Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kisah Pandawa: Ambisi Duryudana Kuasai Amarta, Prabu Kirmira Tewas di Tangan Bima di Hutan Kamyaka

Jihad Rokhadi • Senin, 4 Mei 2026 | 14:17 WIB
Bima menghadapi Prabu Kirmira
Bima menghadapi Prabu Kirmira

 

RADAR JOGJA – Ambisi Prabu Duryudana untuk menguasai Kerajaan Amarta semakin nyata setelah Pandawa menjalani hukuman pengasingan selama tiga belas tahun. Momentum ini dimanfaatkan Kurawa untuk memperluas kekuasaan mereka.

Di Kerajaan Hastina, Duryudana menggelar pertemuan bersama Danghyang Druna, Patih Sangkuni, Adipati Karna, dan Kartawarma. Dalam forum tersebut, Duryudana menegaskan rencananya untuk menempatkan kekuatan Kurawa di Amarta, yang ditinggalkan Pandawa.

Danghyang Druna sempat mengingatkan bahwa kemenangan melalui permainan dadu merupakan kemenangan yang memalukan, terlebih setelah terjadinya pelecehan terhadap Dewi Drupadi di hadapan para bangsawan. Namun, Patih Sangkuni menilai keadaan sudah tidak dapat diubah.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Wayang: Parasara Ayah Dari Abiyasa yang Berwatak Halus

Jayadrata Ditugaskan, Kirmira Muncul sebagai Sekutu

Duryudana kemudian menunjuk Adipati Jayadrata untuk menguasai Amarta. Namun, Jayadrata mengaku ragu menghadapi putra-putra Pandawa yang dikenal sakti.

Keraguan itu terjawab setelah muncul Prabu Kirmira dari Kerajaan Ekacakra. Ia menawarkan aliansi kepada Duryudana dengan tujuan membalas kematian ayahnya, Prabu Baka, yang dahulu tewas oleh Bima atau Arya Wrekodara.

“Musuh dari musuh adalah teman,” menjadi dasar Kirmira menawarkan kerja sama kepada Kurawa.

Duryudana menyambut baik tawaran tersebut dan langsung mengutus Kirmira bersama Jayadrata untuk merebut Amarta.

Putra Pandawa Terdesak, Amarta Jatuh ke Kurawa

Di Amarta, para putra Pandawa seperti Antareja, Gatutkaca, hingga Abimanyu bersiap mempertahankan kerajaan. Mereka menolak menyerahkan wilayah tersebut karena menganggap kemenangan Kurawa diperoleh secara curang.

Namun, serangan Prabu Kirmira yang didukung pasukan raksasa membuat pertahanan Amarta runtuh. Setelah pertempuran sengit, pasukan Pandawa terpaksa mundur dan meninggalkan Amarta.

Kerajaan tersebut akhirnya dikuasai Kurawa melalui Adipati Jayadrata.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Wayang: Pandhu Dewanata, Kisah Singkat Hingga Menjadi Raja

Konflik Internal Hastina, Yamawidura Diusir

Sementara itu, di Hastina, terjadi ketegangan internal. Adipati Yamawidura memohon agar hukuman pengasingan Pandawa dibatalkan karena dianggap tidak adil.

Ia juga menuding Patih Sangkuni melakukan kecurangan dalam permainan dadu. Tuduhan ini memicu kemarahan Dewi Gandari dan Prabu Dretarastra.

Yamawidura akhirnya diusir dari istana dan memilih menyusul Pandawa ke Hutan Kamyaka.

Pertempuran di Hutan Kamyaka, Kirmira Tewas

Situasi memanas ketika Prabu Kirmira mengejar putra-putra Pandawa hingga ke Hutan Kamyaka. Di sana, ia menantang langsung Arya Wrekodara.

Pertarungan sengit tidak terelakkan. Bima akhirnya berhasil mengalahkan Kirmira dan menewaskannya dengan kekuatan luar biasa.

Kemenangan ini menjadi pukulan bagi kekuatan baru Kurawa.

Pandawa Teguh Jalani Pengasingan

Meski mendapat tekanan dan tawaran bantuan dari sekutu seperti Prabu Kresna dan Drestadyumna, Prabu Puntadewa tetap berpegang pada perjanjian.

Ia menegaskan bahwa hukuman pengasingan harus dijalani hingga tuntas.

Dewi Drupadi pun menunjukkan keteguhan yang sama. Ia menolak kembali ke Pancala dan memilih tetap mendampingi Pandawa di hutan.

Kresna Siap Lindungi Keluarga Pandawa

Dalam kunjungannya, Prabu Kresna menyatakan kesiapannya melindungi keluarga Pandawa selama masa pengasingan berlangsung.

Sementara itu, para putra Pandawa kembali ke wilayah masing-masing untuk menghindari konflik lanjutan.

Editor : Jihad Rokhadi
#Cerita Wayang #Pandawa #Hastinapura #Budaya #Wayang