Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Lontong Cap Go Meh, Simbol Akulturasi Budaya di Tanah Jawa

Magang Radar Purworejo • Selasa, 3 Maret 2026 | 15:36 WIB

Lontong cap go meh Ny. Kartika Tjandra di Metro Atom, Pasar Baru.(Antara/Putri Hanifa)
Lontong cap go meh Ny. Kartika Tjandra di Metro Atom, Pasar Baru.(Antara/Putri Hanifa)
Setiap perayaan Cap Go Meh, yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, aroma santan dan rempah khas Jawa selalu menguar dari dapur keluarga Tionghoa di Indonesia.

Di meja tersaji hidangan khas yang tidak ada di Tiongkok: Lontong Cap Go Meh. Hidangan ini menjadi bukti hidup harmonisasi budaya antara masyarakat Tionghoa perantau dan penduduk lokal di pesisir Jawa.

Selain menikmati makanan, perayaan ini menjadi momen berkumpul bersama keluarga dan sahabat.

Ucapan-ucapan positif pun mengalir, membawa harapan kemakmuran dan keberuntungan untuk tahun baru.

Tradisi dan pantangan yang dijaga juga diyakini memengaruhi keberuntungan, membuat perayaan ini sarat makna dan nilai budaya.

Perubahan dari Yuanxiao ke Lontong

Dalam tradisi di Tiongkok, perayaan Cap Go Meh, hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, identik dengan hidangan yuanxiao atau tangyuan, yakni bola-bola nasi ketan yang disajikan manis.

Ada pula bubur putih sederhana sebagai simbol kesahajaan dan kebersamaan keluarga.

Namun, ketika perantau Tionghoa menetap di Jawa, bubur putih diganti lontong agar sesuai dengan selera lokal.

Dari adaptasi ini lahirlah Lontong Cap Go Meh, simbol penerimaan budaya dan inovasi kuliner.

Perpaduan rempah Jawa dan tradisi Tionghoa mencerminkan lahirnya budaya Peranakan, termasuk dalam urusan dapur.

Dalam tradisi Tiongkok, perayaan Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek identik dengan hidangan yuanxiao atau tangyuan, yakni bola-bola nasi ketan manis.

Terdapat pula bubur putih sederhana sebagai simbol kesahajaan dan kebersamaan keluarga.

Namun, ketika para perantau Tionghoa menetap di Jawa, bubur putih diganti dengan lontong agar lebih sesuai dengan selera lokal. Dari adaptasi ini lahirlah Lontong Cap Go Meh, yang menjadi simbol inovasi kuliner.

Makna Filosofis di Balik 9 Komponen Utama

Lontong Cap Go Meh tradisional terdiri dari sembilan lauk-pauk, dalam kosmologi Tionghoa angka sembilan melambangkan kesempurnaan dan keberuntungan. Berikut adalah makna di balik lauk-pauknya:

Lontong: Bentuknya yang panjang melambangkan harapan akan umur panjang.

Opor Ayam: Kuah santan yang kuning keemasan melambangkan kemakmuran dan kekayaan.
Sambal Goreng Ati: Rasannya yang pedas dan merah melambangkan semangat dan keberanian hidup.

Sayur Lodeh/Labu Siam: Melambangkan kelimpahan hasil bumi.

Telur Pindang: Berwarna cokelat gelap, melambangkan kesuburan dan keutuhan keluarga.

Bubuk Koya (Kedelai): Memberikan rasa gurih, melambangkan kemurnian hati.

Acar Kuning: Rasa asam-manisnya melambangkan dinamika kehidupan yang harus dijalani dengan syukur.
Sambal Terasi: Unsur lokal yang memperkuat cita rasa nusantara.
Kerupuk Udang: Melambangkan keceriaan dan pelengkap kebahagiaan.

Keunikan yang Hanya Ada di Jawa

Menariknya, Lontong Cap Go Meh menjadi kuliner yang khas lokal. Hidangan ini nyaris tidak ditemukan dalam perayaan Cap Go Meh di Tiongkok.

Semarang dan Surabaya pun sering disebut sebagai dua kota yang paling lekat dengan tradisi ini.

Di kota-kota tersebut, Lontong Cap Go Meh tidak hanya hadir di meja rumah keluarga Peranakan, tetapi juga menjadi bagian penting dari perayaan yang melibatkan lintas etnis, memperkuat ikatan sosial dan rasa kebersamaan.

Inilah yang membuat lontong ini lebih dari sekadar hidangan perayaan, ia menjadi simbol persatuan, akulturasi budaya, dan identitas lokal yang hidup dari generasi ke generasi.


Penulis : Lutfiyah Salsabil

Editor : Bahana.
#Tanah Jawa #akulturasi budaya #lontong cap go meh