YOGYAKARTA — ASEAN merupakan salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia yang didukung oleh total penduduk lebih dari 687 juta jiwa. Melalui integrasi digital, kawasan ini berkembang pesat menjadi wilayah strategis bagi perdagangan dan jalur ekonomi global. Namun, ketegangan geopolitik yang terjadi akhir-akhir ini memicu kompleksitas lingkungan global sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan.
"Pembuat kebijakan harus duduk bersama untuk memahami lebih dalam strategi ASEAN dalam mempertahankan momentum di tengah kondisi ketidakpastian global," ujar Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Prof. Didi Achjari, dalam “Seminar on ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy” di Kampus FEB UGM, Selasa (26/5).
Seminar ini menghadirkan jajaran pembicara dan panelis dari ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), Bank Indonesia (BI), serta ekonom FEB UGM.
Baca Juga: DPKP DIY Lirik Potensi Green House hingga Mal Pertanian untuk Dikembangkan di Jogja Agro Park
Dalam presentasi bertajuk Global Uncertainty and Regional Economic Integration, Ekonom Senior AMRO, Catharine Ho, menyampaikan bahwa kondisi ekonomi ASEAN+3 pada tahun 2026 diproyeksikan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan kawasan ini dinilai tangguh meskipun menghadapi tekanan kebijakan tarif global.
“Pertumbuhan ekonomi ASEAN+3 tetap melampaui ekspektasi meskipun terjadi guncangan tarif. Kondisi ini didukung oleh rendahnya tarif efektif serta meningkatnya permintaan ekspor semikonduktor berbasis kecerdasan buatan (AI),” jelas Catharine.
Stabilitas ini ditopang oleh beberapa faktor kunci:
-
Konsumsi Domestik yang Kuat: Daya beli masyarakat tetap terjaga berkat kondisi pasar tenaga kerja yang baik dan inflasi yang relatif rendah.
-
Arus Modal Asing: Peningkatan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) turut memperkuat pertumbuhan kawasan.
-
Penyangga Krisis: Hubungan perdagangan dan investasi intra-kawasan yang semakin erat menjadi bantalan penting dalam menghadapi guncangan eksternal.
Baca Juga: Kalah Start dari Negara Non-Muslim, RI Baru Kuasai 4 Persen Pasar Ekspor Halal OKI
Meski begitu, Catharine mengingatkan adanya risiko penurunan keseimbangan akibat ketidakstabilan di Timur Tengah yang menjaga harga energi tetap tinggi. "Berdasarkan penelitian, dampak rambatan dari konflik ini bisa membuat ekonomi dunia tumbuh 4% lebih lambat disertai tren peningkatan inflasi," tambahnya.
Hubungan ekonomi di kawasan ASEAN+3 kini mengalami transformasi besar. Kawasan yang dulunya dikenal sebagai "pabrik dunia" yang berorientasi ke pasar global, kini bergeser menjadi jaringan produksi yang saling terhubung di dalam kawasan sendiri.
Rantai pasok regional kini semakin terintegrasi dengan pembagian peran yang strategis:
-
China berperan sebagai pusat produksi utama.
-
Jepang dan Korea Selatan berfokus menyuplai komponen berteknologi tinggi.
-
Negara-negara ASEAN berkembang sebagai basis manufaktur dan layanan digital bernilai menengah.
Baca Juga: Wow, Puluhan Balon Udara Hiasi Langit Candi Ngawen: Jadi Magnet Wisata Waisak 2570 BE dalam BPF 2026
Bagi Indonesia, posisi ASEAN+3 sangat krusial karena merupakan mitra dagang terbesar dan sumber permintaan utama. Namun, Catharine mengingatkan bahwa semakin dalam integrasi kawasan, semakin besar pula risiko dampak krisis yang dapat menyebar cepat antarnegara (contagion effect). Oleh karena itu, ASEAN perlu memperkuat investasi intra-kawasan dan meningkatkan kualitas SDM agar tetap kompetitif.
Ekonom UGM, Denni Puspa Purbasari, Ph.D., menilai tantangan ekonomi saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Perubahan yang terjadi bukan lagi sekadar siklus ekonomi biasa (seperti naik-turun suku bunga), melainkan pergeseran struktural.
“Dulu model ekonomi kita bertumpu pada globalisasi, inovasi, biaya produksi rendah, dan permintaan global yang stabil. Sekarang situasinya berbeda. Kita menghadapi fragmentasi, persaingan strategis antarnegara, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi,” urai Denni.
Denni menyoroti bahwa strategi pembangunan Indonesia harus lebih adaptif dan inklusif. Ia mengungkapkan adanya ketimpangan distribusi pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari anomali data domestik.
-
Anomali Konsumsi: Konsumsi masyarakat tercatat tumbuh hingga 5,5 persen, namun kenaikan pendapatan pekerja hanya berada di angka 2,2 persen.
-
Risiko Utang: Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian masyarakat mengandalkan pinjaman (utang) untuk mempertahankan daya beli, yang dapat menjadi jebakan berbahaya dalam jangka panjang.
Di sektor fiskal, Denni mengingatkan pemerintah untuk menjaga keberlanjutan anggaran dengan mengimbangi besarnya belanja negara lewat peningkatan penerimaan negara. Selain itu, ia juga mengkritik kualitas FDI di dalam negeri.
“Tantangan Indonesia saat ini bukan sekadar menarik investasi asing, tetapi bagaimana memastikan investasi tersebut mampu meningkatkan produktivitas dan kapasitas industri nasional secara nyata,” pungkasnya. (NF)
Editor : Heru Pratomo