Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Dolalak: Tari Tradisional yang Menyimpan Kisah Panjang Kolonialisme dan Kreativitas Lokal

Bahana. • Selasa, 11 November 2025 - 18:36 WIB
Photo
Photo

RADAR PUROREJO - Purworejo bukan hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga sebagai tempat lahirnya salah satu kesenian khas Jawa Tengah yang sarat akan sejarah.

Tari Dolalak, tarian ini begitu unik karena memadukan unsur gerak tari, musik, dan pencak silat, serta menyimpan kisah menarik tentang bercampurnya budaya lokal dengan pengaruh kolonial Belanda.

Purworejo pada masa kolonial Belanda pernah memegang peranan penting dan strategis. Bahkan, wilayah ini sempat disebut-sebut akan dijadikan calon ibukota darurat Hindia Belanda pada waktu itu.

Dalam proses pengembangannya, pemerintah kolonial merancang tata kota Purworejo dengan konsep Old Indische Stad, yaitu gaya arsitektur klasik khas Eropa yang juga banyak diterapkan di kota-kota di Belanda.

Dolalak, atau yang kerap disebut Ndolalak oleh masyarakat setempat, merupakan salah satu warisan budaya khas Jawa Tengah, khususnya dari daerah Purworejo.

Nama Dolalak sendiri berasal dari interpretasi nada musik pengiring tarian tersebut. Nada Do (1), La (6), dan La (6) yang sering dimainkan oleh orang Belanda pada masa itu kemudian dilafalkan oleh lidah orang jawa menjadi Dolalak.

Awalnya, Dolalak hanya ditampilkan oleh penari laki-laki. Namun, seiring waktu, muncul kelompok-kelompok penari perempuan yang justru membuat tarian ini semakin populer.

Kostum para penari juga khas, mengenakan baju hitam dengan ornamen emas, sepatu boot, dan topi seperti seragam militer Belanda tempo dulu menjadi simbol dari jejak kolonial yang menjadi bagian sejarah tarian Dolalak.

Tarian Dolalak sempat mengalami masa sulit ketika terjadi Agresi Militer Belanda I dan pemberontakan G30S/PKI. Situasi politik yang penuh ketegangan membuat banyak penari Dolalak terpaksa meninggalkan Purworejo, bahkan ada yang menjadi korban jiwa.

Meski begitu, eksistensi tarian ini tidak benar-benar hilang. Dolalak tetap bertahan dan berkembang, bahkan kini menjadi ikon budaya Purworejo yang sering tampil di berbagai festival, acara kenegaraan, hingga pentas internasional.

Bahkan, sekarang telah berkembang dengan komunitas muda yang ikut melestarikannya dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan nilai aslinya.

Dolalak menjadi bukti bahwa budaya tidak pernah berhenti berkembang. Dari kisah serdadu kolonial hingga panggung modern, kesenian ini mengajarkan bagaimana masyarakat mampu beradaptasi dan menjadikan warisan masa lalu sebagai identitas yang patut dibanggakan.

Karena pada akhirnya, setiap hentakan kaki dan irama Dolalak bukan sekedar tarian, melainkan cerita panjang tentang warisan, kebanggaan, dan jiwa sebuah daerah yang tak lekang oleh waktu.

Penulis: Alif Rizki Wahyu N K
Sumber: Radar Semarang

Editor : Bahana.
#tari Dolalak #Purworejo