Upaya mengenalkan dan menjaga kesenian tradisional Jawa terus dilakukan melalui generasi muda. Semangat tersebut terlihat dalam Pagelaran Karawitan dan Pedalangan Sindhu Laras Bocah yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, Sabtu (5/9/2026).
Sekitar 30 seniman cilik dan remaja ambil bagian dalam pertunjukan tersebut. Mereka menampilkan kemampuan yang diperoleh dari proses belajar karawitan dan pedalangan, mulai dari memainkan gamelan hingga membawakan pertunjukan wayang kulit.
Suasana panggung semakin hidup ketika alunan gamelan berpadu dengan penampilan dalang remaja. Pertunjukan itu menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di kalangan anak-anak dan remaja ketika diperkenalkan melalui proses pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan usia mereka.
Bagi para peserta, mempelajari karawitan maupun pedalangan tidak sebatas menguasai teknik memainkan instrumen atau memainkan tokoh-tokoh dalam pewayangan. Proses latihan juga menjadi sarana membentuk karakter, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta keberanian untuk tampil di hadapan publik.
Baca Juga: Tampil Melesat, Astra Honda Raih Podium dan Poin Penting di ARRC Sepang
Keberadaan Sindhu Laras Bocah menjadi penting di tengah kehidupan generasi muda yang semakin lekat dengan teknologi digital. Melalui kegiatan seni secara langsung, anak-anak memiliki ruang untuk berinteraksi, berkreasi, sekaligus mengenal nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan Jawa.
Proses pembelajaran di Sindhu Laras Bocah pun tidak hanya dilakukan ketika ada agenda pertunjukan.
Para peserta menjalani latihan secara rutin untuk mengenal gamelan, memahami teknik dasar karawitan dan pedalangan, serta belajar membangun komunikasi dengan sesama peserta dan lingkungan seni.
Pagelaran di TBRS akhirnya tidak sekadar menjadi panggung bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan mereka. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana proses regenerasi pelaku seni tradisional mulai dibangun sejak usia dini.
Dari tangan para bocah dan remaja inilah kesenian seperti wayang kulit dan karawitan diharapkan terus hidup, dipelajari, dan dikenal oleh generasi berikutnya. Upaya tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga warisan leluhur tidak selalu harus dilakukan dengan cara lama, tetapi dapat dimulai dengan memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal, memainkan, dan mencintai budaya mereka sendiri.