RADAR PURWOREJO - Bambang Irawan yang tak lain putra dari Arjuna dengan Dewi Ulupi merupakan salah satu tokoh pewayangan yang jarang disorot namun memiliki kisah heroik dan tragis.
Ia adalah satu dari 13 saudara lain ibu yang berasal dari berbagai istri Arjuna, di antaranya Abimanyu, Wisanggeni, dan Kumaladewa.
Kisah kelahiran Bambang Irawan penuh keajaiban, dengan peran penting dari sang kakek, Resi Jayawilapa, yang membantu kelahiran cucunya dengan mantra dan kebijaksanaan.
Meski masih dalam usia kandungan tujuh bulan, Bambang Irawan lahir dengan selamat dan diberi nama sesuai dengan tempat kelahirannya, yakni di bawah pohon rawan, itulah mengapa ia dikenal dengan nama Bambang Irawan.
Sejak kecil, Irawan tumbuh dalam asuhan ibu dan kakeknya di pertapaan Yasarata. Kehidupan di pertapaan membentuknya menjadi pribadi yang tenang, bijaksana, dan sangat tekun.
Ia dikenal sebagai seorang satria muda yang cerdas dan berbudi luhur, serta mahir dalam membaca kitab Weda, sebuah kemampuan yang ia dapatkan dari ajaran sang kakek, Resi Jayawilapa, seorang pandita tersohor.
Namun, meskipun Irawan memiliki sifat dan kemampuan yang luar biasa, ia menyimpan rasa cemburu terhadap kakaknya, Abimanyu.
Sebagai sesama putra Arjuna, Irawan merasa terabaikan karena tidak diajak ikut serta dalam perang Baratayuda, perang besar yang melibatkan keluarga Pandawa dan Kurawa.
Rasa cemburu dan keinginan untuk membuktikan diri inilah yang mendorongnya pergi ke Kurusetra tanpa izin dari orang tuanya, untuk menunjukkan bahwa ia juga layak menjadi satria yang hebat.
Di medan perang, Irawan terlibat dalam duel epik dengan Kalasrenggi, seorang raja raksasa dari Kerajaan Selamangleng yang memihak Korawa.
Kalasrenggi memiliki dendam pribadi terhadap Arjuna karena ayahnya, Jatagimbal, tewas di tangan Arjuna.
Dalam pertempuran yang sengit, Bambang Irawan berhasil menumpas pasukan raksasa Selamangleng seorang diri, sebuah prestasi luar biasa yang menunjukkan kesaktiannya.
Namun, keletihan akibat pertempuran membuat Irawan lengah dan akhirnya ia tertangkap oleh Kalasrenggi.
Nasib malang menimpa Bambang Irawan ketika Kalasrenggi menggigit lehernya hingga putus, menewaskan satria muda ini di medan Kurusetra.
Meski begitu, dengan sisa tenaganya, Irawan masih sempat menusukkan kerisnya ke jantung Kalasrenggi, sehingga kedua tokoh ini tewas bersama dalam pertempuran yang epik.
Editor : Winda Atika Ira Puspita