YOGYAKARTA - Ribuan peserta membatik bersama di sepanjanga jalan Malioboro, Sabtu (3/10). Di tengah gelaran Simfoni 1001 Pembatik, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengenalkan sekaligus melestarikan batik asli Indonesia.
Salah satunya terlihat dari keikutsertaan Fransiska Setya Almania 17, remaja asal Solo. Ia datang ke Kota Jogja setelah mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan membatik bersama 1.001 peserta.
Fransiska mengaku sudah tertarik dengan kegiatan membatik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman tersebut membuatnya senang ketika mendapat kesempatan kembali membatik dalam kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Batik Nasional dan HUT ke-270 Kota Jogja itu.
Baca Juga: 16 Kalurahan Ganti Pemimpin, 10 Petahana Tumban, Pilur Bantul Juga Diwarnai Persaingan Pasutri
“Pastinya senang banget karena jauh-jauh ke sini untuk batik bersama teman-teman 1.001 para pembatik,” ujarnya.
Menurut Fransiska, kegiatan membatik bersama seperti itu perlu terus digelar. Selain memberikan pengalaman langsung, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal batik lebih dekat.
“Semoga kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan pada saat ini saja, tapi ke depannya bisa terus dilaksanakan. Semoga generasi muda seperti saya mau mencintai batik dan mau melestarikan batik,” katanya.
Baca Juga: Sosok Adyatma, Mahasiswa Undip yang Tewas Tertemper KA Kalimas di Semarang
Pengalaman serupa dirasakan Suci Hendry, 42. Peserta dari Organisasi Istri Angkatan Udara tersebut mengaku baru belajar membatik secara sederhana. Dari pengalaman itu, ia semakin memahami bahwa proses membuat batik tulis membutuhkan ketelitian dan tidak mudah.
“Senang banget bisa menjadi bagian dari kegiatan ini. Kita bisa ikut serta melestarikan batik,” ujarnya.
Menurut Suci, pengalaman membatik secara langsung membuat masyarakat dapat lebih menghargai proses di balik pembuatan batik.
Baca Juga: Gangguan Eskalator di Stasiun Duri Jakarta, 12 Penumpang Mengalami Luka-Luka
Karena itu, generasi muda dinilai perlu mengenal proses tersebut agar tidak hanya menggunakan batik, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Generasi muda juga harus ikut serta, misalnya biar tahu bagaimana caranya membuat batik,” katanya.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Emy Suryandani mengatakan, generasi muda memiliki peran penting dalam keberlangsungan batik Indonesia.
Menurutnya, batik tidak sekadar kain bermotif. Di dalamnya terdapat filosofi, sejarah, kreativitas, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Baca Juga: Densus 88 Geledah Dua Rumah Kontrakan di Klaten, Tablet hingga Buku Diamankan
“Batik bukan sekadar kain, tapi filosofi yang ada di dalamnya. Ini adalah warisan budaya yang mengandung nilai sejarah, kreativitas, dan kearifan lokal,” tuturnya saat membuka Simfoni 1001 Pembatik.
Emy juga mengingatkan pentingnya mengenalkan batik asli Indonesia kepada generasi muda, termasuk memahami proses pembuatannya. Menurutnya, pelestarian batik tidak cukup hanya dengan mengenakan kain bermotif batik, tetapi juga perlu dibarengi pemahaman terhadap nilai dan proses pembuatannya.
“Semoga Simfoni 1001 Pembatik tidak berhenti pada kegiatan hari ini, akan tetapi menjadi momentum bagi kita semua untuk mengenal dan melestarikan batik Indonesia,” tegasnya.
Baca Juga: Nenek Painah 85 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Laguna Pantai Trisik Kulon Progo
Ketua Dewan Pengarah Panitia 1001 Pembatik sekaligus Wakil Ketua Koordinator 2 Kadin DIY Gunarta Adibrata mengatakan, kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk pelestarian budaya, edukasi generasi muda, penguatan wisata budaya, pemberdayaan UKM, dan ekonomi kreatif.
Keterlibatan pelajar, ASN, TNI, Polri, pelaku batik, pelaku UMKM, komunitas batik, hingga masyarakat umum diharapkan dapat memperluas partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan batik.
Gunarta berharap Simfoni 1001 Pembatik dapat berkembang menjadi agenda budaya dan pariwisata tahunan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Editor : Heru Pratomo