RADAR PURWOREJO - Dalam dunia pewayangan Indonesia, setiap tokoh pasti memiliki kaitannya dengan tokoh lain. Contohnya yaitu Dewi Anjani yang ternyata adalah ibu dari Hanoman.
Namun, tahukah kamu jika Dewi Anjani merupakan seorang wanita yang memiliki paras cantik, tetapi mengapa dirinya melahirkan Hanoman yang setengah kera?
Untuk penjelasan tersebut mari kita simak kisah menarik Dewi Anjani berikut ini.
Dewi Anjani adalah putri sulung Resi Gotama, seorang brahmana dari Pertapaan Erraya/Gratisna dan Dewi Indradi, seorang bidadari keturunan Bathara Asmara.
Dewi Anjani memiliki dua saudara kandung, yakni Subali dan Sugriwa. Berkat kecantikannya, Dewi Anjani menjadi sosok yang menarik perhatian banyak pihak.
Ia juga memiliki sebuah benda magis bernama Cupumanik Astagina, pemberian ibunya yang merupakan hadiah dari Bathara Surya.
Cupu tersebut memiliki kekuatan luar biasa, jika dibuka maka bisa memperlihatkan segala peristiwa yang terjadi di langit dan bumi hingga tujuh tingkat.
Suatu hari, Subali dan Sugriwa memergoki Dewi Anjani sedang bermain dengan Cupumanik Astagina.
Ketika mereka tidak diizinkan untuk meminjamnya, keduanya melapor kepada ayah mereka, Resi Gotama.
Sang ayah kemudian meminta cupu tersebut, namun Dewi Indradi yang tak mau mengungkap asal-usulnya akhirnya dikutuk oleh Resi Gotama menjadi tugu batu dan dibuang ke udara yang kemudian jatuh di wilayah Kerajaan Alengka.
Untuk berlaku adil, Resi Gotama membuang Cupumanik Astagina ke udara agar diperebutkan oleh Subali dan Sugriwa.
Saat cupu tersebut jatuh di hutan dan pecah menjadi Telaga Sumala, ketiga anak Begawan Gotamadri, yaitu Dewi Anjani, Subali, dan Sugriwa bergegas terjun ke telaga.
Subali dan Sugriwa segera menyelam dengan cepat, sedangkan Dewi Anjani lebih memilih mencuci muka terlebih dahulu di pinggir telaga.
Namun, saat kedua saudaranya muncul kembali ke permukaan, tubuh mereka telah berubah menjadi kera sepenuhnya.
Berbeda dengan Dewi Anjani yang tubuhnya masih berbentuk manusia namun sudah berwajah kera.
Kepanikan pun melanda ketiga bersaudara ini. Mereka bergegas menemui sang ayah untuk mencari solusi atas kutukan tersebut.
Begawan Gotamadri kemudian menyuruh ketiganya untuk melakukan pertapaan dan memohon ampun kepada para dewa.
Dewi Anjani memilih bertapa di Telaga Nirmala, berharap mendapat pengampunan dan kembali ke wujud asalnya.
Dalam pertapaannya yang begitu khusyuk, Dewi Anjani memutuskan untuk bertelanjang dan hanya menampakkan kepalanya di atas permukaan air telaga.
Tak disangka, Batara Guru yang kebetulan melintas melihatnya dan terbangkitkan nafsunya.
Air mani Batara Guru pun jatuh menetes di atas setangkai daun asam muda yang kemudian terbawa angin dan mendarat di telaga tempat Dewi Anjani bertapa.
Daun asam muda tersebut tanpa disadari dimakan oleh Dewi Anjani yang kemudian membuatnya hamil.
Kebingungan dan cemas karena belum bersuami, Dewi Anjani memohon keadilan dari para dewa.
Batara Guru akhirnya menemuinya dan mengakui bahwa dialah ayah dari janin yang dikandung oleh Dewi Anjani.
Beberapa waktu kemudian, Dewi Anjani melahirkan seorang bayi berwujud kera yang kelak menjadi sosok ksatria hebat dan tangguh bernama Hanoman.
Dewi Anjani pun diizinkan untuk kembali ke kayangan dengan wujud aslinya, bersama putra kesayangannya yang kini dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam kisah pewayangan dan kerap dipentaskan di berbagai pertunjukan.