RADAR PURWOREJO – Jagat pewayangan Jawa kaya akan kisah-kisah penuh filosofi dan keteladanan. Salah satu lakon yang paling ikonik dan sering dipentaskan adalah kisah Bima Bungkus. Lakon ini menceritakan kelahiran dramatis Raden Bima, putra kedua Prabu Pandu Dewanata, yang harus menghabiskan waktu selama 14 tahun di dalam sebuah selaput ajaib sebelum akhirnya mengguncang dunia sebagai kesatria perkasa.
Bagaimana lika-liku perjuangan sang Pandawa nomor dua ini hingga mendapatkan nama Raden Bimasena dan senjata Kuku Pancanaka? Yuk, simak ulasan mendalam khas Radar Purworejo berikut ini!
Misteri 14 Tahun di Hutan Mandalasana
Kisah bermula di istana Kerajaan Hastina. Prabu Pandu Dewanata tengah menggelar pisowanan agung yang dihadiri tokoh-tokoh penting seperti Resiwara Bisma, Adipati Dretarastra, Raden Yamawidura, Patih Gandamana, Resi Krepa, dan Arya Suman (yang kelak dikenal sebagai Patih Sengkuni).
Agenda utamanya adalah membahas nasib bayi Raden Bima yang sejak lahir berwujud bungkus tak kasat mata dan diasingkan di Hutan Mandalasana. Selama 14 tahun, tidak ada satu pun senjata di bumi yang mampu merobek selaput pembungkus tersebut.
Namun, titik terang muncul setelah Prabu Pandu mendapat wangsit dari dewa bahwa sang putra akan segera lahir. Prabu Pandu mengutus Raden Yamawidura dan Patih Gandamana untuk menjemput sang bayi, sebuah keputusan yang memicu kecemburuan dan niat jahat di hati Arya Suman.
Baca Juga: Kisah Kelahiran Kurawa dan Bima Bungkus: Asal-usul Perseteruan Abadi Dua Darah Barata
Kelicikan Arya Suman dan Hadangan Pasukan Bertopeng
Arya Suman yang licik melihat kelahiran Bima sebagai ancaman besar bagi masa depan keponakannya, para Kurawa (anak-anak Dretarastra). Ia pun menyusun rencana busuk. Arya Suman mengutus adiknya, Aryaprabu Anggajaksa, untuk menghadang rombongan Yamawidura dengan pasukan bertopeng. Sementara adiknya yang lain, Aryaprabu Sarabasanta, dikirim ke Hutan Mandalasana untuk membantai Bima Bungkus.
Nahas bagi Sarabasanta, alih-alih hancur, Bima Bungkus justru mengembang-kempis dan mengeluarkan suara menggeram seperti singa. Saat dihujani senjata, Bima Bungkus justru menggelinding dahsyat bak batu raksasa dan mengeluarkan angin topan yang mengempaskan pasukan Gandaradesa. Rencana pembunuhan itu pun gagal total!
Turunnya Gajah Sena dan Lahirnya Raden Bimasena
Melihat waktu spiritual Bima sudah genap, Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka mengutus Batara Bayu dan sebuah gajah perkasa bernama Gajah Sena untuk meruwat si bungkus.
Sebelum bungkus dibuka, Batara Bayu menyusup ke dalam untuk memberikan busana kesatria lengkap kepada Bima, mulai dari Pupuk Mas Jarot Asem, Kain Poleng Bang Bintulu Aji, hingga Ikat Pinggang Cinde Bara.
Setelah itu, giliran Gajah Sena yang beraksi. Menggunakan gadingnya yang sakti, Gajah Sena merobek bungkus tersebut. Begitu keluar, sosok pemuda tinggi besar berusia 14 tahun langsung berdiri tegap.
Untuk menguji kekuatannya sekaligus menyatukan takdir, Gajah Sena menyerang Bima. Pertarungan sengit terjadi hingga Bima berhasil mematahkan gading Gajah Sena. Seketika, gajah kahyangan itu musnah dan rohnya menyatu ke dalam tubuh Bima.
Patahan gadingnya meresap ke jempol tangan Bima, membentuk senjata legendaris bernama Kuku Pancanaka. Karena bersatunya jiwa raga dengan Gajah Sena, Batara Bayu memberinya nama Raden Bimasena.
Jejak Selaput Bungkus: Lahirnya Raden Jayadrata
Ada detail menarik yang jarang disadari. Selaput pembungkus Bima yang robek tidak dibuang begitu saja. Batara Narada membawa sisa selaput tersebut ke Kadipaten Banakeling atas perintah dewa.
Selaput itu diserahkan kepada Adipati Sapwani dan Dewi Drata yang sudah puluhan tahun mendambakan anak. Setelah direndam dalam Tirta Kaskaya (air hujan pertama) dan diminum, Dewi Drata mengandung. Anak yang lahir nantinya di-jedi (diubah secara gaib menjadi dewasa dalam sekejap) dan diberi nama Raden Jayadrata, yang ditakdirkan menjadi suami dari Dewi Dursilawati, satu-satunya wanita di keluarga Kurawa.
Pertemuan Mengharukan para Pandawa Remaja
Dalam perjalanan pulang, Raden Bimasena sempat terlibat salah paham dan bertarung melawan Patih Gandamana karena dikira musuh. Beruntung, dewa segera melerai.
Di tempat lain, dua saudara Bima, yakni Raden Puntadewa (16 tahun) dan Raden Permadi/Arjuna (12 tahun), yang menyusul ke hutan sempat dikeroyok oleh Kurawa (Suyudana dan Dursasana) atas hasutan Arya Suman.
Dengan gagah berani, Bimasena muncul dan langsung menghajar para Kurawa hingga kocar-kacir. Pertemuan pertama ketiga putra Pandu ini berlangsung mengharukan di tengah hutan sebelum akhirnya mereka kembali ke istana Hastina.
Sesampainya di istana, Prabu Pandu dan Dewi Kunti menyambut sang putra dengan air mata kebahagiaan. Mengingat putranya telah berhasil melewati ujian tapa brata selama 14 tahun di dalam bungkus, Prabu Pandu memberinya nama kehormatan: Raden Bratasena.
Editor : Jihad Rokhadi