Yogyakarta menjadi titik temu para pelaku seni dan budaya dari berbagai penjuru Indonesia melalui Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV Tahun 2026.
Sebanyak 17 Taman Budaya dari berbagai daerah dijadwalkan hadir di Jogja untuk berbagi pengalaman, bertukar gagasan, sekaligus memperkenalkan karya seni pertunjukan khas daerah masing-masing.
Rangkaian kegiatan berlangsung mulai 24 September hingga 2 Oktober 2026, sedangkan agenda utama Temu Karya digelar pada 28 September hingga 1 Oktober.
Tahun ini, Temu Karya mengangkat tema "Gyaning Rasa, Mantraning Nusantara" dengan slogan "Srawung Karya, Gulawenthah Budaya".
Tema tersebut menggambarkan pertemuan pengetahuan dan rasa yang tumbuh dari keragaman budaya di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Honda ADV 160 Ajak Bikers Jelajah ‘Dua Alam’ di Hidden Gem Bantul
Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, Temu Karya bukan sekadar ajang pertunjukan seni. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi para pelaku kebudayaan untuk saling bertukar pengalaman, gagasan, hingga membuka peluang kerja sama.
"Lebih dari sekadar perhelatan seni, Temu Karya diharapkan dapat memperkuat jejaring antar-taman budaya, membuka peluang kolaborasi, serta mendukung upaya pemajuan kebudayaan nasional melalui penguatan jejaring, kolaborasi, dan sinergi," kata Dian.
Rangkaian Temu Karya diawali dengan Pameran Seni Rupa Difabel Suluh Sumurup Art Festival yang berlangsung pada 24 September hingga 2 Oktober 2026 di Taman Budaya Yogyakarta.
Mengusung tema "Maneges", pameran tersebut melibatkan 131 seniman dengan 193 karya. Para seniman berasal dari 14 provinsi dan tergabung dalam 13 komunitas.
Tak hanya pameran seni rupa, masyarakat juga dapat menikmati berbagai kegiatan lain dalam rangkaian acara tersebut.
Salah satunya Pojok Kreatif Taman Budaya yang menghadirkan beragam produk kreatif, kerajinan, kuliner, lokakarya seni, hingga panggung kesenian.
Agenda seni lainnya juga telah disiapkan. Di antaranya konser musik orkestra Taman Budaya Yogyakarta pada 28 September dan Gelar Karawitan "Ndang Tak Gong" pada 29 September.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui Aksi Membatik Bersama Kain 25 Meter pada 2 Oktober. Kegiatan tersebut sekaligus digelar bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional.
Baca Juga: Jenazah ABK KM Arupadhatu 1 Surakman Teridentifikasi, Tangis Haru Pecah di Rumah Duka
Melalui Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV, Yogyakarta tidak hanya menjadi lokasi pertunjukan seni. Kota ini juga menjadi ruang perjumpaan berbagai daerah untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus bertukar pengalaman dalam pengelolaan kebudayaan.
Pertemuan tersebut diharapkan mampu memperkuat jejaring antartaman budaya, membuka ruang kolaborasi baru, serta mendorong sinergi dalam upaya pemajuan kebudayaan nasional.