RADAR PURWOREJO - Gatotkaca merupakan tokoh pewayangan yang digambarkan sebagai sosok ksatria yang gagah dan pemberani dengan kesaktian yang sulit ditandingi.
Dikisahkan, Gatotkaca sudah memiliki kesaktian sejak dilahirkan.
Gatotkaca sewaktu bayi bernama Jabang Tetuka, dan membuat heboh karena tali pusarnya tidak dapat dipotong sampai umur satu tahun.
Tali pusarnya tidak dapat diputus, walau sudah dicoba dengan berbagai macam senjata pusaka.
Akhirnya Arjuna diberi tugas mencari senjata ampuh untuk keperluan itu dan Arjuna pergi bertapa untuk mendapatkan petunjuk dewa demi menolong nasib keponakannya.
Pada saat yang sama, Karna, panglima Kerajaan Hastina juga sedang bertapa mencari senjata pusaka.
Para dewa pun tahu peristiwa sulitnya memotong tali pusar Jabang Tetuka, sehingga untuk menolongnya Batara Guru mengutus Batara Narada turun ke bumi membawa senjata Kontawijaya untuk diserahkan kepada Arjuna.
Namun Batara Narada membuat kekeliruan, karena wajah Arjuna dan Karna sangat mirip, Batara Narada memberikan senjata Kontawijaya kepada Karna, bukan kepada Arjuna.
Setelah menyadari kesalahannya, Narada pun menemui Arjuna yang sebenarnya. Arjuna lalu mengejar Karna untuk merebut senjata Konta. Pertarungan pun terjadi.
Karna berhasil meloloskan diri membawa senjata Konta, sedangkan Arjuna hanya berhasil merebut sarung pembungkus pusaka tersebut.
Sarung pusaka Konta terbuat dari Kayu Mastaba yang ternyata bisa digunakan untuk memotong tali pusar Jabang Tetuka.
Akan tetapi keajaiban terjadi. Kayu Mastaba musnah dan bersatu dalam perut Jabang Tetuka.
Kresna yang ikut serta menyaksikannya berpendapat bahwa pengaruh kayu Mastaba akan menambah kekuatan bayi Tetuka.
Setelah tali pusarnya putus, Gatotkaca akan dibawa Batara Narada ke Kahyangan untuk menghadapi Kala Sakipu dan Kala Pracona yang mengamuk.
Tentu saja, Bima, ayah Gatotkaca dan Dewi Arimbi, ibu Gatotkaca tidak merelakan anaknya yang baru lahir itu dibawa Narada.
Namun, setelah dijelaskan bahwa menurut ramalan para dewa, Kala Sakipu dan Kala Pracona memang hanya dapat dikalahkan oleh bayi yang dinamakan Tutuka itu, Bima dan Arimbi mengizinkan.
Di kahyangan, Bayi Tutuka langsung ditaruh di hadapan kedua raksasa.
Kala Sakipu langsung memungut bayi itu dan mengunyahnya, tetapi Tubuhnya tetap utuh, walaupun raksasa itu mengunyah kuat-kuat, dan karena kesal bayi itu dibantingnya sekuat tenaga ke tanah, sehingga Tutuka pingsan.
Setelah ditinggal pergi kedua raksasa itu, Bayi Tutuka diambil olah Batara Narada, dan dimasukkan ke Kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa dan para dewa kemudian melemparkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah.
Di sini Gatotkaca digembleng oleh Empu Batara Anggajali, dan beberapa saat kemudian setelah penggemblengan selesai, Tetuka muncul ke permukaan sebagai seorang laki-laki dewasa yang gagah perkasa.
Segala jenis pusaka para dewa telah melebur dan bersatu ke dalam dirinya.
Para dewa lalu menyuruhnya melawan bala tentara raksasa yang dipimpin oleh Prabu Kala Pracona dan Patih Kala Sakipu lagi.
Gatotkaca ternyata sanggup menunaikan tugas itu dengan baik.
Kala Pracona dan Kala Sakipu dapat dibunuh oleh Tetuka atau Gatotkaca. (Shofiyullah)
Editor : Meitika Candra Lantiva