MAGELANG - Event tahunan bertajuk Magelang Tempo Doeloe (MTD) kembali digelar dengan pengalaman edukatif berbasis sejarah. Di antaranya dengan membuat workshop terkait budaya sehari-hari di masyarakat yang mulai hilang.
Ketua panitia MTD, Andri Topo menjelaskan, sebanyak 130 stan terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari kuliner tradisional, barang antik, hingga ruang-ruang edukatif. Sejumlah workshop digelar secara gratis, seperti membuat wayang suket, membungkus makanan dengan daun, hingga membaca aksara Jawa kuno.
Menurut Andri, pendekatan ini dipilih untuk memperkenalkan kembali pengetahuan tradisional yang mulai ditinggalkan. Dia menilai, generasi muda saat ini semakin jauh dari praktik budaya sehari-hari yang sebenarnya kaya akan nilai.
"Hal sederhana seperti membungkus makanan dengan daun saja sekarang banyak yang tidak tahu. Padahal itu bagian dari warisan budaya," bebernya, Jumat (5/6).
Pada 2026 ini, panitia mengangkat tema Sang Legenda, sebuah upaya menghidupkan kembali jejak tokoh, tempat, hingga institusi bersejarah yang membentuk identitas Kota Magelang. Tema tersebut dipilih untuk mengangkat berbagai elemen yang selama ini menjadi bagian penting sejarah kota, namun mulai terlupakan. Terutama oleh generasi muda. "Sang legenda itu bisa tokoh, tempat, produk, organisasi. Semua yang punya nilai historis di Kota Magelang kami angkat kembali," ujarnya,.
Satu yang disorot adalah keberadaan organisasi Perserikatan Paguyuban Sepakbola Magelang (PPSM) yang berdiri sejak 1919. Terlebih, PPSM disebut sebagai salah satu embrio lahirnya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Selain itu, berbagai ikon lokal seperti Gunung Tidar hingga tokoh kemanusiaan Johannes Van der Steur turut dihadirkan dalam bentuk instalasi dan narasi visual di area acara.
Dia menyebut, MTD 2026 berlangsung selama tiga hari, 5-7 Juni, sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi ke 1.120 Kota Magelang. Bahkan, event ini juga masuk dalam Calendar of Event Jawa Tengah, bersama satu agenda lain dari kota tersebut, yakni Gerebek Getuk.
Berbeda dari festival pada umumnya, MTD tidak menempatkan hiburan sebagai daya tarik utama. Panitia justru merancang kegiatan berbasis edukasi dengan pendekatan kreatif melalui seni dan interaksi langsung. "Kesenian itu hanya jembatan. Yang utama adalah bagaimana sejarah bisa dipahami dengan cara yang menarik," kata Andri.
Selain di lokasi utama, panitia juga mulai menghadirkan instalasi seni di beberapa titik pintu masuk kota sebagai upaya membangun pengalaman sejak awal kedatangan pengunjung. Instalasi tersebut berupa miniatur aktivitas masyarakat tempo dulu yang disebut liping.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menilai, MTD tidak sekadar menghadirkan romantisme masa lalu. Tetapi menjadi ruang refleksi sekaligus strategi membangun masa depan berbasis identitas lokal. "Kani tidak ingin hanya dikenal karena sejarah, tetapi bagaimana sejarah itu menjadi kesadaran untuk membangun kota ke depan," paparnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo