Kenaikan harga emas yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar fenomena pasar biasa. Bahkan kenaikan emas antam per hari ini, Kamis (29/1) mencapai rekor tertingginya dengan mengalami kenaikan sebesar Rp 165.000.
Menurut Dr. Ayif Fathurrahman, S.E., S.E.I., M.Si., dosen Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), lonjakan harga emas justru menjadi penanda awal (early warning system) bahwa kondisi ekonomi global tengah berada dalam fase ketidakpastian serius.
Hal tersebut disampaikan Ayif dalam wawancara yang berlangsung di Ruang Dekanat FEB UMY, Kamis (29/1).
Ia menjelaskan, dalam perspektif ekonomi, naiknya harga emas berkorelasi erat dengan melemahnya kepercayaan terhadap instrumen keuangan konvensional, khususnya bunga dan mata uang global.
“Selama ini orang lebih memilih bunga. Tapi hari ini bunga global fluktuatif dan cenderung rendah karena ekonomi Amerika Serikat juga tidak sedang baik-baik saja. Ketika bunga tak lagi menarik, orang mencari aset paling aman, dan emas selalu menjadi pilihan,” jelasnya.
Dalam teori ekonomi, emas dikenal sebagai safe haven asset , yakni instrumen yang cenderung dicari investor saat kondisi ekonomi dan geopolitik tidak stabil. Ayif menilai, meningkatnya permintaan emas saat ini dipicu oleh tiga faktor utama.
Faktor pertama adalah ketidakpastian ekonomi global pasca-COVID-19, yang diperparah oleh konflik geopolitik seperti perang Rusia–Ukraina, konflik Israel–Palestina, hingga meningkatnya ketegangan antarnegara besar.
Faktor kedua adalah penurunan daya beli masyarakat dan tekanan inflasi, yang membuat menyimpan uang di bank tidak lagi mampu melindungi nilai kekayaan. Faktor ketiga adalah kekhawatiran terhadap dominasi dolar AS sebagai mata uang global.
“Ketika dunia takut pada dolar, yuan, atau mata uang lain karena konflik geopolitik, maka emas menjadi rasionalitas ekonomi yang paling logis,” ungkapnya.
Namun demikian, Ayif mengingatkan bahwa kenaikan harga emas juga memiliki implikasi makroekonomi. Jika terlalu banyak dana masyarakat terserap ke emas, perputaran uang di sektor riil dapat melambat, yang berpotensi berdampak pada peningkatan pengangguran dan kemiskinan.
“Masalahnya bukan emasnya yang naik. Justru emas naik karena ekonomi sedang bermasalah. Pemerintah jangan sibuk menurunkan harga emas, tapi fokus mengatasi akar inflasi dan ketergantungan impor,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya intervensi strategis pemerintah, terutama dalam memperkuat swasembada pangan dan energi, agar ekonomi nasional lebih tahan terhadap guncangan geopolitik global.
Editor : Heru Pratomo