RADAR PURWOREJO - Dalam tradisi pewayangan Jawa, Udawa dikenal sebagai sosok yang menyandang gelar Patih. Ia menjadi tangan kanan Prabu Kresna di Kerajaan Dwarawati.
Menurut cerita rakyat Jawa, Udawa adalah putra dari Prabu Basudewa dan Nyai Sagopi, seorang penari keraton yang terkenal akan kecantikannya.
Kisah cinta antara Prabu Basudewa dan Nyai Sagopi berlangsung secara diam-diam, hingga akhirnya Nyai Sagopi melahirkan Udawa.
Namun, demi menjaga rahasia pernikahan ini, Udawa diserahkan kepada Antagopa untuk diasuh sejak dalam kandungan, sehingga ia dikenal sebagai anak dari Antagopa.
Sejak kecil, Udawa sudah dekat dengan saudara-saudaranya, yaitu Kakrasana (Baladewa), Narayana (Kresna), dan Roroireng (Sumbadra).
Ia sering mengikuti Narayana dalam berbagai perjalanan dan petualangan, mulai dari bertapa hingga akhirnya Narayana diangkat menjadi raja di Dwarawati.
Berkat kesetiaannya yang tak tergoyahkan, Udawa diangkat menjadi patih oleh Kresna. Sebagai patih, Udawa dikenal sakti, jujur, dan selalu menjalankan tugasnya dengan setia dan patuh kepada rajanya.
Dalam sastra Hindu, Udawa memiliki hubungan yang sangat erat dengan Kresna. Diceritakan bahwa ia adalah sepupu Kresna, sebagai putra dari Dewabaga, saudara Prabu Basudewa.
Meskipun terdapat perbedaan cerita, kesetiaan Udawa kepada Kresna tetap menjadi tema utama dalam kedua versi tersebut.
Udawa berumur panjang dan tetap setia melayani hingga perang Baratayuda usai.
Namun, nasib tragis menimpa dirinya saat ia ditugaskan oleh Prabu Kresna untuk menyerang Kerajaan Sriwedari guna membunuh Prabu Arjunapati.
Dalam perang tanding antara Udawa dan Arjunapati, kedua ksatria sakti ini akhirnya gugur bersama, dalam duel yang berakhir dengan sumpyuh atau saling membunuh.
Sementara itu, versi lain dalam Kitab Mahabarata menyebutkan bahwa Udawa meninggal dalam peristiwa berbeda.
Ia menjadi korban dalam pertikaian yang terjadi di antara bangsa Yadawa, ketika mereka terlibat perkelahian akibat mabuk.
Peristiwa ini memusnahkan seluruh bangsa Yadawa di Dwarawati, sebuah tragedi yang terjadi karena kutukan dari Batara Narada terhadap Samba, putra Kresna.