YOGYAKARTA - Jalan Malioboro bakal dipenuhi ribuan pembatik dalam kegiatan Simfoni 1001 Pembatik, Jumat (3/10) mendatang. Meski kuota awal ditetapkan 1.001 peserta, jumlah pendaftar kini telah menembus sekitar 1.060 orang.
Kegiatan membatik massal tersebut digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Batik Nasional sekaligus rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Jogja. Tak hanya mengejar kemeriahan, kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat branding Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.
Ketua Dewan Pengarah Panitia 1001 Pembatik sekaligus Wakil Ketua Koordinator 2 Kadin DIY Gunarta Adibrata mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu program Kadin DIY di bawah bidang pemberdayaan perempuan. Membatik massal dipilih sebagai cara untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu kegiatan di ruang publik.
Baca Juga: Buntut Pemprov DIJ Nyatakan Tambang Pasir CV BKS Legal, Warga Karang Bingung Mengadu ke Mana Lagi
“Targetnya memang salah satunya adalah target wisata kunjungan, kemudian membranding Kota Jogja, mempertahankan Kota Jogja sebagai kota batik dunia,” kata Gunarta, (30 /9 /2026).
Membatik massal tersebut akan berlangsung di Jalan Malioboro, mulai dari kawasan Terang Bulan menuju Titik Nol Kilometer. Kegiatan dijadwalkan dimulai pukul 06.30 hingga sekitar pukul 11.00.
Pesertanya berasal dari berbagai kalangan. Mulai komunitas, sekolah, aparatur sipil negara (ASN), dinas-dinas pemerintah, hingga pihak swasta.
Baca Juga: Bawa Uang Rp13 Ribu untuk Merantau, Maolana Korban KM Virgo Pulang dalam Dekapan Duka
Gunarta menyebut tingginya jumlah peserta menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut. Dari target awal 1.001 pembatik, jumlah peserta yang terdata kini telah melebihi kuota.
“Semestinya 1.001, ternyata sudah 1.060 lebih sekarang,” ujarnya.
Selain memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota batik, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memberikan dampak terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pelaku UMKM akan dilibatkan dalam rangkaian kegiatan.
Baca Juga: Viral, Mobil Pengantar MBG Nyelonong Masuk Lapangan Saat Upacara Bendera di SD Subulussalam Aceh
Menurut Gunarta, upaya tersebut menjadi bagian penting agar kegiatan membatik massal tidak berhenti pada seremoni. Kegiatan diharapkan dapat memberikan ruang promosi sekaligus memperkenalkan produk dan potensi ekonomi kreatif Yogyakarta kepada masyarakat dan wisatawan.
“Memberdayakan UMKM. Karena akan kita libatkan semua di sini,” jelasnya.
Penyelenggaraan kegiatan ini melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi DIY, Pemerintah Kota Yogyakarta, Dekranasda DIY, serta Balai Kerajinan dan Batik. Kolaborasi juga dilakukan dengan sejumlah perangkat daerah untuk mendukung kelancaran kegiatan sekaligus penguatan promosi.
Baca Juga: Ribuan Manajer Kopdes Mundur, Tere Liye Soroti Potensi Pemborosan Uang Negara
Gunarta mengatakan Pemkot Yogyakarta turut memberikan dukungan melalui sejumlah perangkat daerah, termasuk Dinas Perhubungan, Satpol PP, serta sektor pariwisata dan kebudayaan. Dukungan promosi juga diberikan melalui fasilitas billboard di sejumlah titik.
“Artinya kerja samanya sudah bagus sekali,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Indah Rahayu Murniati menjelaskan, peserta tidak harus memiliki kemampuan membatik sebelumnya. Kegiatan tersebut terbuka bagi masyarakat dengan ketentuan usia peserta minimal 12 tahun.
Baca Juga: Ribuan Manajer Kopdes Mundur, Tere Liye Soroti Potensi Pemborosan Uang Negara
Hasil batik yang dibuat peserta nantinya dapat dibawa pulang. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut terlibat langsung dalam aktivitas membatik di kawasan Malioboro.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup di Monumen Serangan Umum 1 Maret. Penutupan akan diisi penghargaan dan sejumlah sambutan.
Bagi Gunarta, momentum tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mempertahankan identitas Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Ia menilai kegiatan membatik perlu terus diperkuat agar predikat tersebut tidak hanya menjadi label, tetapi tercermin melalui aktivitas masyarakat dan ekosistem batik di Yogyakarta.