Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Listrik dan Bensin Jadi 'Biang Kerok' Inflasi DIY Maret 2026, Tembus 4,08 Persen

Heru Pratomo • Selasa, 7 April 2026 | 20:06 WIB
MELINTANG: Kabel listrik di Kota Jogja akhir Agustus lalu. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
MELINTANG: Kabel listrik di Kota Jogja akhir Agustus lalu. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

 

YOGYAKARTA – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat pergerakan harga yang cukup signifikan pada Maret 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DIY, inflasi bulan ke bulan (month-to-month/m-to-m) tercatat sebesar 0,45 persen, sementara inflasi tahun ke tahun (year-on-year/y-on-y) menyentuh angka 4,08 persen.

Adapun inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) atau akumulasi sejak Januari hingga Maret 2026 berada di angka 0,97 persen.

Pendorong Bulanan: Makanan dan Transportasi

Secara bulanan, kenaikan harga pada Maret 2026 dipicu oleh tiga kelompok pengeluaran utama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong terbesar yang mencerminkan kenaikan harga bahan pangan di tingkat rumah tangga.

Baca Juga: Diduga Depresi soal Sekolah dan PKL, Pelajar di Tasikmadu Karanganyar Nekat Akhiri Hidup

Tekanan serupa datang dari sektor transportasi seiring fluktuasi harga bahan bakar dan tarif angkutan. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menyumbang andil inflasi akibat meningkatnya permintaan layanan tersebut.

Berdasarkan komoditasnya, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar secara bulanan. Diikuti oleh daging ayam ras, emas perhiasan, bayam, dan tomat. Kenaikan harga bensin mencerminkan tekanan dari sisi energi, sementara melonjaknya harga daging ayam dipicu oleh tingginya permintaan pasar.

Di sisi lain, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi. Hal ini mengindikasikan persaingan tarif telekomunikasi masih memberikan keuntungan bagi konsumen di DIY.

Inflasi Tahunan: Listrik dan Beras Mendominasi

Baca Juga: Pengoplosan Gas Elpiji 3 Kg di Jumantono Digerebek Polres Karanganyar, Omzet Rp 750 Juta Per Bulan

Jika melihat potret satu tahun terakhir, inflasi y-on-y sebesar 4,08 persen didominasi oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, selain kelompok makanan. Kenaikan tarif energi, khususnya listrik, memberikan kontribusi paling signifikan terhadap laju inflasi tahunan di DIY.

Komoditas emas perhiasan juga terus merangkak naik mengikuti tren harga global. Sedangkan pada sektor pangan, beras mengalami tekanan akibat ketatnya pasokan domestik, disusul daging ayam ras dan buncis yang harganya fluktuatif akibat pengaruh musim hortikultura.

Gunungkidul vs Kota Jogja

Dua wilayah pemantauan inflasi di DIY menunjukkan pola yang kontras. Pada Maret 2026, Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi bulanan lebih tinggi yakni 0,55 persen, dibandingkan Kota Yogyakarta yang hanya 0,33 persen. Hal ini menunjukkan adanya tekanan harga jangka pendek yang lebih kuat di wilayah selatan DIY tersebut.

Baca Juga: Ada Dugaan Window Dressing Rp 16 M, DPRD Kulon Progo Minta BPKP Audit PT.SAK

Namun secara tahunan, Kota Yogyakarta justru memimpin dengan inflasi mencapai 4,19 persen, sementara Gunungkidul berada di angka 3,98 persen. Perbedaan ini mencerminkan dinamika konsumsi dan permintaan di pusat kota yang cenderung lebih tinggi secara kumulatif dibandingkan daerah penyangga.

Meskipun terdapat kenaikan di beberapa sektor, BPS menilai inflasi tahun kalender sebesar 0,97 persen menunjukkan bahwa tekanan harga di kuartal pertama 2026 ini secara umum masih berada pada level yang terkendali.

Editor : Heru Pratomo
#bensin #bps #Inflasi #Gunungkidul #listrik