Suluh Sumurup Tegaskan Seniman Disabilitas Bukan Sekadar Objek tapi Punya Gagasan

Magang Radar Purworejo • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 22:33 WIB

Salah satu karya dalam pameran Suluh Sumurup

Salah satu karya dalam pameran Suluh Sumurup

 

YOGYAKARTA - Penyandang disabilitas tidak hanya membutuhkan ruang untuk mendapatkan bantuan atau pelatihan. Mereka juga memiliki kemampuan untuk berkarya, menyampaikan gagasan, dan merespons berbagai persoalan di sekitarnya. Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Suluh Sumurup Art Festival yang mengusung tema Maneges.

Salah satu kurator Suluh Sumurup Art Festival, Budi Irawanto, mengatakan tema Maneges menjadi penegasan terhadap identitas penyandang disabilitas sekaligus mempertegas arah gerakan seni disabilitas yang dibangun melalui festival tersebut.

“Maneges itu adalah penegasan terhadap identitas sebagai penyandang disabilitas sekaligus penajaman arah dari gerakan seni disabilitas yang kita inisiasi melalui event Suluh Sumurup Art Festival,” kata Budi, (2/10).

Baca Juga: Air Mengering, Dasar Waduk Krisak Wonogiri Berubah Jadi Padang Rumput Hijau

Menurutnya, Maneges berasal dari kata teges. Dalam konteks budaya Jawa, istilah tersebut berkaitan dengan upaya menemukan kesejatian atau identitas diri. Dalam festival ini, maknanya diarahkan pada upaya agar penyandang disabilitas semakin percaya diri dengan identitasnya.

“Tidak perlu merasa malu, tidak perlu merasa rendah diri. Justru ini satu bentuk ketegasan bahwa seni disabilitas kita harapkan tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tapi juga ruang yang bisa menunjukkan identitas maupun mengartikulasikan aspirasi,” jelasnya.

Budi menilai ruang seni penting karena penyandang disabilitas selama ini masih kerap ditempatkan sebagai objek, misalnya sebagai sasaran donasi maupun penerima pelatihan. Padahal, mereka juga memiliki kemampuan kreatif yang dapat ditampilkan kepada publik.

Baca Juga: Pasutri Pelaku Perampokan Toko di Karangpandan Karanganyar Peragakan 27 Adegan

Hal itu tercermin dalam Suluh Sumurup Art Festival tahun ini. Budi menyebut terdapat sekitar 196 karya dari kurang lebih 131 seniman yang dipamerkan. Para seniman berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari individu, komunitas, sekolah luar biasa hingga sekolah inklusif.

Peserta juga datang dari berbagai daerah. Tahun ini, seniman dari sekitar 14 provinsi turut berpartisipasi.

“Pameran ini juga menunjukkan bahwa mereka punya kemampuan kreatif. Ini menjadi ruang yang tidak selalu dimiliki disabilitas untuk memamerkan karya itu,” ujarnya.

Baca Juga: Mobil Tabrak Pagar Pamedan Mangkunegaran Solo, Kondisinya Kini Miring

Menurut Budi, karya yang ditampilkan juga tidak hanya berbicara mengenai pengalaman disabilitas. Sejumlah seniman turut merespons persoalan yang terjadi di masyarakat, termasuk isu bencana di tanah air.

“Teman-teman di PABUL ini tidak hanya berkutat dengan disabilitasnya, tapi mereka sangat sensitif, sangat peka dengan berbagai macam persoalan yang terjadi di tanah air,” katanya.

Salah satu hal yang menurut Budi menarik adalah kehadiran karya dari penyandang tunanetra. Seniman tersebut masih memiliki memori visual karena tidak mengalami kebutaan sejak lahir. Pengalaman visual itu kemudian dituangkan ke dalam karya seni.

Baca Juga: Kunjungi Pasar Argosari, Bupati Gunungkidul Beli Sandal Legend yang Jadi Tren Saat Masa Kecil

“Bayangkan netra bisa melukis. Dia memang netra, tidak dari kecil, jadi dia masih punya memori visual yang dia tuangkan ke dalam karya,” ungkapnya.

Budi juga menegaskan bahwa status sebagai penyandang disabilitas bukan menjadi alasan utama sebuah karya dipamerkan. Setiap karya tetap melalui proses kurasi dan seleksi berdasarkan kualitas.

“Ketika kita mengkurasi, kita juga bukan melihat, oh ini karena disabilitas kita ikutkan. Kita juga melalui proses seleksi. Kita betul-betul melihat kualitas karya itu,” tegasnya.

Baca Juga: Dari Bekasi ke Barcelona: Ibra, 11 Tahun, Terpilih Berlatih di Markas Barça

Hal tersebut menjadi bagian dari pesan kesetaraan yang ingin dibangun melalui festival. Seni tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga menjadi sarana untuk menunjukkan kemampuan, imajinasi, dan gagasan para seniman disabilitas kepada publik.

Salah seorang pengunjung, Novita Wanda Sari, 20, mengaku mengetahui pameran tersebut dari temannya dan Instagram. Ia tertarik melihat karya-karya yang dipamerkan, termasuk salah satu karya di bagian depan ruang pameran yang menggunakan teknik acrylic on canvas.

“Seru banget, jadi tahu karena teman-teman disabilitas juga punya kemampuan yang patut diapresiasi. Bagus-bagus semua karyanya,” kata Novita.

Baca Juga: Bukan Sekadar Teori, Mahasiswa USD Belajar Kelola Podcast Kebudayaan di Balai Budaya Minomartani

Budi berharap Suluh Sumurup Art Festival dapat terus berlanjut dan semakin banyak melibatkan seniman dari luar Jawa. Menurutnya, keberlanjutan festival penting karena ruang bagi seniman disabilitas untuk berpameran masih terbatas di sejumlah daerah.

Ia juga berharap publik dapat melihat penyandang disabilitas secara lebih utuh, bukan hanya dari keterbatasannya.

“Bagi yang nondisabilitas juga mereka bisa mengubah cara pandang tentang teman-teman penyandang disabilitas, bahwa mereka ini juga sangat kreatif, mereka punya imajinasi, mereka punya aspirasi, mereka punya gagasan yang sebenarnya sama, setara,” tuturnya.

Baca Juga: Penyokong Malaysia Protes Tambahan Waktu Jadi 7 Menit, Indonesia Juga Pernah Protes Hal Yang Sama

Ke depan, Budi berharap semakin banyak kolaborasi antara seniman disabilitas dan nondisabilitas. Menurutnya, seni dapat menjadi bahasa universal untuk membuka ruang perjumpaan dan membangun pandangan masyarakat yang lebih inklusif.

“Semoga seni disabilitas atau disability art ini semakin punya tempat dalam skena seni di Indonesia,” pungkasnya.

Abelia Nababan

Editor : Heru Pratomo
suluh sumurup Art festival seniman disabilitas penyandang disabilitas Instagram