RADAR PURWOREJO - Dalam sebuah kisah penuh intrik dan ketegangan, Prabu Suyudana, penguasa Kerajaan Astina, tengah merencanakan sesuatu yang besar demi kemakmuran kerajaannya.
Ia meminta Kartawijaya, salah seorang punggawa kerajaan untuk menjalankan misi sulit, yaitu mencari bunga Turanggajati, sebuah bunga sakral yang diyakini mampu membawa kemakmuran bagi Astina.
Namun, siapa sangka, pencarian bunga ini membawa petualangan yang tak terduga, bahkan sampai pada ujung pertarungan yang dramatis.
Tak ingin mengecewakan sang raja, Kartawijaya segera memerintahkan Jayamurcita untuk pergi mencari bunga tersebut.
Jayamurcita, sebagai sosok yang tangguh, melangkahkan kaki menuju Pertapaan Jatiwangi, tempat di mana Begawan Kesawasidi tinggal.
Kebetulan, di sana Jayamurcita berjumpa dengan putri sang begawan, Setiawati, yang ternyata jatuh hati padanya.
Setelah hubungan asmara antara Jayamurcita dan Setiawati berujung pada pernikahan, Kesawasidi, sebagai tanda restu, menghadiahkan bunga Turanggajati kepada Jayamurcita.
Namun, di balik keindahan bunga Turanggajati, tersimpan sebuah misteri. Bunga ini ternyata bukanlah sekadar tumbuhan biasa, melainkan seorang wanita sulapan yang dikenal sebagai Endang Turanggajati.
Keadaan semakin tegang ketika Endang Turanggajati dibawa ke istana Astina. Sesampainya di sana, muncul makhluk mengerikan yang wujudnya tak terbayangkan, sosok itu dikenal sebagai Mabunsari.
Belum berhenti di situ, pertarungan sengit tak terelakkan ketika Begawan Kesawasidi sendiri datang ke Astina.
Ia langsung menyerang Kartawijaya, memicu peperangan hebat di kerajaan. Dalam alur yang semakin memanas ini, kenyataan terungkap jika Endang Turanggajati berubah menjadi sosok Dewi Srikandi, seorang pejuang tangguh, sementara Begawan Kesawasidi tak lain adalah Prabu Kresna.
Tak kalah mengejutkan, Jayamurcita, yang tampak seperti prajurit biasa, berubah menjadi Angkawijaya, pahlawan yang berani dan kuat.
Editor : Winda Atika Ira Puspita