakukan semasa hidup.

Batara Yamadipati tinggal di Suralaya, Khayangan para dewa dewi dalam pewayangan Jawa, namun ketika telah ditetapkan tugasnya ia tinggal di Yamaloka, tempatnya orang orang yang sudah mati. Namun ia juga memiliki Khayangan lain, yaitu Khayangan yang khsusus dibangung oleh Batara Wismakarma untuk Batara Yamdipati, uniknya khayangan itu bisa berpindah-pindah sesuai kehendak pemiliknya.

Batara Yamadipati memiliki istri bernama Batari Mumpuni, seorang bidadari cantik pemberian Batara Guru. Namun Batari Mumpuni sebenarnya tidak mencintai Batara Yamadipati. Ia pun tidak merasa bahagia bersuamikan dewa yang berwajah buruk dan menakutkan. Oleh karena itu, Batari Mumpuni menjalin hubungan terlarang dengan Bambang Nagatatmala, putra Sang Hyang Antaboga, yang menurut Batari Mumpuni lebih tampan dan gagah.

Dalam perwujudan bentuk wayangnya sering terdapat gambar kunci dibagian pinggang Yamadipati, Kunci tersebut merupakan kunci gerbang neraka.

Filosofi yang diwakili oleh Batara Yamadipati adalah keadilan dan keseimbangan. Dia melambangkan hukum karma, di mana setiap perbuatan akan mendapatkan balasan yang setimpal, baik itu pahala atau hukuman.

Salah satu cerita terkenal yang melibatkan Batara Yamadipati adalah kisah "Sengkuni Turun ke Naraka". Dalam cerita ini, Sengkuni, salah satu penjahat dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, dijemput oleh Yamadipati dan dihukum di neraka atas segala perbuatan jahatnya selama hidup.

Cerita lain yang terkenal adalah Suatu ketika, Batara Yamadipati pernah diceritakan bertempur melawan Prabu Dasamuka. Cerita ini bermulai kala Rahwana atau Prabu Dasamuka ingin mengukur kesaktiannya berkat usahanya berguru kepada Resi Subali, Rahwana buru-buru menaiki Wimana Puspaka membawa pasukannya ke Yamaloka untuk menantang Batara Yamadipati. Dalam perjalanan, ia bertemu Batara Narada, sang dewa kebijaksanaan ini menasihati Rahwana agar mengurungkan niatnya, namun nasihat itu diabaikan oleh Rahwana

Pertempuran akhirnya terjadi antara pasukan Kerajaan Alengka dengan para Yamakingkara (makhluk penjaga neraka). Setelah beberapa waktu bertempur, para Yamakingkara cukup kewalahan menahan serangan pasukan raksasa dari Kerajaan Alengka. 

Melihat hal itu, Batara Yamadipati turun ke Arena Pertempuran, para raksasa kalang kabut berlari tunggang langgang pulang ke Kerajaan Alengka. Tinggallah Rahwana seorang diri di Yamaloka berhadapan dengan Batara Yamadipati. Perang tanding antara keduanya berlangsung imbang. Karena tidak dapat menahan amarahnya, Batara Yama lalu menyiapkan senjata pamungkas bernama Kaladenda.

Mengetahui perihal itu Batara Brahma buru-buru mencegah Batara Yamadipati, karena jika Kaladenda dilepaskan, bukan hanya dunia yang akan hancur lebur karena kiamat, Khayangan pun akan porak-poranda dibuatnya. Sebagai gantinya, Batara Brahma menyerahkan senjata Hamoga untuk digunakan.

Dengan senjata Hamoga itu Batara Yamadipati berhasil mengalahkan sang Prabu Dasamuka atau Rahwana.

Kehadiran Yamadipati dalam cerita pewayangan sering digunakan untuk mengingatkan manusia akan pentingnya menjalani kehidupan yang baik dan benar sesuai dengan ajaran agama dan moral.

Batara Yamadipati adalah simbol penting dalam budaya Jawa yang mengajarkan tentang keadilan, tanggung jawab moral, dan pentingnya perbuatan baik dalam kehidupan.

 (Rumyanah Irvadia)

Sumber: 

- Learning Javanese Puppets Characters

Referensi tag: Wayang, Dewa, Kematian

Editor : Iwa Ikhwanudin
#keadilan bagi rakyat #Budaya Jawa adalah #batara #Bathara Yamadipati #budaya jawa