RADAR PURWOREJO – Parasara atau Palasara merupakan anak dari Begawan Sakri, cucu dari Sakutrem, dan cicit dari Manumayasa.
Parasara lahir di keraton Tabelosuket, kemudian dibawa ayahnya ke Saptaharga.
Di tempat inilah ia diberi nama Parasara yang memiliki arti senjata yang ampuh.
Nama itu adalah anugrah dari Sang Hyang Jagatnata yang disampaikan oleh Sang Hyang Narada.
Parasara memiliki watak yang halus, penuh semangat, pendiam, namum memiliki banyak pengetahuan pengobatan, cinta dan kasih kepada semua makhluk hidup, dan berwajah tampan.
Semenjak kecil Parasara harus mandiri, karena sudah ditinggal mati oleh ibunya, Dewi Sati.
Ayahnya, Begawan Sakri, telah kehilangan semangat setelah ditinggal mati istrinya, dan mati diterkam Gandarwa Citrasena, menyebabkan Parasara menjadi anak yatim piatu sejak kecil.
Suatu saat, ketika Parasara mengenal apa arti kehidupan, ia menjadi tekun bertapa.
Ia yakin bahwa kehidupan manusia pasti ada yang merencanakan. Sehingga ia memohon kepada sang perencana, mudah-mudahan ada manfaat dalam menjalani hidup.
Suatu ketika, Parasara bertapa hingga di atas kepalanya dibuat sarang oleh sepasang burung.
Waktu berlalu hingga burung itu bertelur dan telur itu menetas menjadi anak burung.
Tapi ada suatu hal yang membuat Parasara merasa iba pada anak burung itu, karena sejak menetas kedua induk burung tidak mau merawat anaknya.
Karena merasa iba, Parasara membawa anak burung itu ke induknya.
Namun induk burung selalu menghindar dan pergi.
Parasara tetap tidak menyerah, hingga induk burung pergi ke sebrang Sungai yang disebut Sungai Yamuna. Parasara tidak dapat menyebrangi sungai, hingga hampir menyerah saja.
Namun tiba-tiba Parasara melihat sebuah perahu yang diatasnya ada seorang Perempuan cantik.
Lalu Parasara memanggil perempuan itu, yang tidak lain adalah Durgandini, untuk membantunya menyebrangi sungai.
Saat itu panas terik, Durgandini sampai mengucurkan keringat. Namun ketika keringat bercucuran, tercium bau anyir dari Durgandini.
Hal ini membuat Parasara bingung, perempuan secantik itu memiliki bau keringat yang sangat menyengat. Karena rasa iba, Parasara mengusap keringat dari Durgandini.
Namun tiba-tiba, perahu terguncang dan terbelah menjadi dua, yang mengakibatkan mereka berdua tercebur ke sungai dan terbawa arus sungai.
Mereka terdampar di suatu pulau. Cuaca masih sangat terik kala itu, hingga Durgandini berkeringat.
Tapi tidak seperti sebelumnya yang berbau anyir, saat itu aroma harum yang tercium.
Sontak Durgandini kaget dan merasa bahagia karena penyakit bau keringatnya telah hilang.
Sejak saat itu nama Durgandini berubah menjadi Kasturigandi, dan sejak waktu itu Parasara dan Durgandini hidup bersama dan menjadi pasangan suami istri, dan melahirkan seorang anak laki-laki yang berkulit hitam dengan nama Wyasa atau Abiyasa. (Shofiyullah)
Editor : Meitika Candra Lantiva