RADAR PURWOREJO - Suasana berbeda terlihat di Klenteng Hoo Hok Bio, Semarang, Jawa Tengah, saat umat Tionghoa menjalankan tradisi Sembahyang Rebutan atau King Hoo Ping pada Selasa, 1 September 2026.
Ritual yang berlangsung pada bulan ketujuh dalam penanggalan imlek tersebut menjadi salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga sekarang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang leluhur serta mendoakan arwah yang tidak lagi mempunyai keluarga yang merawatnya.
Rangkaian sembahyang diisi dengan berbagai bentuk persembahan yang disiapkan di area klenteng. Makanan dan barang persembahan tersebut menjadi bagian penting dalam prosesi sebagai simbol penghormatan dan kepedulian.
Setelah rangkaian doa selesai, persembahan kemudian diberikan kepada masyarakat. Inilah bagian yang kemudian dikenal luas sebagai tradisi “tradisi”, ketika warga mengambil makanan maupun barang yang telah disiapkan dalam ritual tersebut.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta x Space Roastery, Hadirkan Program "Buy Coffee, Get Vario 125 Street”
Bagi masyarakat yang menjalakannya, tradisi tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekedar berebut makanan. Sembahyang rebutan juga mengandung pesan tentang berbagi rezeki dan kepedulian terhadap sesama.
Sejumlah sumber mengenai tradisi ini menjelaskan bahwa makanan yang telah dipersembahkan dalam ritual kemudian dibagikan atau diperebutkan masyarakat sebagai bagian dari rangkaian acara. Karena itulah, aktivitas yang terlihat ramai tersebut tetap memiliki kaitan erat dengan nilai kebersamaan dan amal.
Di Semarang, pelaksanaan tradisi semacam ini juga menjadi bagian dari keberadaan komunitas Tionghoa yang telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Tradisi bulan ketujuh sendiri dikenal dengan sejumlah istilah, termasuk Jit Gwee, Cioko, atau King Hoo Ping, tergantung konteks budaya dan keagamaan yang digunakan.
Perbedaan penyebutan tersebut menunjukkan bahwa ritual bulan ketujuh memiliki perjalanan tradisi yang cukup panjang dan berkembang dalam berbagai komunitas Tionghoa.
Keberlangsungan Sembahyang Rebutan di Semarang pada akhirnya tidak hanya memperlihatkan sebuah ritual yang dilakukan dari tahun ke tahun, tetapi juga menggambarkan bagaimana tradisi leluhur terus dirawat di tengah perubahan zaman.
Prosesi doa, persembahan, hingga pembagian makanan kepada masyarakat menjadi satu rangkaian yang menyatukan unsur penghormatan, kepedulian, dan kebersamaan.
Baca Juga: Momentum 5 September Tegaskan Kebangkitan Marhaenis, Budi Black Resmi Pimpin DPC GPM Sleman
Dari klenteng Hoo Hok Bio, tradisi tersebut kembali memperlihatkan bahwa warisan budaya dapat tetap hidup ketika generasi penerus ikut menjaga makna dan pelaksanaannya.
Editor : Bahana.