KULON PROGO - Pemkab Kulon Progo mengupayakan penyediaan lapangan kerja melalui kegiatan job fair, seperti yang diadakan tahun ini di Taman Budaya Kulon Progo, Selasa (23/6). Pencari kerja (pencaker) asal Kulon Progo memiliki kecenderungan untuk mencari pekerjaan ke luar daerah. Terutama di kota dengan sektor industri, biasanya Batam hingga luar negeri.
Salah seorang pencaker Setianingsih asal Kokap mengaku, sengaja mendatangi job fair bersama adiknya untuk mencari pekerjaan di luar DIJ. Pertimbangannya berkaitan dengan gaji, dan utamanya perihal pengalaman. "Intinya mencari pengalaman merantau ke luar daerah, seperti Batam," ungkapnya.
Keputusan merantau ke kota lain mempertimbangkan iklim kerja yang sesuai dengan keinginannya. Di samping itu, jenjang karir di perusahaan besar yang mayoritasnya di luar DIJ lebih terjamin. Sehingga, bekerja ke luar daerah memiliki tujuan jelas, mulai dari karir hingga kesejahteraan.
Kepala Disnaker Kulon Progo Bambang Sutrisno mengatakan, pencaker beberapa tahun terakhir didominasi Gen-Z memiliki pola pemikiran yang berbeda. Generasi Z yang akrab dengan teknologi, cenderung memilih pekerjaan remote. Kondisi disebut sebagai fenomena pergeseran ekspektasi kerja.
"Ini ada pergeseran pada pencaker, mencari kerja yang remote dapat dikerjakan di mana saja, padahal butuh kualifikasi tinggi," ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Bamsut itu turut menyanggah, pekerjaan remote biasanya memiliki kualifikasi atau syarat pencaker yang tinggi. Mulai dari keterampilan mumpuni hingga bahasa. Hal inilah yang belum dicapai oleh depnaker Kulon Progo.
Bamsut menambahkan, fenomena lain pencaker mengincar kerja di luar DIJ. Penyebabnya upah pekerja di luar daerah bisa mencapai Rp 5 juta, berbeda jauh dengan di Kulon Progo yang sebesar Rp 2,5 juta.
Upah yang diregulasi oleh UMK dan UMP ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pekerja. Lantaran, pekerja dengan niatan merantau sedari awal akan berorientasi untuk kehidupan yang layak.
Pria penghobi sepeda ini menceritakan, tingginya minat pekerja untuk bekerja di luar daerah. Penyaluran pekerja keluar daerah biasanya dilakukan oleh sekolah kejuruhan, melalui Bursa Kerja Khusus (BKK). Mereka biasanya telah bekerja sama dengan perusahaan di Jabodetabek, hingga luar pulau.
Baca Juga: Asal-usul Nama Sate Klathak Pak Pong: Berawal dari Julukan Masa Kecil yang Suka "Molor"
Selain pekerja ke luar daerah, tingginya minat pencaker juga terlihat pada pekerjaan di luar negeri. Data Disnaker hingga Mei 2026 menunjukkan, tenaga kerja asal Kulon Progo terserap menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) sebanyak 210 orang.
Mereka terserap sebagai pekerja di Malaysia, Korea Selatan, hingga Jepang. "Gaji disana kan lebih tinggi, sektor pertanian Korea Selatan misalnya upahnya mencapai Rp 30 juta," ungkapnya.
Menurutnya, terjadi kenaikan jumlah minat pekerja ke luar negeri. Hal ini ditunjukkan dengan perbandingan data di tahun 2024, pekerja Kulon Progo yang keluar negeri hanya sejumlah 198 orang. Lagi-lagi, fenomena ini dipengaruhi oleh iming-iming gaji. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo