Ritual Kasada Suku Tengger: Menjaga Harmoni Manusia, Bromo, dan Sang Pencipta di Tengah Gempuran Modernisasi

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 14:17 WIB
Ritual Yadnya Kasada
Ritual Yadnya Kasada
Lautan pasir Gunung Bromo kembali riuh dalam hening yang sakral. Di bawah dinginnya udara dini hari, ribuan masyarakat Suku Tengger melangkah perlahan menaiki tangga menuju bibir kawah aktif.
Di tangan mereka, terikat erat ongkek—rangkaian bambu berisi hasil bumi, hewan ternak, dan sesajen. Ritual Yadnya Kasada kembali digelar, melanjutkan janji leluhur yang telah diikrarkan selama berabad-abad.

Yadnya Kasada bukan sekadar atraksi budaya tahunan yang memikat ribuan pasang mata wisatawan atau lensa kamera fotografer.

Bagi masyarakat Tengger, ritual ini adalah manifestasi konkret dari segitiga filosofi kehidupan: hubungan vertikal manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa (serta para leluhur seperti Raden Roro Anteng dan Joko Seger), hubungan horizontal antarsesama, dan ekologi hubungan manusia dengan alam semesta.

Melarung hasil bumi ke dalam kawah Bromo adalah simbol pelepasan egoisme. Ia menjadi pengingat bahwa kekayaan, rezeki, dan kesuburan tanah yang mereka nikmati sehari-hari merupakan titipan.

Baca Juga: Suporter PSIM Ancam Boikot Jersey Jika RMB Jadi Apparel, Desak Manajemen Ambil Sikap Tegas soal Polemik Plesetan AYDK

Dengan mengembalikan sebagian kecil hasil panen ke perut bumi, masyarakat Tengger merawat rasa syukur sekaligus memohon perlindungan dari bencana.

Namun, menggeledahnya di era modern menghadirkan tantangan berseri, misalnya komanditerisasi pariwisata di mana kebutuhan industri pariwisata kerap berbenturan dengan kesakralan acara.

Kehadiran pengunjung yang kurang memahami etika ritual kadang mengganggu kekhusyukan umat yang sedang beribadah. Berikutnya adalah adanya serapan sampah plastik. Seiring masuknya barang-barang modern, sesaji yang dulunya murni dari bahan organik kini kerap bersinggungan dengan pembungkus anorganik, menghadirkan tantangan kebersihan di kawasan konservasi Bromo Tengger Semeru.

Di tengah gempuran modernisasi dan gaya hidup serba instan, keteguhan Suku Tengger memegang teguh ajaran Sesanti Tengger—Bakti marang Gusti, Asih marang sesami, Santosa marang alam—menjadi cermin besar bagi masyarakat modern. Kemajuan zaman tidak harus mengikis akar spiritualitas dan kearifan menjaga keseimbangan alam.

Yadnya Kasada mengajarkan  satu hal mendasar bahwa bumi tidak diciptakan untuk dikuras tanpa batas, melainkan untuk dirawat dengan rasa hormat dan kerendahan hati.



Editor : Bahana.
ritual yadnya kasada suku tengger tengger