Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kisah Sayembara Dewi Drupadi (1): Para Raja Datang, Prabu Drupada Dilanda Dilema

Jihad Rokhadi • Rabu, 6 Mei 2026 | 18:45 WIB
Prabu Drupada menggelar pertemuan penting bersama Arya Gandamana, Raden Drestajumena, dan Patih Drestaketu
Prabu Drupada menggelar pertemuan penting bersama Arya Gandamana, Raden Drestajumena, dan Patih Drestaketu

 

RADAR PURWOREJO – Ketegangan menyelimuti Kerajaan Cempalareja. Bukan karena perang, melainkan karena satu perempuan: Dewi Drupadi.

Putri sulung Prabu Drupada itu menjadi pusat perhatian para raja dan pangeran dari berbagai negeri. Mereka datang berbondong-bondong, memenuhi pelataran istana, dengan satu tujuan yang sama—melamar sang putri yang kecantikannya termasyhur ke seluruh penjuru jagat.

Namun, di balik kemegahan itu, tersimpan kegelisahan yang mendalam.

Baca Juga: Kisah Lahirnya Puntadewa: Siasat Buah Surga Resi Druwasa dan Awal Mula Awangga Takluk pada Hastina

Prabu Drupada Dihantui Ancaman Konflik

Di dalam istana, Prabu Drupada menggelar pertemuan penting bersama Arya Gandamana, Raden Drestajumena, dan Patih Drestaketu.
Situasi yang dihadapi tidak sederhana. Jika satu pinangan diterima, maka puluhan lainnya akan tersinggung. Bukan tidak mungkin, para raja itu bersatu dan menggempur Kerajaan Cempalareja.
“Jika salah memilih, perang besar bisa terjadi,” menjadi kekhawatiran utama sang raja.
Kerajaan yang makmur bisa berubah menjadi medan pertempuran hanya karena persoalan jodoh.

Usulan Sayembara dari Raden Drestajumena

Di tengah kebuntuan, Raden Drestajumena angkat bicara. Putra mahkota itu mengusulkan solusi yang dianggap paling adil: menggelar sayembara.
Bukan sekadar sayembara biasa, melainkan ujian keterampilan memanah.
Sebagai murid Resi Druna, Drestajumena dikenal sangat menguasai ilmu panah. Tak heran jika ia memilih jenis perlombaan yang sangat ia pahami.

Namun, usul itu bukan tanpa risiko.

Busur Gandiwa: Ujian yang Nyaris Mustahil

Drestajumena mengusulkan penggunaan Busur Gandiwa, pusaka legendaris peninggalan Kerajaan Duhyapura.
Busur ini bukan senjata biasa. Konon, untuk memindahkannya saja dibutuhkan seratus prajurit. Tidak semua orang mampu mengangkatnya, apalagi menggunakannya.

Belum lagi sasaran yang harus dibidik.
Peserta sayembara diwajibkan memanah sehelai rambut Dewi Drupadi yang diikat di puncak tiang tinggi—tanpa melihat langsung, melainkan melalui pantulan cermin.
Syarat ini membuat Prabu Drupada ragu.

“Apakah ada yang mampu melakukannya?” menjadi pertanyaan besar.

Baca Juga: Kisah Pandawa: Raden Suyudana Resmi Jadi Pangeran Mahkota Hastina, Intrik Istana dan Kisah Bima Tumbangkan Prabu Baka


Keyakinan Arya Gandamana: Arjuna Masih Hidup

Di saat semua orang meragukan, Arya Gandamana justru memiliki keyakinan berbeda.
Ia percaya hanya satu kesatria yang mampu menuntaskan tantangan itu: Raden Arjuna.
Namun masalahnya, kabar yang beredar menyebut Arjuna telah gugur dalam tragedi kebakaran di Waranawata.
Meski demikian, Gandamana tetap teguh.
Ia yakin keponakannya itu masih hidup.

Harapan yang Diserahkan pada Takdir

Prabu Drupada akhirnya mengambil keputusan. Ia menyerahkan segalanya kepada kehendak Sang Pencipta.
Jika para Pandawa memang masih hidup, maka salah satu dari mereka akan datang dan memenangkan sayembara.
Dan jika itu terjadi, maka takdirlah yang memilihkan jodoh terbaik bagi Dewi Drupadi.
Pertemuan pun ditutup. Persiapan sayembara segera dimulai.

Di luar istana, para raja masih menunggu—tanpa mengetahui bahwa mereka akan menghadapi ujian yang belum pernah ada sebelumnya.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Sayembara segera dimulai. Namun satu per satu raja besar justru gagal, bahkan sebelum mencoba membidik sasaran.

Baca selanjutnya: Busur Gandiwa yang Mustahil: Senjata Legendaris yang Tak Bisa Diangkat Sembarang Kesatria

Editor : Jihad Rokhadi
#dewi drupadi #Cerita Wayang #Pandawa #arjuna #Wayang