RADAR PURWOREJO - Prabu Jarasanda, adalah raja Magada, putera Prabu Wrehatrata. Tidak seperti manusia pada umumnya, ibu Jarasanda ada dua, yakni kedua permaisuri Prabu Wrehatrata, yakni Dewi Kahita dan Dewi Kawita. Cara kelahiran Jarasanda juga tidak seperti kelahiran bayi-bayi pada umumnya.
Setelah bertahun-tahun menikah dengan dua puteri kembar dari kerajaan Giyantipura, Prabu Wrehatrata tidak mempunyai keturunan. Karena itu ketika seorang brahmana datang hendak membantunya mendapatkan seorang anak, Sang Raja menerimanya dengan suka cita. Brahmana itu bernama Resi Cidakosika. Sang Brahmana memberikan sebuah mangga agar dimakan kepada permaisuri sang raja, dan langsung kembali pulang.
Sesudah Resi Cidakosika pulang, Prabu Wrehatrata bingung, karena lupa menyebutkan bahwa permaisurinya ada dua orang. Ia bingung, kepada siapa, mangga itu akan diberikan.
Karena menjunjung sifat adil, Prabu Wrehatrata lalu membelah mangga itu menjadi dua sama besar dan memberikan masing-masing pada kedua permaisurinya. Dan seperti kata Resi Cidakosika, tidak berapa lama kemudian, kedua permaisuri itu pun mengandung.
Ketika tiba saat melahirkan, terjadilah peristiwa yang aneh. Bayi yang dilahirkan oleh kedua permaisuri itu hanya separo. Paro yang satu hanya berupa belahan tubuh bayi sebelah kiri, dilahirkan oleh permaisuri pertama sedangkan paro kedua yang kanan, dilahirkan permasuri kedua.
Melihat ujud bayinya tidak sempurna seperti itu, kedua permasirui langsung jatuh pingsan. Setelah mereka sadar kembali, para dayang istana cepat-cepat disuruh membunag kedua belahan bayi itu, sebelum ada orang lain yang tahu. Karena, bila peristiwa kelahiran bayi aneh itu diketahui orang, tentu akan membuat malu keluarga kerajaan. Demikian pendapat kedua permaisuri raja Magada itu
Sementara itu, kedua belahan bayi yang dibuang itu ditemukan oleh seorang gandarwa raseksi bernama Jara. Melihat dua bungkusan berisi daging yang dibuangm is segera memungutnya dan membawanya pulang. Agar mudah dibawa, kedua bungkusan itu disatukan. Maka terjadilah keajaiban yang kedua, kedua belahan bayi itu, kini benar-benar menyatu dan hidup berujud seorang bayi pada lazimnya.
Tangis bayi itu menyadarkan Jara, bahwa daging yang dibawanya itu ternyata seorang bayi. Karena menemukan bungkusan itu di halaman istana, ia segera menyimpulkan bahwa bayi itu tentulah putera Prabu Wrehatrata. Maka, dengan niat baik, bayi itu pun diserahkan kepada raja Magada. Prabu Wrehatrata menerima bayi itu dengan amat suka cita. Sebagai penghargaan kepada gandarwa raseksi Jara, bayi itu diberi nama Jarasanda - yang berarti "disatukan oleh Jara."
Prabu Jarasanda memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Dia dikenal sebagai petarung yang sangat kuat dan sulit dikalahkan. Beberapa versi cerita menyebutkan bahwa Jarasanda memiliki kekuatan magis yang memberinya keunggulan dalam pertempuran. Prabu Jarasanda melambangkan kekuatan dan ambisi yang besar, tetapi juga sifat yang keras kepala dan cenderung destruktif kekuatan dan ambisi tanpa kendali moral dan etika dapat membawa kehancuran. Berbeda dengan ayahnya yang sebelumnya memilih menjadikan Kerajaan Magada sebagai kerajaan yang damai. Prabu Jarasanda berambisi untuk memperluas wilayah kerajaan dengan menyerang kerajaan lain agar mau menyerahkan wilayahnya dan menyita barang berharga, dia juga termasuk pribadi yang kejam saat pertarungan. Pada masa kepemimpinan Raja Jarasanda ini Kerajaan Magada sering sekali terlibat perang namun berkat kesaktian yang dimiliki Jarasanda, kerajaan musuh mudah saja untuk dikalahkan.
Salah satu cerita terkenal yang melibatkan Prabu Jarasanda adalah pertarungannya melawan Pandawa dan Krisna. Dalam Mahabharata, Prabu Jarasanda berulang kali mencoba menyerang kerajaan Pandawa dan Krisna, karena ingin merebut wilayah mereka. Namun, dia akhirnya dikalahkan oleh Bima dengan bantuan Krisna dan Arjuna walaupun awalnya Bima kewalahan menghadapi kesaktian Prabu Jarasanda. Raja sakti itu selalu hidup kembali, setelah Bima membunuhnya. Lama kelamaan tenaga BIma makin terkuras. Krisna yang menyaksikan keadaan itu lalu membisikkan pada Arjuna bahwa Prabu Jarasanda semula merupakan dua belahan tubuh yang kemudian menyatu. Krisna memerintahkan Bhima untuk merobek tubuh Jarasanda menjadi dua dan melemparkannya ke arah yang berlawanan, sehingga Jarasanda tidak bisa bersatu kembali.
Melalui Cerita Jarasanda ada nilai yang bisa diambil yaitu, kekuatan dan ambisi tanpa kendali moral dan etika dapat membawa kehancuran.
(Rumyanah Irvadia)
Sumber:
-pertunjukan wayang Ki Probo Asmoro