Judul Sarining Kartika sendiri memiliki makna yang kuat. Sari dapat dimaknai sebagai inti atau keindahan, sementara kartika berarti bintang. Sosok yang dicintai kemudian digambarkan seperti bintang yang jauh, tetapi tetap mampu menjadi cahaya, memberi ketenangan, dan menjadi arah bagi seseorang yang memandangnya.
Makna tersebut semakin terasa melalui liriknya. Pada bagian awal, Setyo Puji menggambarkan sosok yang begitu membekas dalam ingatan melalui senyum, kecantikan, rambut, hingga sorot mata. Keindahan tatapan itu bahkan diibaratkan seperti kerlip bintang melalui penggalan “sorot endah ing netro kadyo kerlip kartiko.”
Dari kekaguman itu, perasaan kemudian berkembang menjadi cinta yang semakin sulit dibendung. Liriknya menggambarkan bagaimana seseorang dapat begitu terpikat hingga rasa tersebut tidak hanya hadir dalam pikiran, tetapi juga memenuhi batin.
Baca Juga: Siswa Kulon Progo Suarakan Dugaan Pelecehan, Muncul Isu Ancaman Dikeluarkan dari Sekolah
Sosok yang dicintai bahkan diibaratkan seperti bethari, gambaran perempuan dengan keindahan yang hampir sempurna dalam pandangan sang pengagum.
Menariknya, lirik Sarining Kartika lebih banyak berbicara tentang memandang, mengagumi, dan memuja daripada memiliki. Bintang menjadi simbol seseorang yang begitu indah, tetapi tidak selalu bisa digapai.
Karena itu, lagu ini terasa dekat dengan kisah cinta dalam diam, ketika seseorang memilih menyimpan perasaannya dan tetap bahagia melihat orang yang dicintainya bersinar.
Penggunaan bahasa Jawa menjadi kekuatan tersendiri. Perumpamaan tentang bunga, bidadari, keharuman, senyum, mata, dan bintang membuat rasa cinta disampaikan secara halus tanpa kehilangan kedalamannya.
Setyo Puji seolah menunjukkan bahwa perasaan yang sulit diucapkan secara langsung dapat menemukan bentuknya melalui kata-kata yang puitis.
Nuansa tersebut juga didukung oleh musiknya. Sarining Kartika hadir dengan warna Pop Jawa bernuansa balada. Aransemen yang relatif sederhana memberi ruang lebih besar bagi vokal dan lirik, sehingga lagu terasa intim, syahdu, dan seperti percakapan seseorang dengan isi hatinya sendiri.
Karya ini juga dapat dilihat sebagai perkembangan dari “Kawitaning Sinawang”, lagu Setyo Puji yang lebih dahulu hadir pada 2025. K
eduanya sama-sama mengangkat asmara dengan bahasa Jawa yang halus, tetapi Sarining Kartika terasa lebih kontemplatif. Bila Kawitaning Sinawang menggambarkan tumbuhnya rasa, Sarining Kartika membawa pendengar pada perasaan yang lebih dalam yaittu ketika cinta telah tumbuh, tetapi hanya bisa disimpan dan dikagumi dari kejauhan.
Baca Juga: Dilanda Kemarau Panjang, Berikut Tata Cara Salat Istiqa' dan Doa Memohon Hujan Umat Muslim
Pada akhirnya, “Sarining Kartika” bukan sekadar lagu tentang kecantikan seseorang, melainkan tentang cara seseorang mencintai. Tentang rasa yang tidak selalu harus diucapkan, kekaguman yang tidak harus berujung kepemilikan, dan ketulusan untuk tetap melihat seseorang bersinar meski tidak pernah menjadi milik.
Seperti bintang di langit, sosok yang dicintai mungkin berada jauh. Namun, dari kejauhan sekalipun, cahayanya tetap mampu menerangi hati orang yang memilih untuk terus memandangnya.