RADAR PURWOREJO - Batara Kala, dalam bahasa sansekerta artinya waktu, merupakan anak dari dewa penguasa waktu, yaitu Batara Guru dan istrinya bernama Dewi Uma.
Dia lahir dari nafsu Batara Guru sehingga lahir menjadi raksasa. Karena takut akan mengacaukan dunia, anak tersebut pun diberi nama Batara Kala, mengangkatnya sederajat dengan dewa dan mengakui jika anak tersebut adalah darah dagingnya.
Batara Kala digambarkan sebagai sosok yang seram dan hampir tidak menyerupai dewa.
Sebagai dewa waktu, ia bertugas untuk 'memakan' waktu manusia dalam artian dewa yang membawa kematian.
Terdapat salah satu kisah dimana Batara Kala akan meminum air keabadian bernama Tirta Amerta.
Dirinya pun menyamar menjadi dewa demi meminum air tersebut. Namun sayangnya penyamaran tersebut diketahui oleh Batara Surya dan Batara Candra.
Mereka berdua pun melaporkan kejadian tersebut kepada Batara Wisnu.
Dengan cepat, Batara Wisnu akhirnya menebas leher dari Batara Kala sehingga kepala dan tubuhnya terpotong.
Namun, sayangnya air tersebut telah sampai ke tenggorokannya yang mengakibatkan kepala dari Batara Kala melayang-layang di angkasa.
Batara Kala pun dendam kepada Batara Surya dan Batara Candra.
Kepala Batara Kala yang melayang-layang senantiasa mengejar kedua dewa tersebut untuk dimakan.
Baca Juga: Kejari Kebumen Tahan Kades Surorejan, Diduga Korupsi Dana Desa Rp 290 Juta
Ketika berhasil memakan kedua dewa tersebut dunia akan menjadi gelap. Dari sinilah awal mulanya terjadi gerhana.
Pada mitos jawa, ketika gerhana mulai terjadi, masyarakat bumi harus membuat kebisingan.
Konon katanya lesung yang dipakai untuk membuat suara adalah tubuh Batara Kala yang jatuh, sehingga jika dipukul terus-menerus Batara Kala akan merasa mual lalu mengeluarkan Batara Surya dan Batara Candra sehingga dunia kembali menjadi normal.