Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kisah Batara Darma: Dewa Keadilan yang Menjalani Kutukan dan Ujian Kehidupan

Tastabila Maika Warditya • Jumat, 11 Oktober 2024 | 21:15 WIB
Wayang Batara Darma.
Wayang Batara Darma.

RADAR PURWOREJO - Batara Darma dikenal sebagai Dewa Keadilan, ia merupakan putra Sanghyang Parma dan cucu dari Sanghyang Taya, serta adik dari Sanghyang Wenang.

Di dunia wayang, Batara Darma tidak hanya menjadi dewa yang disegani, tetapi juga ayah dari Yudhistira atau Puntadewa, salah satu tokoh Pandawa.

Kehadiran Batara Darma di dunia tak lepas dari panggilan Dewi Kunti yang memiliki Aji Adityarhedaya, ajian sakti yang menghubungkan mereka.

Dalam kisahnya Batara Darma tidak menjalankan tugasnya sebagai Dewa Keadilan tanpa tantangan.

Suatu ketika, ia pernah dianggap tidak bijaksana oleh seorang pertapa sakti, Resi Animandaya.

Sang resi merasa diperlakukan tidak adil dan menuntut keadilan, namun Batara Darma tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan.

Akibatnya, ia dikutuk oleh Resi Animandaya dan harus menitis sebagai manusia pincang yang lahir dari seorang wanita sudra.

Kutukan tersebut membuat Batara Darma terlahir sebagai Yamawidura, anak bungsu dari Abiyasa yang ibunya adalah seorang dayang istana bernama Drati.

Dalam wujud ini, Batara Darma tetap melanjutkan peranannya menjaga keadilan, terutama ketika Dewi Drupadi, istri Puntadewa, hendak dipermalukan oleh para Kurawa.

Berkat pertolongan Batara Darma dan Batara Brama, Drupadi dilindungi dan berhasil mempertahankan kehormatannya.

Tidak berhenti di situ, Batara Darma juga menguji rasa keadilan Yudhistira menjelang berakhirnya masa pembuangan Pandawa di Hutan Kamiyaka.

Ia menyamar sebagai raja gandarwa dan mengajukan berbagai pertanyaan sulit kepada Yudhistira.

Jawaban Yudhistira yang selalu memuaskan membuktikan kebijaksanaannya, hingga Batara Darma pun menampakkan wujud aslinya dan menghidupkan kembali adik-adik Yudhistira yang sempat mati dalam ujian tersebut.

Kisah Batara Darma juga berlanjut ketika menjelang akhir kehidupan Pandawa. Batara Darma menjelma menjadi seekor anjing yang setia mengikuti perjalanan Yudhistira menuju puncak Himalaya.

Hanya Yudhistira dan anjing tersebut yang berhasil sampai ke pintu sorga. Namun, ketika anjing itu dilarang masuk oleh penjaga sorga, Yudhistira menolak masuk sebagai bentuk protes terhadap perlakuan yang tidak menghargai kesetiaan.

Pada momen itulah, anjing tersebut berubah kembali menjadi Batara Darma, mengungkapkan kesetiaan dan keadilannya yang sejati.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#dunia pewayangan #Dewa Keadilan #Wayang #Tokoh wayang #pewayangan #Batara Darma