SLEMAN – Komitmen Muhammadiyah dalam pemberdayaan kelompok marginal bukan sekadar slogan. Melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, komunitas difabel yang tergabung dalam Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) sukses melahirkan produk unggulan bernama Telur Moe.
Hebatnya, peternakan Telur Moe Farm ini telah mengantongi sertifikasi Humane Farm Animal Care (HFAC), sebuah standar kesejahteraan hewan (animal welfare) bergengsi dari Amerika Serikat.
Baca Juga: Resmi Berlaku! Perbup Nomor 43 Tahun 2025, Toko Swalayan di Kulon Progo Haram Pakai Kantong Plastik
Guna memperluas dampak ekonomi, MPM resmi meluncurkan Kickoff Program Kemitraan: Peningkatan Ekonomi Berbasis Inklusi melalui Pengembangan Ternak Ayam Petelur Sehat, Rabu (31/12). Program ini menggandeng Lazismu dan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa).
Penggagas peternakan, Arya Khoirul menceritakan, pendampingan terhadap Jatam Difabel dimulai benar-benar dari titik nol. Awalnya, para anggota komunitas ini tidak memiliki latar belakang sebagai peternak, apalagi memahami standar telur sehat.
"Untuk menyandang label Humane Certified, peternakan kami tidak menggunakan kandang baterai yang sempit. Ayam dipelihara dengan sistem cage-free atau pasture-raised (umbaran)," jelas Arya.
Dengan metode ini, ayam mendapatkan ruang gerak yang cukup, pakan berkualitas, dan lingkungan aman. Hasilnya, telur yang dihasilkan memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dan kualitas yang terjaga berkat traceability (ketertelusuran) produk yang baik.
Arya menambahkan, dalam dunia peternakan ayam petelur terdapat empat tingkatan sistem pemeliharaan. Jatam langsung melompat ke tingkat keempat, yakni standar tertinggi yang mengedepankan kualitas fungsional dan kesejahteraan hewan.
"Alhamdulillah, meski menggunakan standar free range, produktivitas ayam di usia 100 minggu masih di atas 83 persen. Padahal secara guideline umum, biasanya sudah turun ke angka 60 persen," ungkapnya bangga.
Baca Juga: Liburan Berubah Maut, Kapal Pinisi Tenggelam di Labuan Bajo, Satu Keluarga Turis Spanyol Hilang
Berkat kesungguhan para difabel dan sentuhan teknologi, populasi ayam kini ditargetkan naik 300 persen, dari 300 ekor menjadi 1.000 ekor. Kandang yang digunakan pun tetap mengacu pada standar NKV (Nomor Kontrol Veteriner).
Ketua MPM PP Muhammadiyah, Nurul Yamin, menegaskan bahwa seluruh fasilitas peternakan dibangun dengan prinsip ramah difabel. Hal ini dilakukan agar para difabel bisa mandiri secara ekonomi tanpa hambatan fisik.
Baca Juga: Revitalisasi Simpang Lima Boyolali Belum Kelar 100 Persen, Kontraktor Dibayangi Denda Sangat Besar
"Kursi roda bisa masuk ke kandang, mereka bisa memberi makan sendiri. Ini menciptakan aktor ekonomi baru dari komunitas difabel, mengurangi ketergantungan, dan mewujudkan spirit kemandirian," terang Yamin.
Melalui pengembangan ini, Yamin berharap kelompok yang selama ini termarjinalkan mendapatkan ruang ekspresi ekonomi yang layak dan berkelanjutan.
Editor : Heru Pratomo