GUNUNGKIDUL - Suasana Dusun Siyono B, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, dipenuhi gelak tawa dan sorak-sorai penonton di Festival Bedhidhig 2025, Minggu malam (13/9). Wayang Uwuh tampil unik karena terbuat dari bahan daur ulang bekas galon kemasan. Pertunjukan ini bukan hanya hiburan, melainkan pesan tentang kepedulian lingkungan.
Dalang muda asal Kalurahan Petir Gunungkidul Bambang Wijonarko membawakan lakon Wayang Uwuh dengan gaya segar dan sarat pesan lingkungan. Ia menyisipkan isu-isu nyata yang dialami masyarakat.
Mulai dari banjir akibat sampah di luweng atau goa vertikal, anjloknya harga gaplek karena cuaca, hingga dampak pestisida kimia yang menggerus ekosistem lokal.
“Pupuk kimia juga membuat hewan khas Gunungkidul, seperti walang, makin jarang ditemui. Dari situ lah ide cerita ini lahir,” ungkap Bambang saat ditemui seusai pementasan pada Sabtu malam, (13/9).
Menurutnya Wayang Uwuh lahir dari keprihatinan akan kondisi lingkungan sekaligus menjadi simbol kreativitas generasi muda. Dengan bahan sederhana dari sampah galon kemasan plastik, anak-anak muda Siyono berhasil menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik.
Gelak tawa penonton malam itu seakan menjadi bukti bahwa pesan moral bisa sampai lewat seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Wayang ini bukan hanya tentang melestarikan budaya, tapi juga mengajak orang peduli lingkungan. Semoga dari sini anak muda makin cinta seni sekaligus menjaga alam,” jelas Bambang.
Ia menilai wayang adalah media efektif untuk menyampaikan ajakan perubahan. Peran inilah yang dimainkan Bambang, baginya jika pembawaan cerita oleh dalang disajikan dengan serius tanpa canda, penonton akan cepat merasa bosan. Sehingga, teknik humor dan satir dibawakan Bambang dalam pedalangan agar pesan dan cerita bisa tersampaikan.
Tak hanya masyarakat lokal, penonton juga berdatangan dari Sleman, Kulon Progo, hingga Wonogiri. Pementasan Wayang Uwuh di Festival Bedhidhig melibatkan 13 anak muda dari Dusun Siyono.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Ajak Satukan Hati, Satukan Semangat di Hari Pelanggan Nasional
Mereka membentuk tim lengkap, dari dalang hingga karawitan, yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP dan SMA. Salah satunya adalah Wahyu Setiawan, siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Rongkop yang bertugas sebagai penabuh kendang.
Wahyu bercerita dirinya sudah belajar seni sejak kelas 2 SD. Awalnya ia terbiasa menabuh untuk kesenian jathilan. Namun mengiringi wayang memerlukan keterampilan berbeda. “Tabuhan jathilan dan wayang tidak sama. Ritmenya beda, perlu penyesuaian. Ini tantangan sekaligus pengalaman berharga bagi kami,” terangnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo