Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Mengenal Irah-irahan dan Makna pada Wayang Orang

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 23 Agustus 2024 | 17:48 WIB
Irah-irahan pada wayang wong.
Irah-irahan pada wayang wong.


RADAR PURWOREJO - Apabila sering menonton wayang kita sering kali melihat hiasan kepala atau model rambut yang berbeda-beda. Hal ini terdapat pula pada wayang orang.

Di dalam sastra Jawa setiap karya sastra memiliki yang namanya irah-irahan yang berarti Judul.

Hal ini mengacu pada awalan dalam suatu karya yang berarti kepala karya tersebut.

Irah-irahan diambil dari kata ”sirah” dalam bahasa Jawa yang berarti kepala.

Banyak yang tidak mengetahui perbedaan yang terdapat dalam setiap bagian wayang memiliki arti, sama seperti perbedaan yang terdapat di wayang orang ini?

Irah-irahan menunjukkan karakter dan kedudukan pada tokoh wayang. Yuk simak!

Berikut ini beberapa daftar perbedaannya:


• Makuta dan Tupong merupakan hiasan kepala yang hanya digunakan oleh seorang raja
• Tupong Songkok digunakan oleh seorang raja prabu Jenggi
• Lungseng tempen untuk seorang raja putra
• Gelung supit urang untuk imam suwongso
• Cawas Lungseng untuk putra dan putri
• Gimbal digunakan oleh raksasa rucah
• Tekes, gelong keongan, gelung sanggul untuk seorang putri


• Sorban udng gilik untuk pendeta
• Gombal untuk punokawan darwis
• Gelung konde digunsksn untuk putri dan keparak
• Sorban keongan untuk raja dan putra
• Kanigara digunakan oleh patih dan gugangan
• Kanigara nyamat untuk patih
• Katon, blangkon, dan iket kepala dibuat untuk bolo dugangan
• Topi untuk Umar Moyo
• Gundulan untuk punokawan toples
• Kuncung untuk punokawan, bladu dan jiweng


(Aina puspita ningrum)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#hiasan kepala #wayang orang #kedudukan #rah irahan #Wayang #Tokoh #Mengenal #jawa #karakter #makna