RADAR PURWOREJO – Prabu Sentanu merupakan Raja dari Kerajaan Hastinapura, sebuah kerajaan besar yang menjadi pusat cerita dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa. Prabu Sentanu lahir dalam keluarga kerajaan yang mulia dan terkenal dengan keadilan serta kebijaksanaannya, Ia adalah putra dari Prabu Pratipa dan Permaisuri Sunanda/Sumanda, Sentanu merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, kedua kakaknya bernama Raden Dewapi dan Raden Bahlika. Meskipun anak terakhir Sentanu berhasil membuktikan bahwa ia layak untuk melanjutkan mahkota ayahnya, kakak-kakak Sentanu juga mengakui kelayakan tersebut sehingga tidak ada konflik perebutan takhta yang pelik.
Diceritakan bahwa sebenarnya Prabu Sentanu merupakan titisan Prabu Mahabisa yang telah menjadi dewa di Khayangan, suatu hari di pertemuan para dewa-dewi, Mahabisa terpesona oleh kecantikan Dewi Gangga karena busana Dewi Gangga tersibak angin, karena hasratnya ini Mahabisa mendapat kutukan Batara Brahma yaitu diusir dari Khayangan Suralaya dan turun ke Mayapada atau dunia para manusia, ia dijadikan sebagai anak Prabu Pratipa. Mahabisa tetap ingin menikahi Dewi Gangga, ia pun membujuk rayu bidadari itu, Dewi Gangga akhirnya mau dijadikan istri namun Ia harus memenuhi syarat dari Gangga yaitu berjanji apapun yang Gangga lakukan jangan pernah sekalipun dilarang atau diingatkan. Mahabisa atau Sentanu menyetujui syarat dan bersedia memenuhi janji tersebut, Prabu Sentanu pun hidup bersama Permaisuri Gangga di Hastinapura, waktu berlalu, setiap hamil dan melahirkan Gangga menghanyutkan anaknya ke sungai, anak pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh berhasil dihanyutkan, namun ketika Gangga tengah hamil dan akhirnya melahirkan anak kedelapan, ia hendak menghanyutkannya kembali ke sungai, hal ini menjadikan Prabu Sentanu gusar, Prabu Sentanu sangat menginginkan keturunan dari pernikahannya dengan Gangga, sehingga akhirnya memutuskan untuk melarang Gangga menghanyutkan anak mereka ke sungai lagi. Gangga memberikan anak tersebut kepada Raden Sentanu, ia mengatakan bahwa Sentanu telah melanggar janji yang telah mereka sepakati, Dewi Gangga pun bersiap-siap pulang kembali ke Khayangan, namun Sentanu yang gandrung (cinta) kepada Gangga tidak bisa merelakan begitu saja kepergian istrinya ini, ia pun memohon kepada Gangga agar tetap tinggal saja di Hastinapura, Gangga menjelaskan alasan mengapa ia memutuskan menghanyutkan anak mereka karena putra-putra yang ia lahirkan merupakan inkarnasi dari Astabasu atau delapan Wasu. Tindakannya menenggelamkan bayi-bayi tersebut adalah untuk melepaskan jiwa mereka agar mencapai surga, kediaman para Wasu. Akhir keputusan Dewi Gangga kembali ke Khayangan Suralaya dan meninggalkan putranya di Hastinapura. Anak kedelapan tersebut diberi nama Dewabrata ada juga yang menyebutkan dinamai Jahnawisuta, namun akan besar dan dikenal dengan nama Bhisma, Prabu Sentanu kebingungan mencari ibu susu anaknya, karena anaknya memiliki kondisi khusus akibat pernikahan antara manusia dan bidadari, kesana kemari ia memutuskan menyusukan anaknya ini kepada permaisuri Prabu Palasara yang kala itu juga tengah memiliki anak yaitu Raden Abyasa.
Setelah sekian lama, Prabu Sentanu akhirnya jatuh cinta lagi, perempuan tersebut adalah Dewi Durgandini, ketika Prabu Sentanu bermaksud melamar gadis tersebut. Ayah gadis tersebut yang bernama Dasabala. Ketika Sang Raja melamar gadis tersebut, orang tuanya mengajukan syarat bahwa jika Durgandini menjadi permaisuri Prabu Santanu, ia harus diperlakukan sesuai dengan Dharma dan keturunan Durgandini-lah yang harus menjadi penerus tahta. Mendengar syarat tersebut, Sang Raja pulang dengan kecewa dan menahan sakit hati. Ia menjadi jatuh sakit karena terus memikirkan gadis pujaannya yang tak kunjung ia dapatkan. Melihat ayahnya jatuh sakit, Dewabrata menyelidikinya. Ia bertanya kepada kusir yang mengantarkan ayahnya jalan-jalan.
Dari sana ia memperoleh informasi bahwa ayahnya jatuh cinta kepada seorang gadis. Akhirnya, ia berangkat ke sungai Yamuna.
Ia mewakili ayahnya untuk melamar putri Dasabala, Durgandini, yang sangat diinginkan ayahnya. Ia menuruti segala persyaratan yang diajukan Dasabala.
Ia juga bersumpah tidak akan menikah seumur hidup dan tidak akan meneruskan tahta keturunan Raja Kuru agar kelak tidak terjadi perebutan kekuasan antara keturunannya dengan keturunan Durgandini.
Sumpahnya disaksikan oleh para Dewa dan semenjak saat itu, namanya berubah menjadi Bisma.
Akhirnya Prabu Santanu dan Dewi Durgandini menikah lalu memiliki dua orang putra bernama Citrānggada dan Wicitrawirya.
Melalui kisah Prabu Sentanu mengajarkan beberapa pelajaran penting yang dapat kita terapkan dalan kehidupan sehari-hari:
1. Pengorbanan: Prabu Sentanu rela menerima syarat berat dari Dewi Gangga demi cintanya, menunjukkan bahwa cinta dan pengorbanan sering kali berjalan beriringan.
2. Kepemimpinan yang Bijaksana: Sebagai raja, Sentanu dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan adil, yang menjadi teladan bagi pemimpin masa depan.
3. Kehormatan dan Tanggung Jawab: Ketika menyadari bahwa tindakan Dewi Gangga mengancam keselamatan anaknya, ia tidak ragu untuk bertindak meski harus kehilangan istrinya.
Ini menunjukkan pentingnya tanggung jawab seorang pemimpin dan seorang ayah.
4. Takdir dan Ketabahan: Kisah Prabu Sentanu juga menunjukkan bagaimana ia menerima takdir dengan tabah, termasuk ketika harus kehilangan orang yang dicintai.
(Rumyanah Irvadia)
Sumber:
- Learning Javanese Puppets Characters
Editor : Iwa Ikhwanudin