Tradisi ini pada dasarnya adalah tindakan melarikan calon pengantin wanita untuk kemudian dinikahi.
Meskipun terdengar romantis, praktik merarik ini kerap menimbulkan kontroversi dan menjadi sorotan karena berpotensi melanggar hak-hak perempuan, terutama anak di bawah umur.
Tradisi merarik diawali dengan kesepakatan antara calon pengantin pria dan wanita untuk bertemu di suatu tempat.
Setelah itu, calon pengantin wanita akan dibawa oleh pihak pria ke rumah keluarganya selama beberapa hari.
Proses selanjutnya melibatkan pemberitahuan kepada pihak keluarga wanita dan pembahasan mengenai mas kawin.
Setelah semua kesepakatan tercapai, barulah dilakukan akad nikah.
Tradisi merarik memiliki beberapa makna bagi masyarakat Sasak.
Di satu sisi, tradisi ini dianggap sebagai simbol keberanian dan ketegasan seorang pria dalam mendapatkan wanita yang dicintainya.
Di sisi lain, merarik juga dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan, di mana seorang pria harus membuktikan keseriusannya dengan berani melarikan calon istrinya.
Namun, di balik keindahan tradisi, merarik juga menyimpan sejumlah permasalahan. Salah satu yang paling menonjol adalah potensi terjadinya pernikahan anak.
Banyak kasus merarik melibatkan anak di bawah umur yang belum siap secara fisik maupun mental untuk menikah.
Baca Juga: Legenda Nyi Blorong: Panglima Terkuat di Pantai Selatan hingga Dijadikan Sarana Pesugihan
Hal ini tentu saja bertentangan dengan hak-hak anak dan dapat berdampak buruk bagi masa depan mereka.
Selain itu, praktik merarik juga dapat memicu konflik dalam masyarakat, terutama jika keluarga perempuan tidak menyetujui pernikahan tersebut.
Perselisihan dan pertikaian antar keluarga seringkali terjadi akibat tradisi ini.
Melihat berbagai permasalahan yang timbul akibat praktik merarik, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini.
Beberapa di antaranya adalah Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak negatif pernikahan dini dan pentingnya pendidikan bagi perempuan melalui sosialisasi, memperkuat penegakan hukum terhadap kasus pernikahan anak dan kekerasan dalam rumah tangga serta Melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lembaga adat dalam upaya mencegah praktik merarik yang merugikan.
Tradisi merarik merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Sasak.
Perlindungan terhadap hak-hak perempuan dan anak harus menjadi prioritas utama dalam upaya melestarikan budaya.
Penulis: Akmal Haidar Alfath
Editor : Bahana.