RADAR PURWOREJO - Pacu Itiak Payakumbuh menjadi salah satu tradisi kebanggaan masyarakat Minangkabau yang hingga kini masih terus dilestarikan.
Tradisi unik berupa perlombaan itik terbang ini rutin digelar sebagai agenda tahunan dan kerap menjadi ajang perlombaan bagi masyarakat.
Kelestariannya yang tetap terjaga bahkan membuat Pacu Itiak mendapat perhatian hingga memperoleh penghargaan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Tradisi Pacu Itiak ini sudah dilakukan sejak tahun 1920-an yang pada awalnya dilakukan para petani hanya untuk menghalau serangan hama.
Semakin berkembangnya zaman, tradisi ini dikenal sebagai hiburan para petani dan dijadikan ajang perlombaan hingga saat ini.
Baca Juga: Kisruh Desil, DPR RI Eva Stevany Diduga Masuk Desil 4 Sontak Jadi Sorotan Publik
Menariknya, tradisi Pacu Itiak ini telah diakui oleh UNESCO.
Tak hanya sekedar hiburan dan ajang perlombaan saja, tradisi ini mampu menaikkan nama kampung di Tanah Minangkabau.
Pacu Itiak merupakan ajang perlombaan yang mengandalkan seekor itik untuk terbang menuju garis finish yang sudah ditentukan.
Dalam perlombaan ini, itik-itik dilepas ke udara oleh pemiliknya dan mengikuti garis jalur lomba.
Jenis perlombaan ini terbilang unik karena itik tidak hanya dilepaskan begitu saja, tetapi dilatih terlebih dahulu agar mampu terbang sesuai arah yang ditentukan.
Baca Juga: Dua Kali Gagal Seleksi, Pemuda Mandailing Natal Akhirnya Wujudkan Cita-Cita Jadi Prajurit TNI AD
Itik yang diikutsertakan dalam perlombaan juga tidak dipilih secara sembarangan, melainkan mempunyai kriteria khusus.
Itik yang digunakan dalam perlombaan hanya itik betina karena bobotnya lebih ringan daripada itik jantan.
Biasanya bakat itik mulai dikenali sejak usia empat bulan.
Dalam rentang usia tersebut, itik dinilai sudah mampu terbang dengan baik.
Tak hanya itu saja, sayap itik yang diperlombakan harus lebar seperti elang dengan warna paruh coklat muda dengan moncong besar dan bermata kecil.
Ciri fisik lainnya yang tak kalah diutamakan yaitu berleher pendek, mempunyai sisik di ujung jarinya, serta badannya harus berbentuk seperti jantung pisang.
Baca Juga: Asap pekat gegerkan Pasar Baru, Gangguan listrik jadi penyebab
Masyarakat Minangkabau mengandalkan pemilihan itik yang diperlombakan hanya berdasarkan tradisi turun temurun.
Ajang perlombaan itik terbang ini terbilang cukup bergengsi, sebab mampu menaikkan harga pasar itik.
Bahkan, itik yang sering diperlombakan dapat dijual dengan harga yang sangat mahal hingga jutaan.
Dibandingkan harga itik pada umumnya, itik yang diperlombakan jauh lebih menguntungkan.
Baca Juga: Duka di Balik Program MBG: Febiola, Siswi Berprestasi di Karo yang Kehilangan 70 Persen Ingatan
Hal tersebut membuka peluang kepada masyarakat Payakumbuh untuk ternak itik yang berkualitas demi mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat jika dijual.
Dalam melestarikan tradisi Pacu Itiak Payakumbuh ini, masyarakat Minangkabau membentuk sebuah organisasi semacam persatuan olahraga itik.
Budaya Pacu Itiak ini tidak hanya sekedar menjadi sebuah ajang perlombaan saja, melainkan mempunyai sejarah menarik didalamnya.
Maka tak heran jika tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya yang membanggakan bagi masyarakat Minangkabau.
Editor : Meitika Candra Lantiva