Ada lagu yang tidak benar-benar berakhir ketika musiknya berhenti. Nada boleh selesai, tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya terus berjalan di dalam kepala.
Ingsun karya Sujiwo Tejo adalah salah satunya.
Lagu yang menjadi bagian dari album Mirah Ingsun tersebut tidak sekadar berbicara tentang perjalanan hidup. Lebih jauh, lagu ini mengajak pendengarnya menyelami pertanyaan tentang siapa manusia sebenarnya ketika berbagai peran dan identitas dalam kehidupan dilepaskan.
Kata "ingsun" dalam bahasa Jawa merujuk pada "aku" atau diri. Namun, dalam karya Sujiwo Tejo, makna tersebut terasa lebih luas.
Baca Juga: Viral! Wanita Ditendang Pria Tak Dikenal saat Antre Makanan di Senayan City Jadi Sorotan Warganet
"Aku" tidak hanya menjadi penanda identitas seseorang, tetapi juga pintu untuk melihat kembali hubungan manusia dengan dirinya sendiri, kehidupan yang dijalani, serta sesuatu yang lebih besar di luar dirinya.
Ingsun berdurasi sekitar 4 menit 21 detik dan menjadi lagu pembuka album Mirah Ingsun. Album tersebut berisi 14 lagu dan dirilis pada 9 November 2012.
Lagu ini kemudian divisualisasikan melalui video musik resmi yang diunggah di kanal Sujiwo Tejo.
Dari “Rasa” Menuju Kesejatian
Salah satu kekuatan Ingsun terletak pada penggunaan bahasa Jawa yang penuh simbol dan tidak disampaikan secara gamblang.
Liriknya menghadirkan berbagai gambaran tentang rasa, air, danau, pohon kelapa gading, hingga manusia yang terus mengalami perubahan.
Salah satu gambaran yang menarik adalah konsep manusia yang "solah salin", yakni berubah-ubah dalam menjalani kehidupan. Sikap seseorang dapat berubah mengikuti tempat, situasi, maupun lingkungan yang dihadapinya.
Dalam video musiknya, gagasan tersebut diterjemahkan melalui gambaran manusia yang berganti "topeng" dan bentuk sesuai dengan keadaan.
Simbol tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seseorang bisa menjadi anak ketika berada di rumah, mahasiswa ketika berada di kampus, pekerja saat menjalankan tugas, sahabat ketika berkumpul, sekaligus menjadi pribadi yang berbeda ketika menghadapi persoalan tertentu.
Perannya berubah-ubah, tetapi ada satu pertanyaan yang tetap tinggal.
Di balik semua peran tersebut, siapa sebenarnya "aku"?
Baca Juga: Tas Penumpang Keluarkan Asap di Stasiun Rawa Buntu, Petugas KRL Gerak Cepat Evakuasi
“Aku” yang Terluka dan “Aku” yang Mengamati
Ingsun juga dapat dibaca melalui gagasan mengenai lapisan diri manusia.
"Aku" yang berada di permukaan sangat mudah bersentuhan dengan berbagai pengalaman kehidupan. Kegagalan, kehilangan, penghinaan, kekecewaan, hingga persoalan sehari-hari dapat membuat seseorang merasa terluka.
Namun, di balik pengalaman tersebut terdapat kesadaran yang dapat mengamati apa yang sedang terjadi tanpa sepenuhnya tenggelam di dalamnya.
Dari sudut pandang ini, penderitaan tidak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang wajib dilawan. Ia juga dapat menjadi pengalaman yang disadari dan diamati.
Manusia tetap merasakan sakit, tetapi rasa sakit tersebut tidak harus mengambil alih seluruh identitas dirinya.
Pemaknaan tersebut sejalan dengan kajian akademik mengenai Ingsun yang mengaitkan liriknya dengan konsep kasampurnaning urip, yaitu gagasan mengenai pencapaian kesempurnaan hidup dalam pandangan masyarakat Jawa serta hubungan manusia dengan Tuhan.
Pohon sebagai Simbol Tempat Bersandar
Simbol lain yang menarik muncul melalui gambaran pohon kelapa gading dalam lirik Ingsun.
Pohon tersebut digambarkan sebagai tempat merambat sekaligus pegangan. Dalam video musik resminya, simbol tersebut turut diterjemahkan sebagai sesuatu yang dapat menjadi tempat seseorang bersandar dalam perjalanan hidup.
Maknanya dapat diperluas.
Baca Juga: Gelombang Penolakan MBG Terus Terjadi, Wali Murid SDN Sumberagung Bantul Juga Tolak Imbas Keracunan
Manusia membutuhkan pijakan ketika kehidupan terus berubah. Pijakan tersebut tidak selalu berupa harta, jabatan, maupun keberhasilan.
Ia bisa berupa kesadaran terhadap nilai, keyakinan, dan jati diri.
Video musik resmi Ingsun juga membawa pesan mengenai pentingnya kembali kepada "ingsun" sebagai jati diri masing-masing. Pesan tersebut turut disampaikan dalam keterangan video melalui pernyataan sutradara video klip, Subiakto.
Bukan Ajakan Melarikan Diri
Ingsun tidak harus dimaknai sebagai ajakan untuk menjauh dari kehidupan duniawi.
Sebaliknya, lagu ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran yang lebih dalam.
Manusia tetap bekerja, mencintai, mengejar cita-cita, menghadapi kehilangan, merasakan kekecewaan, dan berhadapan dengan perubahan.
Yang berbeda adalah bagaimana seseorang menempatkan dirinya di tengah semua pengalaman tersebut.
Ia tidak sepenuhnya membiarkan keadaan menentukan siapa dirinya.
Karena itu, "kembali kepada ingsun" dapat dimaknai sebagai perjalanan mengenali diri setelah seseorang terlalu lama larut dalam tuntutan kehidupan.
Ketika berbagai peran dan "topeng" perlahan dilepaskan, masih ada satu diri yang perlu ditemukan kembali.
Baca Juga: Duduk Berdampingan, Foto Ahmad Luthfi dan Sherly Tjoanda Bikin Netizen Heboh: Awas Cinlok!
Pada akhirnya, Ingsun menawarkan pertanyaan yang sederhana tetapi tidak mudah dijawab:
Ketika semua peran dalam hidup dilepaskan, siapa sebenarnya diri kita?
Pertanyaan itulah yang membuat lagu yang telah berusia lebih dari satu dekade ini tetap memiliki ruang untuk ditafsirkan.
Bukan karena Ingsun memberikan jawaban secara terang-terangan, melainkan karena lagu tersebut justru memberikan ruang kepada pendengarnya untuk mencari jawabannya sendiri.
Sumber: Kanal YouTube Sujiwo Tejo