Di tengah derasnya hiburan digital yang semakin akrab dengan kehidupan anak-anak, Kitama Arturo Kurniadi justru memilih jalan berbeda. Di usia yang masih belia, ia menekuni seni pedalangan dan kini dikenal sebagai salah satu dalang cilik yang aktif mempelajari sekaligus memperkenalkan wayang kepada generasi muda.
Ketertarikan Kitama terhadap dunia pewayangan mulai tumbuh sejak usia enam tahun. Sejak kecil, keluarganya telah mengenalkan berbagai tokoh dan cerita pewayangan. Minat tersebut semakin kuat setelah ia bertemu dengan seorang mantan dalang cilik yang membuatnya tertarik untuk mengenal wayang kulit lebih jauh.
Dari sana, Kitama mulai menekuni pedalangan secara lebih serius dengan berguru kepada pengajar seni pedalangan. Waktu latihannya pun tidak sebentar. Jika awalnya ia berlatih sekitar dua jam, durasi tersebut kemudian bertambah menjadi empat hingga lima jam.
Latihan panjang itu dijalaninya untuk mengasah berbagai kemampuan, mulai dari mengenali karakter tokoh, memahami alur cerita, hingga menguasai teknik memainkan wayang. Semua dilakukan sebagai persiapan agar dirinya semakin percaya diri ketika tampil di hadapan penonton.
Baca Juga: Viral! HP Milik Jenazah Wili Mbuik ASN Korban KKB di Papua Dipakai untuk Video Call Keluarga
Namun, perjalanan Kitama dalam dunia wayang ternyata tidak berhenti pada kemampuan mendalang. Di usianya yang masih muda, ia juga mulai berbagi ilmu dengan tiga murid yang turut belajar tentang dunia pewayangan.
Peran tersebut membuat Kitama tidak hanya menjadi seorang pembelajar, tetapi juga mulai mengambil posisi sebagai pengajar. Baginya, mengenalkan wayang kepada anak-anak sebaya merupakan salah satu cara agar kesenian tradisional tersebut tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.
Keinginannya cukup sederhana. Ia ingin wayang tetap dikenal dan dicintai generasi muda, meski saat ini anak-anak memiliki begitu banyak pilihan hiburan modern.
Karena itu, Kitama berusaha membawa seni pedalangan ke berbagai ruang pertunjukan. Ia telah tampil dalam sejumlah kesempatan dan bahkan mencoba memadukan pertunjukan wayang dengan konsep seni pertunjukan yang lebih modern.
Langkah tersebut menjadi cara Kitama untuk menunjukkan bahwa wayang bukan kesenian yang hanya cocok dinikmati generasi terdahulu. Di tangan anak muda, wayang masih bisa dikemas secara menarik tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Kisah Kitama sekaligus menjadi bukti bahwa upaya menjaga budaya tidak selalu harus menunggu orang dewasa. Dari usia enam tahun, ia telah memilih belajar, kemudian mulai mengajarkan apa yang dipelajarinya kepada orang lain.
Di tengah gempuran hiburan digital, keberadaan dalang cilik seperti Kitama menjadi angin segar bagi keberlangsungan seni pedalangan.
Baca Juga: Tempe Ditumpuk Dekat Toilet! SPPG Sukorejo 2 Blora Viral usai Ratusan Siswa Diduga Keracunan MBG
Ia bukan hanya belajar memainkan wayang, tetapi juga perlahan mengambil peran untuk memastikan cerita dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor : Bahana.