Keris kerap diidentikkan sebagai simbol maskulinitas dan dunia laki-laki. Namun, pameran pusaka yang digelar di Grha Keris Jogjakarta mencoba mendobrak stigma tersebut dengan mengangkat posisi perempuan dalam sejarah panjang tosan aji.
Pameran yang bertajuk ’Merintis Pewaris’ yang berlangsung dari Jumat sampai Senin (17-20/4) ini secara khusus memamerkan sekitar 40 bilah keris yang memiliki keterkaitan erat dengan kaum hawa.
Menariknya, pameran ini tidak hanya menampilkan keris milik perempuan, tetapi juga karya dari para empu perempuan yang jejaknya terekam sejak era Kerajaan Pajajaran.
Kurator Pameran Taufiq Hermawan menjelaskan, sebenarnya keterlibatan perempuan dalam dunia keris bukanlah hal baru. Dalam naskah-naskah lama, terdokumentasi ada nama-nama besar seperti Mbok Sombro, Empu Anjani, hingga Empu Roro Sombogo yang sudah bergelut dengan dunia tosan aji tersebut.
"Di beberapa naskah lama ada catatan keris-keris yang diciptakan oleh empu perempuan. Jejaknya bahkan sudah ada sejak masa (Kerajaan) Pajajaran sekitar tahun 1200-1300 Masehi," katanya, Sabtu (18/4).
Meski begitu, menurut Taufiq, produk keris buatan perempuan itu biasanya memiliki karakteristik fisik yang berbeda dari buatan laki-laki. Bentuknya cenderung lebih pendek dan sederhana seperti jenis Patrem atau Cundrik.
Secara fungsional, lanjut Taufiq, pada masa lalu keris-keris tersebut digunakan untuk kebutuhan spiritual kewanitaan, seperti sarana keselamatan saat proses melahirkan atau penolak bala.
Taufiq berharap pameran ini bisa mengedukasi masyarakat, khususnya bagi para ahli waris perempuan yang seringkali merasa ragu atau takut saat menyimpan keris keluarga.
Sebab ia sangat menyayangkan adanya kecenderungan masyarakat saat ini yang ingin membuang keris karena alasan ketidaktahuan atau ketakutan akan hal mistis. "Padahal di beberapa tradisi, seperti di Kediri, justru anak perempuan bungsu yang berhak merawat pusaka keluarga," tegasnya.
Kepala Kundha Kabudayan DIJ Dian Lakhsmi Pratiwi menyebut tema Merintis Pewaris itu dipilih sebagai respons atas tantangan zaman yang membuat tradisi keris belum sepenuhnya dekat dengan generasi muda.
Harapannya, dari pameran ini lahir pewaris-pewaris baru yang memahami keris dari berbagai aspek dan nilai pentingnya. "Tentu saja belajar tentang keris tidak semata hanya sebagai senjata, tetapi nilai-nilai tertib yang berada di balik keris, filosofi, historis yang di dalamnya menjadi bagian yang penting," tuturnya. (ayu/pra)
Editor : Heru Pratomo