MUNGKID - Ribuan warga dari berbagai daerah berduyun-duyun ke Dusun Gunung Bakal, Sumberarum, Tempuran, Selasa (25/8). Mereka turut ambil bagian pada gelaran Gerebek Gunungan Lentheng dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kepala Dusun Gunung Bakal, Ahmad Jadin menyebut, tidak ada catatan pasti mengenai tahun pertama tradisi itu digelar. Konon katanya, gerebek Gunungan Lentheng berkaitan dengan dakwah Kiai Raden Sayid Abdullah di wilayah Gunung Bakal.
Tradisi itu, lanjut dia, diperkirakan telah berlangsung sejak sekitar akhir abad ke-17 atau abad ke-18. "Ada cerita turun temurun yang menyebut tradisi itu sudah ada sebelum masa Perang Diponegoro," lontarnya.
Baca Juga: Beralasan Warga Enggan Beri Kesaksian, Polres Kulon Progo Kesulitan Tangani Kasus Eks Lurah Garongan
Pada masa itu, warga Gunung Bakal disebut belum sepenuhnya kuat dalam kehidupan keagamaannya. Kiai Raden Sayid Abdullah lantas menggunakan momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal sebagai sarana memperkuat kehidupan keagamaan warga melalui perayaan yang kemudian dikenal sebagai gerebek Gunungan Lentheng.
Jadin menjelaslan, gunungan dalam tradisi ini tidak dibuat dari nasi atau hasil bumi sebagaimana gunungan dalam sejumlah tradisi Jawa lainnya. Bahan utamanya adalah lentheng, yakni olahan beras ketan yang melalui proses penumbukan, penjemuran, lalu digoreng.
Proses pembuatannya membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Beras ketan terlebih dahulu direbus, kemudian ditumbuk atau dideplok hingga menjadi adonan. Adonan tersebut diletakkan di atas daun pisang dan dijemur selama sehari.
Baca Juga: Viral di Media Sosial karena Perubahan Alam, Pantai Baron Gunungkidul Sedot Perhatian Wisatawan
Jadin mengatakan, setiap keluarga di Gunung Bakal secara turun-temurun membuat lentheng untuk dibawa ke masjid. Jumlahnya tidak sama, tetapi rerata mencapai sekitar 20 hingga 30 kilogram (kg) beras ketan untuk setiap keluarga.
Gunungan Lentheng juga memiliki struktur dan simbol yang tidak dibuat secara sembarangan. Dia menjelaskan, gunungan terdiri atas tiga tingkatan. Ketiganya melambangkan iman, Islam, dan ihsan. Di bagian puncak terdapat ingkung atau ayam yang dimasak utuh.
Simbol tersebut menggambarkan manusia yang lahir dalam keadaan tidak membawa apa-apa dan pada akhirnya kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan yang sama.
Baca Juga: Ironis! Dua Penyu Jumbo Ditemukan Mati Membusuk di Pantai Gunungkidul
Di atas gunungan juga terdapat benda berbentuk runcing yang oleh warga setempat disebut kayonet. Benda tersebut dibuat dari kayu dan dimaknai sebagai simbol ketauhidan atau keyakinan kepada Allah SWT.
Kepala Desa Sumberarum, Muhzen Fanani mengatakan, cerita mengenai usia tradisi tersebut memang belum sepenuhnya dapat dipastikan. Penelitian sejarah mengenai keberadaan tradisi dan sosok Raden Sayid Abdullah juga masih dilakukan. Muhzen menyebut, perkiraan usia tradisi yang mencapai sekitar abad ke-18 masih terus diteliti. "Termasuk kaitannya dengan sejarah Mataram dan masa sebelum Perang Diponegoro,” paparnya.
Dia melanjutkan, prosesi gerebek Gunungan Lentheng juga memiliki tata cara yang berkembang mengikuti kondisi di lapangan. Muhzen mengatakan, dahulu warga dapat mengitari gunungan lebih dari tiga kali sambil membaca selawat. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo