Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kisah Kelahiran Kurawa dan Bima Bungkus: Asal-usul Perseteruan Abadi Dua Darah Barata

Jihad Rokhadi • Selasa, 5 Mei 2026 | 14:52 WIB

kelahiran kurawa

kelahiran kurawa

 
Kisah Kelahiran Kurawa dan Bima Bungkus

Dewi Gendari Melahirkan Gumpalan Daging

Dewi Gendari, istri Adipati Dretarastra di Kadipaten Gajahoya, tengah diselimuti kecemasan. Usia kandungannya telah menginjak dua tahun, namun tanda-tanda kelahiran belum juga tampak. Meski telah meminta petunjuk kepada Bagawan Abyasa, sang mertua hanya menasihatinya untuk bersabar. Sang bagawan meramalkan bahwa Dewi Gendari mengandung seratus orang anak, sehingga proses kehamilannya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada perempuan pada umumnya.

Ketidaksabaran justru memuncak pada diri Adipati Dretarastra. Sang suami mulai mempertanyakan apakah yang berada di dalam rahim istrinya adalah bayi atau sekadar penyakit. Kalimat tersebut menyinggung perasaan Dewi Gendari sedemikian rupa. Diselimuti rasa sakit hati, ia mengunci diri di dalam kamar dan memukuli perutnya dengan keras.

Akibat tindakan nekat tersebut, janin di dalam rahimnya terdorong keluar. Namun, alih-alih seorang bayi, yang lahir justru segumpal daging merah yang mengembang dan mengempis seolah-olah sedang bernapas. Kecewa dan ngeri melihat wujud tersebut, Dewi Gendari membanting gumpalan daging itu ke lantai hingga hancur menjadi potongan-potongan kecil, lalu menjerit histeris.

Mendengar jeritan itu, Adipati Dretarastra dan Arya Suman bergegas masuk. Di lantai, mereka mendapati potongan-potongan daging yang anehnya tetap bergerak seperti bernapas. Arya Suman segera mengumpulkan seratus potongan daging tersebut. Menyadari kesalahannya, Adipati Dretarastra meminta maaf kepada sang istri, memanggil tabib, dan mengutus Arya Suman untuk melaporkan kejadian ini kepada Prabu Pandu di Istana Hastina.

Baca Juga: Kisah Lahirnya Puntadewa: Siasat Buah Surga Resi Druwasa dan Awal Mula Awangga Takluk pada Hastina

Serangan Pasukan Raksasa Pringgadani di Hastina

Di Kerajaan Hastina, Prabu Pandu sedang mengadakan pertemuan bersama Resiwara Bisma, Raden Yamawidura, Patih Gandamana, Resi Krepa, dan Arya Banduwangka. Mereka tengah mencemaskan kondisi Dewi Gendari. Baru saja Prabu Pandu hendak berangkat ke Gajahoya untuk menjenguk, istana dikejutkan oleh kedatangan Raden Baka, adik dari Prabu Tremboko yang memimpin Kerajaan Pringgadani.

Raden Baka datang membawa sepasukan raksasa untuk menantang Prabu Pandu. Ia ingin membalaskan dendam masa lalu atas kematian leluhurnya, Prabu Kuramba dan Prabu Rambana, yang tewas di tangan Resi Manumanasa (leluhur Prabu Pandu). Meskipun Kerajaan Pringgadani sebenarnya telah lama menjalin persahabatan dengan Kerajaan Wirata (sekutu Hastina), Raden Baka tetap memelihara dendam pribadi tersebut.

Patih Gandamana dengan tegas maju menghadapi tantangan itu demi melindungi kewibawaan Prabu Pandu. Pertempuran sengit pun meletus di luar istana. Menjelang sore, pasukan raksasa berhasil dipukul mundur oleh kesaktian Patih Gandamana. Raden Baka yang kewalahan akhirnya menarik sisa pasukannya dan berjanji akan kembali menuntut balas suatu hari nanti.

Setelah situasi kondusif, Arya Suman tiba dan menyampaikan kabar tentang kelahiran gumpalan daging Dewi Gendari. Mendengar laporan tersebut, Prabu Pandu bersama Resiwara Bisma dan Raden Yamawidura segera berangkat ke Gajahoya, sementara Patih Gandamana tetap berjaga di Hastina.

Ruwatan Seratus Potong Daging oleh Bagawan Abyasa

Setibanya di Gajahoya, Resiwara Bisma menyarankan agar Adipati Dretarastra meminta bantuan Bagawan Abyasa untuk mengatasi keajaiban seratus potongan daging tersebut. Prabu Pandu kemudian mengutus Raden Yamawidura bersama para punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) ke Gunung Saptaarga untuk menjemput sang bagawan.

Bagawan Abyasa bersedia membantu, meski batinnya mendapat firasat bahwa seratus daging itu kelak akan tumbuh menjadi manusia yang selalu memusuhi anak-anak Prabu Pandu. Namun, sebagai tetua, beliau memilih bersikap adil dan tidak pilih kasih. Di tengah perjalanan kembali ke Gajahoya, rombongan sempat dihadang sisa pasukan Raden Baka, tetapi Raden Yamawidura berhasil menumpas mereka.

Di Gajahoya, Bagawan Abyasa memasukkan setiap potongan daging ke dalam periuk yang berbeda, sehingga tersedia seratus periuk yang masing-masing ditutup daun talas. Setelah menggelar upacara sesaji dan merapalkan mantra, beliau berpesan agar periuk-periuk tersebut dijaga ketat selama tiga puluh lima hari. Arya Suman menawarkan diri untuk mengembas tugas menjaga periuk tersebut. Sebelum kembali ke padepokan, Bagawan Abyasa berpesan agar anak-anak Dretarastra kelak dinamakan Kurawa (keturunan Kuru), sedangkan anak-anak Prabu Pandu dinamakan Pandawa (keturunan Pandu).

Baca Juga: Kisah Pandawa: Raden Suyudana Resmi Jadi Pangeran Mahkota Hastina, Intrik Istana dan Kisah Bima Tumbangkan Prabu Baka

Lahirnya Raden Bima yang Terbungkus

Tiga puluh empat hari kemudian di Istana Hastina, Prabu Pandu bermaksud memberikan adik bagi putra sulungnya, Raden Puntadewa, yang telah berusia dua tahun. Akibat kutukan masa lalu dari Resi Kindama yang melarang Pandu menyentuh istrinya, keturunan mereka diperoleh melalui sarana gaib berupa buah Mangga Pertanggajiwa pemberian Resi Druwasa.

Dewi Kunti menyatukan cipta dan memanggil Batara Bayu. Sang dewa angin turun dan membantu mematangkan benih di rahim Dewi Kunti hanya dalam waktu satu hari. Namun, bayi kedua ini lahir dalam kondisi yang tidak biasa: tubuhnya diselimuti selaput keras yang tidak dapat dirobek oleh senjata apa pun.

Batara Bayu menjelaskan bahwa bayi tersebut memang ditakdirkan menjalani tapa brata di dalam bungkusnya. Kelak, dewata akan mengirimkan makhluk khusus untuk membuka selaput tersebut, dan sang anak akan keluar sebagai sosok yang sakti mandraguna. Atas petunjuk dewa, Prabu Pandu memberi bayi itu nama Raden Bima (yang berarti dahsyat mengerikan) dan meletakkannya di tengah Hutan Mandalasana.

Kelahiran Lahirnya Raden Suyudana dan Para Kurawa

Tepat pada hari ketiga puluh lima setelah ruwatan, langit Hastina mendadak gelap gulita diiringi petir yang menggelegar dan lolongan anjing hutan yang mencekam. Fenomena alam ini mengiringi pecahnya periuk pertama yang melahirkan seorang bayi laki-laki tampan. Raden Yamawidura memperingatkan bahwa tanda-tanda alam tersebut adalah isyarat bahwa sang bayi akan menjadi sumber malapetaka di dunia, sehingga ia menyarankan agar bayi itu dibunuh demi keselamatan masa depan.

Namun, Arya Suman menyanggah argumen tersebut karena menganggap suara alam tidak bisa serta-merta diasosiasikan dengan sang bayi. Adipati Dretarastra yang sempat ragu akhirnya batal membunuh bayinya setelah menyadari bahwa putra sulungnya itu tidak mewarisi kebutaan matanya. Bayi itu diberi nama Raden Suyudana (unggul dalam perang).

Pada hari-hari berikutnya, periuk-periuk lain mulai pecah satu demi satu. Lahirlah Raden Dursasana yang gemar tertawa, disusul Raden Surtayu, Raden Durmagati, hingga periuk kesembilan puluh sembilan yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Sebagai penutup, periuk keseratus melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Dewi Dursilawati. Lengkap sudah kelahiran Sata Kurawa atau seratus Kurawa.

Baca Juga: Kisah Pandawa : Sesaji Rajasuya, Bima Menumbangkan Prabu Jarasanda hingga Awal Konflik Besar Kurawa

Persahabatan Baru Hastina dan Pringgadani

Sebagai wujud syukur atas kelahiran para keponakannya, Prabu Pandu menggelar pesta rakyat selama tujuh hari tujuh malam di alun-alun Hastina. Di sisi lain, Raden Yamawidura memilih melewatkan pesta tersebut demi menjaga keponakannya, bayi Bima yang terbungkus di Hutan Mandalasana.

Pada hari terakhir perayaan, ketenangan terusik oleh serangan langsung Prabu Tremboko, Raja Pringgadani, yang ingin membalas kekalahan adiknya, Raden Baka. Prabu Pandu menghadapi sendiri sang raja raksasa dan berhasil melumpuhkannya dengan Aji Pangrupak Jagad hingga tubuh Prabu Tremboko tertanam di tanah sebatas dada.

Melihat musuhnya menyerah dan menunjukkan penyesalan yang tulus, Prabu Pandu membebaskannya. Tak lama kemudian, seorang pelayan raksasa datang mengabarkan bahwa permaisuri Prabu Tremboko baru saja melahirkan sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan. Prabu Tremboko seketika dilingkupi penyesalan karena telah meninggalkan istrinya demi hasutan perang.

Kebaikan hati Prabu Pandu yang justru ikut merayakan kabar gembira tersebut membuat Prabu Tremboko terharu dan menyatakan tunduk sebagai sahabat sekaligus murid. Prabu Pandu memberikan nama bagi sepasang anak raksasa tersebut: Raden Arimba untuk sang putra dan Dewi Arimbi untuk sang putri, seraya mendoakan agar keduanya tumbuh menjadi pribadi yang berbudi luhur. Kisah berakhir dengan jalinan persahabatan baru antara Hastina dan Pringgadani, sementara Raden Baka yang kecewa memilih pergi mengasingkan diri.

Editor : Jihad Rokhadi
#hastina #Cerita Wayang #Pandawa #Wayang #kurawa