RADAR PURWOREJO - Sungguh merupakan fakta sejarah yang membanggakan bahwa sejak 7 November 2003, UNESCO mengakui wayang Indonesia sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.
Dengan kata lain, wayang Indonesia telah diakui sebagai mahakarya dunia, dan telah menembus level tertinggi kebudayaan umat manusia.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Sukses Gelar PCX160 Fun Run 2024
Sejak kita mengadopsi kisah Ramayana dan Mahabharata dari India pada masa kejayaan Hindu hingga kini, bangsa Indonesia telah mewarisi 29 jenis wayang.
Sementara itu, yang paling berkembang dan paling populer adalah jenis wayang purwa di Jawa.
Sebagai sebuah pertunjukan, memang terdapat pula wayang Canton (Cina), wayang Malaysia, wayang India, wayang Thailand, hingga puppet show dari Amerika Serikat.
Baca Juga: Jangan Terlalu Banyak Minum Teh, Ini Dampak Negatif Bagi Kesehatan
Namun, kehebatan dan kedahsyatan kisah serta pertunjukan wayang yang berurat akar di Indonesia sukar dicari tandingannya, karena yang diceritakan adalah perikehidupan manusia di jagat raya ini.
Maka, tidak mengherankan jika dalam lakon Ramayana maupun Mahabharata (dua lakon pakem cerita wayang di Jawa), terdapat ratusan tokoh dengan berbagai macam wujud dan karakter yang berperan serta menghidupkannya di jagat pakeliran.
Mengingat kisah wayang memiliki dimensi yang sangat luas, penuh filosofi, dan simbol, agaknya makin diperlukan adanya semacam ancang-ancang jika ingin mengapresiasi atau menikmatinya.
Baca Juga: Mengenal Tokoh Wayang : Drupadi, Putri Kerajaan Kencana yang Dinikahi Yudistira
Terutama bagi generasi muda yang langsung atau tidak langsung telah menjadi "korban" dari langkanya pertunjukan wayang sejak menjelang berakhirnya abad XX.
Sebab, siapa pun yang menikmati pertunjukan wayang akan mengalami kesulitan manakala tidak (belum) mengetahui latar belakang cerita, pakem pakeliran atau pedalangan, serta nilai-nilai sosial budaya yang menjadi landasan berpijaknya.
Baca Juga: Telur Asin: Makanan Tradisional dengan Manfaat Luar Biasa untuk Tubuh
Tanpa memiliki pengetahuan awal yang cukup mengenai wayang, menyaksikan pergelaran wayang sama halnya menyaksikan permainan boneka "mati" yang digerakkan sang dalang. Padahal, pertunjukan wayang memuat dua dimensi penting: sebagai tontonan sekaligus tuntunan. (*)
Editor : Iwa Ikhwanudin